Mahasiswa-Polisi Bentrok

Jumat, 19 Oktober 2012 - 09:40:15 - Dibaca: 2735 kali

Google Plus Stumbleupon


BENTROK : Bentrok antara Polisi dan Mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM)
BENTROK : Bentrok antara Polisi dan Mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) / Jambi Ekspres Online

                PAMULANG - Penolakan atas kedatangan Wakapolri Komjen Nanan Sukarna ke Universitas Pamulang (Unpam), Kecamatan Pamulang, Kota Tangsel oleh puluhan mahasiswa Kamis (18/10), berakhir rusuh. Dua mahasiswa dan lima anggota polisi terluka.

                Wakapolri mendatangi kampus yang berlokasi di Jalan Padjajaran, itu untuk mengisi kuliah umum bertema “Tugas dan Tanggung Jawab Polri”. Nanan tiba di lokasi sekira pukul 08.20 WIB. Setelah turun dari kendaraannya dan ingin memasuki auditorium kampus, langsung dihalangi sejumlah mahasiswa.

                Sempat terjadi aksi dorong-dorong mahasiswa dengan pengawal Wakapolri. Bahkan, salah seorang mahasiswa bernama Benekditus Mega Pradita terkena pukulan. Mahasiswa Fakultas Hukum semester VII berdarah pada bagian bibirnya. "Saya tidak tahu siapa yang pukul, Namun yang di depan tadi polisi semua,Oknum polisi itu yang memukul saya, Tak mungkin satpam kampus atau orang rektorat yang melakukannya, Saya tidak terima ini," ungkap Benediktus.

                Tak terima rekannya diperlakukan kasar, mahasiswa beralmamater biru muda ini melakukan aksi dorong. Bahkan, Nanan yang langsung menghadapi pendemo di barisan depan sempat terjengkang lantaran kena dorong oleh jumlah mahasiswa yang terus bertambah dalam melakukan aksi.

                Meskipun dapat dorongan dan hampir terjatuh, Nanan terus bertahan di barisan depan dan tetap menghadang dorongan para mahasiswa yang terus menyanyikan lagu Indonesia Raya dan memukulkan bambu panjang yang mereka bawa. Pihak rektorat maupun polisi pun hanya bisa melihat aksi tersebut. "Tidak ada polisi yang pukul-pukul. Saya ke sini dengan maksud baik. Tidak ada mahasiswa yang dipukul," kata Wakapolri.

                Ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju ruang auditorium kampus yang berjarak sekira 20 meter dari tempat parkir mobil. Keributan tak berlanjut, mahasiswa hanya berkumpul di teras kampus.

                Wakapolri memulai jadi pembicara sekira pukul 09.00 WIB. Tak dari setengah jam, Wakapolri meninggalkan auditorium. Dalam penjagaan ketat Wakapolri langsung menaiki mobil dan meninggalkan kampus. Setelah, Wakapolri meninggalkan kampus, mahasiswa kembali menggelar aksi. Aksi yang dilakukan di luar kampus ini mulai brutal. Mahasiswa mulai panas. Aksi dorong pun tak terhindari. Entah siapa yang memulai, mahasiswa mulai memukuli dengan bambu panjang dan ada yang menaiki mobil truk brimob dan mengambil tameng milik polisi. Ulah ini mengundang emosi sejumlah aparat.

                Langkah antisipatif dan pengamanan pun dilakukan. Tindakan polisi justru menyulut emosi balik mahasiwa dan mulai memukulkan bambunya. Bahkan, ada yang melemparkan batu ukuran sedang ke arah polisi.

                Situasi makin panas. Polisi yang jumlahnya kalah banyak, mundur. Mereka pun dilempari batu, botol dan bambu panjang. Petugas kemudian melarikan diri ke Mapolsek Metro Pamulang yang hanya berjarak 100 meter dari kampus. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba saja polisi dengan mempersenjatai diri dengan senjata gas air mata dan peluru karet menembaki mahasiswa. Bentrokan terjadi di luar kampus. Situasi makin tak terkendali. Mahasiswa masuk halaman kampus, suara tembakan masih terdengar. Gas air mata pun ditembakkan. Saat mahasiswa masuk kampus, polisi menggembok pagar gerbang utama kampus.    

                Tindakan polisi ini tidak membuat mahasiswa jera. Sebaliknya, mereka malah melakukan perlawanan. Setelah hampir setengah jam perang batu antara polisi dan mahasiswa. Tak berapa lama, dua unit kendaraan polisi datang dan langsung menembakkan gas air mata untuk membubarkan mahasiswa. Langkah tersebut berhasil. Mahasiswa memilih lari ke dalam gedung.

                Sementara, sebagian mahasiswa yang tak sempat lari ke kampus ditangkap dan diamankan ke Mapolsek Metro Pamulang. Terlihat tiga mahasiswa diseret dan ditendangi aparat kepolisian yang menenteng gas air mata dan tameng.

                Kondisi kian mencekam, petugas memblokir Jalan Raya Siliwangi, Padjajaran, dan Surya kencana. Arus lalu lintas macet dan dialihkan menuju perumahan Pamulang Permai.

                Aksi tak hanya berhenti di situ. Meski sudah dipukul mundur dan masuk kampus, mahasiswa terus melakukan pelemparan batu dari dalam kampus. Seakan tak mau kalah, polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet ke halaman kampus.

                Sekira pukul 11.00 WIB, Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Wahyu Hadiningrat datang ke lokasi. Kapolres yang berupaya menenangkan situasi dan menemui pihak rektorat, tidak bisa masuk kampus. Di saat yang sama, aksi lempar batu dan bentrokan masih terjadi. Tak ada keterangan resmi dari Kapolres. Sekira pukul 14.00 WIB, kerusuhan mulai agak mereda. Namun, situasi masih mencekam. Sekira pukul 14.20 WIB, situasi mulai terkendali. Arus lalu lintas pun berangsur normal.

                Informasi yang dihimpun, dalam bentrokan ini, sedikitnya lima polisi terluka dan tiga mahasiswa terluka. Dua di antaranya, dilarikan ke RSUD Kota Tangsel, yakni Ferry Irawan mahasiswa Fakultas Hukum dan Jundi Fajrin mahasiswa Fakultas Teknik. Ferry yang terkena tembakan bagian perut dilarikan ke instalasi gawat darurat (IGD). Begitu pun Jundi Fajrin yang mengalami muntah darah akibat terkena pukulan petugas.

                Sedangkan lima anggota polisi yang mengalami luka-luka adalah Aipda Syamsudin, Briptu Dedy, Briptu Sulikstio Wikyono, Brigadir Suryana (keempatnya dari Brimob Polres Metro Jakarta Selatan), dan

Aipda Supeno (anggota Polsek Metro Pamulang). Kelima polisi yang terluka dibawa ke RS Bina Usada, Pondok Cabe.

                Ditemui di IGD RSUD Kota Tangsel, rekan korban mahasiswa, Irawati mengatakan, karena luka yang dialaminya, Ferry dan Jundi harus dirawat intensif. Hingga pukul 15.00 WIB, penanganan medis kedua mahasiswa masih berlangsung. Dikatakan, selain mengalami luka serius, puluhan mahasiswa mengalami luka akibat gas air mata. "Mereka dirawat di kampus STIKES," katanya.

                Kampus STIKES masih satu gedung dengan Unpam. Para mahasiswa yang mengalami tembakan gas air mata dirawat mahasiswa STIKES.

                Dalam keterangan resminya yang diterima wartawan, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan, mahasiswa berunjuk rasa di luar kampus saat Wakapolri memberikan kuliah umum, cenderung bertindak anarkis. "Mereka melempari markas Polsek Pamulang," kata Rikhwanto.

                Ia mengatakan, sejumlah fasilitas yang mengalami kerusakan antara lain, truk Brimob pengangkut alat Dalmas, mobil operasional pengawal Wakapolri, dan mobil anggota Polsek Metro Pamulang.

                Koordinator mahasiswa Unpam Boma Lesmana mengatakan, aksi yang mereka gelar semata-mata karena rasa tidak suka dengan polisi.

Aksi tersebut, sama sekali tidak ada kaitannya dengan rencana pencalonan Nanan sebagai Gubernur Jawa Barat pada 2013 mendatang atau perseteruan antara institusi kepolisian dengan KPK. "Kami tidak suka dengan polisi karena selama ini polisi kerap bertindak sewenang-wenang. Polisi juga sering mengabaikan masyarakat miskin. Jadi kami tidak suka," katanya.

                Dalam aksinya, mahasiswa hanya menginginkan agar Nanan segera meninggalkan kampus. Dia membantah jika kawan-kawannya memprovokasi terlebih dulu. "Kami marah karena sejumlah rekan kami terluka dan tertembak peluru polisi," kata Boma.

                Sementara itu, dikabarkan ada dua mahasiswa diamankan di Polda Metro Jaya. Hingga kini, belum keterangan resmi terkait identitas dua mahasiswa yang diamankan tersebut.

 

Liburkan Kuliah

 

                Purek Bidang Kemahasiswaan Yoyon M Darusman mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi atas insiden yang terjadi antara mahasiswanya dan polisi di kampus. "Karena suasana belum kondusif, kuliah malam bagi 5.000 mahasiswa kami liburkan," katanya.

                Kata dia, saat ini ada sekitar 28 ribu mahasiswa yang kuliah di Unpam. Semua dibagi dalam jadwal perkuliahan reguler dan malam.

"Untuk reguler kami liburkan seharian penuh hari ini (kemarin) dan hanya ada seminar nasional, Dan untuk yang malam pasti kami liburkan sampai suasana kembali kondusif," ucapnya.

                Disinggung soal sanksi yang akan diberikan kepada para mahasiswanya yang melakukan aksi demonstarasi, pihaknya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Pihaknya akan mengevaluasi kegiatan mahasiswa dan akan memberikan sanksi sesuai temuan fakta di lapangan.

"Mereka (mahasiswa-red) ini masih tahap belajar dan harus diberikan sanksi yang mendidik," terangnya.

                Rektor Unpam Dayat Hidayat menyayangkan sikap mahasiswa yang melakukan aksi tanpa menggunakan logika. Sebab, sebagai bentuk pelajaran berdemokrasi, perbedaan itu hal biasa, asal jangan perbedaan ini menjadi tindakan fisik. "Mahasiswa itu kaum akademisi, jadi harus menggunakan logikanya. Ya, kami sadari mereka dalam proses belajar dan pasti akan lebih baik lagi nanti," terangnya.

                Menurutnya, sebagai institusi pendidikan, pihaknya tetap akan menberikan sanksi bagi mahasiswanya yang melakukan aksi hingga berujung bentrok dengan polisi. Sebab, tujuan kampus mengundang Wakapolri Nanan Sukarna juga untuk rangka mendidik. "Kami sampaikan kepada mahasiswa untuk mengungkapkan isi pikirannya dengan terbuka. Namun, kita ini hidup di negara demokrasi dan harus dewasa dalam berdemokrasi bukan anarkis," katanya.

 

Kuliah Umum Wakapolri

 

                Pada bagian lain, saat memberi kuliah umum, Wakapolri Nanan meminta mahasiswa Unpam senantiasa mengawasi, mengoreksi, dan menegur aparat kepolisian korupsi dan tidak baik dalam melayani masyarakat. "Kami akui di antara kami ini ada saja polisi brengsek. Maka, awasi, koreksi, dan tegur kami. Jangan sampai mereka yang sedikit ini justru membuat jelek kerja kami," ucapnya.

                Menurutnya polisi yang dahulu otoriter menjadi polisi yang demokratis. Bahkan, polisi mengikuti program reformasi birokrasi polri.

"Dan reformasi yang kami lakukan sudah cukup baik menurut Menpan (Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi-red)," ujarnya.

                Ke depan, kata dia, guna melakukan perbaikan-perbaikan dalam tubuh Polri, pihaknya tengah melakukan reformasi tahap kedua yang bertujuan merevitalisasi watak, pola pikir, dan tingkah laku aparatur Polri. Tugas polisi adalah untuk melayani dan mengamani. Sehingga, ada tiga tugas pokok yang perlu dilakukan dalam menjalankan tugas-tugas kepolisian tersebut. "Nah, bagian ketiga tugas Polri adalah mengikutsertakan masyarakat untuk mengawasi kerjanya. Mahasiswa pun harus mengawasi tugas polisi. Khususnya yang brutal, brengsek, dan yang korup," terangnya.

(riz/dai)