| Senin, 08 Februari 2010 10:01 | Lima Agama Ikut Doakan Gus Dur |
|
Secara bergantian, kelima tokoh agama (Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu) itu diberi kesempatan ikut memanjatkan doa kepada almarhum Gus Dur. "Tidak usah khawatir, Tuhan tidak akan bingung hanya karena didoakan macam-macam agama, Tuhan juga tahu Gus Dur masuk surganya lewat tol atau jalur lambat," ujar Ketua Panitia Peringatan 40 hari Gus Dur Al Zastrouw, sebelum mempersilahkan para tokoh lintas agama. Sejak sore ribuan peserta peringatan sudah memadati komplek Pondok Pesantren Al Munawaroh, tempat kediaman Gus Dur. Menjelang maghrib, komplek Pondok Pesantren Al Munawaroh, tempat kediaman Gus Dur. Mereka tidak hanya dari Jabodetabek, para peserta peringatan 40 hari di Ciganjur juga ada yang datang dari Tasikmlaya, Cirebon, bahkan beberapa kota di Jawa Tengah. Acara peringatan meninggalnya presiden ke-4 RI dibuka dengan pembacaan tahlil yang dipimpin Ketua PB NU KH Said Agil Siradj. Beberapa tokoh yang tampak hadir antara lain, anggota BPK Ali Masykur Musa, intelektual muda NU Ulil Abshar Abdalla, dan beberapa kiai dan tokoh NU lainnya. Putri kedua Gus Dur Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid), dalam sambutanya mewakili keluarga, menyampaikan rasa terimakasih mendalam kepada semua tokoh dan masyarakat yang ikut mendoakan ayahandanya. "Doa seluruh masyarakat Indonesia ini juga telah dilengkapi dengan doa para tokoh dunia, mulai dari tokoh Islam hingga pemimpin Katolik Paus di Roma," kata Yenny, mengawali. Pada sambutan singkatnya tersebut Yenny lebih banyak mengingatkan soal sumbangsih dan jasa Gus Dur yang pantas menjadi inspirasi semua orang. Diantaranya, soal semangat membela dan melindungi kaum tertindas. "Tidak ada yang ditakuti Gus Dur dalam berjuang, beliau hanya takut dengan murka Allah," tandasnya. Terkait PKB yang sepeningal Gus Dur masih diliputi persoalan hingga kini, Yenny tak menyinggungnya sama sekali. Dia hanya berjanji akan meneruskan semangat perjuangan yang telah diperjuangkan Gus Dur selama ini. "Kita harus teruskan semua perjuangan Gus Dur demi Indonesia yang lebih baik," tegasnya. Di pihak keluarga, selain Yenny, istri almarhum Sinta Nuriyah dan putrid ketiga Anita Hayatunufus ikut dalam peringatan di Ciganjur. Sedangkan putrid Sulung Alissa dan putrid bungsu inayah mengikuti peringatan di Jombang. 35 Ribu Peziarah Padati Tebu IrengPuluhan ribu orang memenuhi Ponpes Tebu Ireng untuk berziarah ke makam KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Mereka datang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia untuk berziarah sekaligus akan menghadiri tahlil hari ke 40 wafatnya Gus Dur. Pengalihan sejumlah arus lalu lintas dilakukan. Sejumlah kyai terkenal dan pejabat rencananya juga akan datang. Sejak subuh kemarin (07/02), peziarah perlahan-lahan berdatangan di Jombang. Mereka mengalirkan diri ke arah Ponpes Tebu Ireng yang berada di Kecamatan Diwek Jombang. Makin bertambah jumlah jam, makin banyak peziarah yang datang. Oleh pihak ponpes Tebu Ireng, jumlah peziarah akan mencapai 35 ribu orang. Ketua Pengurus Pondok Pesantren Tebu Ireng Lukman Hakim mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan segala perlengkapan dan penataan yang dibutuhkan menyambut tahlil yang akan dilaksanakan sekitar pukul 19.00. "Persiapan sudah sekitar 90%," katanya saat ditemui di sela-sela persiapan. Persiapan yang dimaksud, termasuk persiapan konsumsi yang akan diberikan kepada masyarakt yang hadir kala tahlil. "35 ribu snack rencananya akan dibagikan," ujar Lukman. Di sekitar makam, telah dilakukan pembersihan dan sterilisasi. Para peziarah umum dilarang untuk mendekat lokasi makam. Pembatasan tersebut diwujudkan dengan pemberian pagar dari tali- tali yang di lingkarkan di sekitar makam. Juga, pada pendopo makam, yang pada hari-hari biasa bisa dugunakan peziarah, kini disterilisasi. Sejumlah tenda dan kursi telah dipasang dan dipersiapkan di dalam areal pondok. Konsentrasi tenda ditempatkan di dekat makam. Sementara kursi, ditempatkan di lapangan dan daerah dengan pemukiman santri ponpes Tebu Ireng. Sementara itu, untuk membendung kemacetan dan penumpukan kendaraan, kepolisian Jombang telah membentuk sistem pengalihan arus. Lalu lintas menuju Tebu Ireng dari arah utara, perempatan stasiun, mulai dilakukan pemisahan. Pemisahan dilakukan bagi pengendara selain peziarah akan dialihkan menuju jalur lain. Pun juga di pertigaan Diwek dan Ceweng. Petugas dari gabungan antara Polres Jombang, Polres Mojokerto dan Polres Nganjuk, bersiaga di beberapa titik sekitar wilayah Diwek. Sebelumnya, Kasatlantas Polres Jombang AKP Ari Wibowo, menjelaskan, total personil yang diturunkan sekitar 700 personel. Beberapa lahan parkir pun disediakan untuk menampung kendaraan peziarah yang datang. "Ada tujuh titik lahan parkir yang disiapkan," ujar Kasantlantas yang baru menggantikan Kasatlantas yang lama AKP Heru Sucahyo. Untuk pengamanan di dalam pondok, telah dipersiapkan Banser. "Seperti pada hari ke tujuh lalu, kami koordinasi dengan banser untuk pengamanan," kata Lukman Hakim. Banser, lanjut Lukman, akan bertugas mengatur, jemaah tahlil yang datang. Sementara itu, semangat pluralisme yang diusung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memang berdampak besar atas terjalinnya kerukunan antarumat beragama. Presiden ke-4 RI itu dinilai telah berhasil membawa angin positif bagi sinergitas umat bernuansa pluralis. Pemikiran Gus Dur dianggap tak pernah padam bahkan terus menyala. Demikian pesan itu pesan yang disampaikan saat lintas agama mengenang sekaligus menggelar 40 hari meninggalnya Gus Dur di tempat ibadah Klenteng Hok Sian Kiong, Sabtu (7/2) malam. Yang hadir diantaranya dari perwakilan umat Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan Konghucu. "Bagi kami Gus Dur tidak mati (habis, Red), meski sudah meninggal tapi masih bersama kami membangun kebersamaan," ungkap tokoh Kristen, Simon Filantropa. Acara khusus mengenang sosok Ketua PB NU itu selain dihadiri oleh sekitar 800 orang masyarakat lintas agama, juga ditampilkan kesenian antarkeyakinan dan budaya. Dari mulai puisi, pembacaan Salawat Badar, penyajian film dokumenter, doa bersama hingga penyampaian pesan dan kesan terhadap sosok Gus Dur. Dengan tampilan panggung khas Klenteng, pesan dan kesan oleh masing-masing tokoh agama dilakukan secara bergantian. Simon menuturkan, masyarakat berbagai agama dan keyakinan saat ini dirasa tidak terbenani oleh predikat Gus Dur yang banyak diusulkan supaya menjadi salah satu pahlawan nasional. Sebaliknya, perjuangan dan pemikiran cucu KH Hasyim Asy?ari itu yang kudu diutamakan. Seperti mampu menjadi tokoh pluralis, multikuluturalis dan demokratis. "Beliau (Gus Dur, Red) adalah sosok guru bangsa bagi kami. Makanya masyarakat sekarang tidak pusing Gus Dur mau dijadikan pahlawan atau tidak. Tapi yang penting adalah bagimana melanjutkan perjuangan dan pemikirannya," terang Ketua GKI Jatim itu didampingi tokoh Katolik, Romo Tomas Aquino Joko Nugroho. Selain memamerkan penampilan seni, perwakilan Islam yang diwakili KH Abdul Aziz dan Saiful Amin Sholihin dari Ansor Kota Mojokerto juga mengurai nasab keturunan KH Hasyim Asy’ari selaku pendiri nahdlatul ulama (NU) sejak dari darah Rasulullah atau Nabi Muhammad. Keluarga Gus Dur juga berasal dari Cina yang memeluk agama Islam. Perwakilan tokoh umat Budha, Bante YM Dhamma Vijdayo mengungkapkan, semasa hidupnya Gus Dur bukan saja bagian dari guru bangsa Indonesia, tapi memiliki peran penting sebagai tokoh dunia dari Indonesia. Dia menyebut Gus Dur itu telah dinilai mampu menyatukan pandangan dari berbagai umat dan budaya. "Yang bisa dipetik dari pemikiran beliau adalah jika manusia berpisah (bercerai berai, Red) tidak akan memberikan kekuatan. Artinya suku, budaya dan agama dipandang sama," terangnya. Dengan demikian, agar pemikiran dan perjuangan Gus Dur terus menyala, dia berharap kepada semua penganut berbagai keyakinan segera meninggalkan ucapan dan perbuatan jahat. Sebab, jika hal itu dapat dilakukan, dia meyakini kemamuran, kedamaian dan kebaikan bakal terwujud di Indonesia. "Tergantung mau melakukan perilaku yang mana," tukasnya. Kegiatan yang diketuai Gde Sidarta Putra dari perwakilan masyarakat Konghucu itu baru berakhir setelah semua tokoh agama berdoa bersama dengan melepas balon 40 Hari Gus Dur secara bersamaan. (ris/yr) |









JAKARTA - Peringatan 40 hari wafatnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilakukan pula di kediamannya, Ciganjur, Jakarta Selatan. Selain mengadakan tahlilan yang diikuti ribuan orang, doa lintas agama dan aliran kepercayaan juga turut dipanjatkan dari beberapa tokoh lintas agama yang ikut hadir.



Komentar Pembaca