Pesawat Jatuh, Wartawan Dianiaya

Rabu, 17 Oktober 2012 - 09:36:22 - Dibaca: 2327 kali

Google Plus Stumbleupon


PESAWAT JATUH : Pesawat milik TNI AU yang terbakar kemarin. Tampak Didik Herwanto Fotografer Riau Pos terbaring dan dicekik seorang letkol TNI AU.( JPNN)
PESAWAT JATUH : Pesawat milik TNI AU yang terbakar kemarin. Tampak Didik Herwanto Fotografer Riau Pos terbaring dan dicekik seorang letkol TNI AU.( JPNN) / Jambi Ekspres Online

DPR Kecam Aksi Tersebut

PEKANBARU - Satu unit pesawat Jenis Hawk 200 TT 0212 milik TNI AU yang diawaki oleh satu orang pilot jatuh di Jalan Amal RT02/RW03, Vila Pandau Jaya, Desa Pandau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau Selasa (16/10) pagi sekitar pukul 09.30 WIB, tepatnya tak jauh dari Panti Asuhan Yayasan Lembaga Bakti Muslim Indonesia (YLBMI) Riau. Saat jatuh, pesawat ini sempat berputar-putar dan meledak tiga kali. Beruntung pilot pesawat ini, Letnan Dua (Letda) Reza sempat keluar dengan kursi pelontar sesaat sebelum pesawatnya jatuh.

Kondisi pesawat yang jatuh di salah satu pekarangan rumah warga dan tak jauh dari Sekolah Dasar Swasta 022 Yapsin ini cukup parah. Api tampak berkobar dibarengi dengan asap yang membumbung. Perlu tiga unit mobil pemadam untuk mematikan api yang berkobar ini. Peristiwa ini sontak menjadi tontonan, apalagi, saat pesawat itu jatuh, anak-anak SD tersebut sedang menikmati waktu istirahat. Salah seorang siswa MTS YLBMI, Febri (14) yang melihat kejadian mengatakan, saat itu ia bersama teman-temannya yang lain melihat dua pesawat sedang bermanuver beriringan, hingga tiba-tiba pesawat yang berada dibelakang rusak dan berasap.

'Pesawat yang dibelakang berasap lalu berputar-putar dan jatuh,' jelasnya.

Saat akan jatuh itu, Kursi pelontar pilot pesawat ini sempat mengenai atap rumah warga, sementara pesawat meledak sekali di udara sebelum akhirnya meledak dua kali di darat. Api besar dan asap tampak membumbung setelah pesawat ini jatuh. Saat pesawat ini jatuh ringsek menyusur tanah, dua orang murid kelas 6 SDS 022 Yapsin YLBMI

terkena serpihan tanah dan batu yang tempat pesawat jatuh. Dua murid SD ini adalah Jeki (12) dan Salman (12). Jeki menderita luka memar di bagian lengan kiri dan Salman di perut. Dituturkan Jeki, saat ditemui Riau Pos di rumahnya, ketika peristiwa itu terjadi ia sedang berbelanja di kedai Upik, yang tak jauh dari lokasi. Tiba-tiba ia melihat pesawat jatuh dan mengeluarkan suara keras.

'Saya kira saya akan mati,' kata Jeki.  Jeki sendiri kemudian dijemput oleh kakeknya, Syamsul Bahri (62). Dikatakan Syamsul, ia menyesalkan sikap petugas TNI AU yang berada di sana.

'Pas saya jemput, ada orang AU itu. Saya bilang, ini cucu saya sakit. Dia datang, habis tu bekas memar anak saya diperiksa dan ditepuk-tepuk. Dia bilang, tak apa ini. Bawa pulang saja,' ungkapnya.

Sekitar 30 menit setelah kejadian, lokasi Jatuhnya pesawat ini kemudian dijaga oleh sekitar 50 personil dari Paskhas TNI AU dan PM Lanud. Proses pengamanan oleh anggota TNI yang datang ini terkesan berlebihan. Saat mereka akan mensterilkan areal yang mulai dipadati warga, beberapa wartawan dan warga sekitar yang mencoba mengabadikan gambar pesawat diusir secara paksa dan mengalami tindak kekerasan. Empat orang wartawan yakni Didik Herwanto fotografer Riau Pos, Robi, kameramen RTV, Ari, wartawan TV One, dan Rian, wartawan Antara mengalami penganiayaan dan pengeroyokan.

Didik yang saat mengambil gambar bangkai pesawat ketika lokasi itu belum dipasangi pembatas, dianiaya dan dicekik oleh Kadis Pers Lanud AU Pekanbaru, Letkol Robert Simanjuntak. Tanpa bisa melawan, ia yang sudah tersungkur ditanah, dicekik oleh perwira yang ukuran tubuhnya nyaris dua kali fotografer ini. Tangannya ditahan, dan dadanya dihantam menggunakan lutut kiri perwira ini dua kali. Bukan itu saja, dalam keadaan tak berdaya, Robert melayangkan satu pukulan ke arah telinga kiri Didik. Bahkan, penganiayaan ini dilakukan dengan ditonton puluhan murid sekolah dasar yang memenuhi lapangan di depan SDS 022 Yapsin.

'Tadi itu, banyak wartawan dan masyarakat yang mengambil foto, tiba-tiba salah satu wartawan dipukuli dan dikeroyok. Dia dilarang ambil foto. Jangan foto-foto, orang lagi musibah katanya. Kameranya juga diambil,' ujar Febri.

Selain menganiaya wartawan, aksi kekerasan personil TNI AU ini juga dialami beberapa warga. Ponsel milik warga yang akan memfoto beberapa diantaranya dirampas. 'Kalau mau ambil ke AURI,' ujar petugas yang mengambil seperti yang ditirukan salah seorang warga.

Salah satu warga yang mengalami luka cukup parah adalah Mancon Fernando, mahasiswa semester V, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Riau. Saat itu ia yang mencoba mengabadikan moment pesawat itu terbakar tiba-tiba dipukuli dan dikeroyok oleh lima orang anggota TNI AU.'Awalnya cuma mau mengabadikan foto, saya tak tahu kalau ngambil foto dilarang. Tiba-tiba saya dikeroyok oleh lima orang anggota AURI,' kata Mencon. Ia melanjutkan, selain dipukuli, handphone BlackBerry miliknya juga dirampas. Akibat pengeroyokan ini, ia mengalami luka robek pada bibir bagian atas dan bawah.

Setelah puluhan personil yang melakukan pengamanan hadir, areal di sekeliling bangkai pesawat selanjutnya dipasangi garis pengaman sejauh sekitar 50 meter dari lokasi jatuhnya pesawat. Sekitar pukul 11.00 WIB, beberapa orang dari mereka juga tampak menutup bangkai pesawat dengan terpal berwarna hijau tua.

Saat waktu beranjak siang, masyarakat yang penasaran ingin melihat bagaimana bentuk pesawat yang jatuh ini kian banyak saja. Bahkan, kumpulan masyarakat yang berduyun-duyun datang ini menyemut hingga memacetkan Jalan Pasir Putih. Kondisi sendiri mulai agak lengang ketika waktu menjelang sore. Hal inipun diikuti dengan diperkecilnya pembatas hingga hanya mengitari sekitar pekarangan rumah warga yang menjadi tempat jatuhnya pesawat.

Sekitar pukul 15.45 WIB, Panglima Komando Operasi I TNI AU, Marsekal Muda Bagus Purhito datang meninjau lokasi jatuhnya pesawat ini didampingi Danlanud TNI AU Pekanbaru, Kol Pnb Bowo Budiarto. Dibawah rintik hujan, ia melihat keadaan pesawat yang ditutupi terpal itu. Selain lokasi pesawat, Bagus juga datang melihat rumah warga yang sempat terkena kursi pelontar Hawk ini.

Kepada wartawan di lokasi ini, Bagus mengatakan, pesawat naas yang dipiloti Letda Reza ini take off dari Lanud sekitar pukul 08.56 WIB dalam rangka uji latihan rutin penerbangan. 'Pukul 09.40 WIB pesawat ini meledak dan jatuh,' jelasnya. Ia melanjutkan, pesawat ini dalam kondisi bagus, karena pesawat ini tergolong baru dengan tahun pembuatan 1996.

'Artinya kondisi pesawat layak terbang. Untuk cuaca juga cukup bagus,' lanjutnya. Saat ditanya mengenai apa penyebab jatuhnya pesawat ini, Bagus mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan. 'Ini akan diselidiki. Tim investigasi akan diturunkan,' ucapnya.

Bagus juga  menyampaikan permintaan maaf kepada wartawan yang menjadi korban penganiayaan dan pemukulan oleh anggota TNI AU di lokasi. 'Saya mohon maaf atas kejadian itu. Kasus ini akan kita tindaklanjuti, apapun itu pasti diproses,' ujarnya. Dikatakannya lagi, ia mengerti bahwa tugas jurnalis adalah untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas.'Dan kami petugas juga ingin TKP tidak terusik sampai penyelidikan selesai. Saat itu mungkin terjadi miskomunikasi,' paparnya.

Kecaman terhadap kekerasan kepada wartawan seketika mengalir. Termasuk, dari kalangan politisi. Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyatakan sangat menyesalkan terjadinya kekerasan. "Kekerasan terhadap wartawan adalah tindakan antidemokrasi dan membelakangi kebeberasan pers," tegas Anas. Hal senada juga disampaikan, anggota Komisi V DPR Arwani Thomafi. Menurut dia, atas nama apapun dan oleh siapapun, kekerasan terhadap lima wartawan dan dua warga sipil sama sekali tidak dibenarkan.

(ali/gus/rul/dyn)