Drainase Buruk, Padang Banjir

Jumat, 19 Oktober 2012 - 09:43:34 - Dibaca: 2372 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

PADANG - Hujan lebat yang mengguyur Kota Padang sepanjang sore kemarin, membuat sejumlah ruas jalan dan ratusan rumah warga, tergenang. Beruntung, tak ada korban jiwa dan banjir bandang seperti yang ditakutkan warga Batubusuk dan Nanggalo.

Tinggi air di sejumlah ruas jalan, rata-rata setinggi lutut orang dewasa. Akibatnya, banyak motor dan mobil pengendara, mati di tempat. Tergenangnya air di sejumlah ruas jalan Kota Padang, disebabkan tersumbatnya aliran drainase dan sungai.

Pantauan Padang Ekspres, kawasan yang paling parah, yakni Pondok, Kampung Nias, Raden Saleh, Lolong, Lapai, HOS Cokroaminoto, Khatib Sulaiman, Tarandam, Purus, Sisingamangaraja, dr Sutomo, Gunungpangilun dan Seberangpadang. Karena mesin mati di tempat, banyak pengendara yang memarkir kendaraanya di tepi jalan. Bahkan, ada juga sebagian warga yang memarkir kendaraannya di tengah jalan.

Seperti di kawasan Lolong, dan Raden Saleh. Tak sedikit pula pengendara yang mendorong kendaraannya. Akibatnya, sejumlah ruas jalan yang tergenang, menjadi macet. Tak hanya macet, penumpang angkutan kota pun terlantar.

Demikian juga halnya dengan rumah warga. Banyak yang tergenang, seperti di kawasan Raden Saleh, Pondok, Lolong, Purus, Aiatawa. Di antara warga juga bersiap-siap untuk mengungsi. Namun, karena hujan sudah reda sekitar pukul 17.00 WIB, niat mengungsi tersebut tak jadi dijalankan. 'Kami masih was-was, takut banjir susulan datang saat tengah malam nanti,' kata Afrizal, warga Raden Saleh.

Kawasan lainnya yang tergenang, yakni Kompleks Perumahan Araipinang. Ada 16 unit rumah warga dimasuki air setingginya setengah meter. Warga di perumahan tersebut terpaksa menyelamatkan harta benda berharga agar tidak terendam banjir. Sebagian warga juga ada yang mengungsi ke rumah sanak familinya.

Wahid, 45, warga Kompleks Arai Pinang mengatakan, air naik secara perlahan-lahan sejak pukul 17.00 WIB. Warga pun menjadi panik. 'Banyak juga warga yang tidak bisa menempati lagi rumahnya karena air telah masuk ke dalam rumah,' ujarnya.

Mira Ance, 46, warga Jalan Niaga Pondok mengatakan, setahun belakangan jika turun hujan lebat, kawasan Pondok selalu banjir. 'Dulunya tidak pernah. Ketinggian air mencapai lutut,' ujarnya.

Ia menyebutkan, sebelumnya jika hujan lebat rumahnya selalu dimasuki air, karena air yang menggenangi ruas jalan meluber. 'Saya mengakalinya dan meninggikan teras rumah. Meluapnya air tersebut, disebabkan banyaknya drainase yang berada di kawasan Pondok tidak terawat,' ulasnya.

Dona Demila, 23, warga Lapai mengatakan di kawasan jalan utama Lapai, tinggi air mencapai lutut orang dewasa, bahkan motor yang ia kendarai mati mendadak. 'Saya heran, ruas jalan utama seperti jalan Lapai bisa tergenang oleh air. Padahal di kawasan tersebut bisa dikatakan kawasan yang tidak padat permukiman penduduk,' ulasnya.

Kepala Observasi Informasi Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika Ketaping, Syafrizal mengatakan, dalam dua hari ke depan, Padang akan diguyur hujan. 'Pantauan BMKG, hujan turun dengan intensitas tinggi. Hujan ini, bukan hujan kiriman dari daerah lainnya. Karena gelombang laut tinggi, kami meminta nelayan untuk waspada. Jika perlu, urung melaut dalam dua hari ini. Begitu pula dengan masyarakat. Agar selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama yang berada di kawasan lereng bukit dan tepi sungai. Takut longsor dan banjir bandang,' ulasnya.

Imbau Warga Tetap Waspada

Manajer Pusdalop Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Sumbar Ade Edward mengatakan tingginya curah hujan kemarin, hanya terjadi di bagian hilir, tidak terjadi di hulu sungai. 'Curah hujan tidak tinggi. Kepastian ini, diperoleh setelah  dilakukan pemantauan dengan alat Closed-Circuit Television (CCTV) di Batang Kuranji dan Batang Arau. Tidak terlihat  pergerakan air yang cukup tinggi di sana. Sehingga potensi banjir bandang juga relatif kecil,' ucapnya.

Ade mengatakan tergenangnya air di sejumlah ruas jalan, dikarenakan drainase kota tidak maksimal menampung debit air. 'Genangan air  itu, dengan sendiri akan hilang, seiring berhentinya hujan. Rata-rata daerah yang terkena banjir sekarang ini, daerah yang biasa tergenang saat hujan lebat. Ini sudah menjadi persoalan yang terjadi selama bertahun-tahun di Kota Padang,' ucapnya.

Ade mengimbau masyarakat yang tinggal di hulu Batang Kuranji dan Arau, tak perlu panik dengan hujan deras yang terus menerus mengguyur Kota Padang. 'Justru yang paling terdampak dengan banjir ini adalah warga yang tinggal di tepi pantai,' ucapnya.

Ade juga mengimbau masyarakat yang tinggal di lereng-lereng perbukitan selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana yang dapat terjadi setiap saat. 'Saat hujan lebat, potensi bencana longsor cukup tinggi,' tuturnya.

Saat hujan, kata Ade, pada pukul 16.00, juga terjadi gempa  dengan kekuatan 5, 5 SR dengan kedalaman 10 km, terjadi di 521 km barat daya  Kepulauan Mentawai. 'Gempa ini tidak berpotensi tsunami, meski kedalamannya 10 km. Masyarakat tak perlu panik,' ucapnya.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang, Dedi Henidal mengatakan pihaknya telah mempersiapkan peralatan evakuasi, untuk mengantisipasi terjadi banjir bandang. 'Di beberapa titik yang dianggap rawan,dan sudah mensiagakan kelompok siaga bencana yang ada,' katanya.

Ada beberapa tempat mendapatkan pantauan serius, yakni, di kawasan Pondok, Tabing, Aiapacah, Bukit Gado-Gado. 'Tempat tersebut diprioritaskan karena sering terjadi banjir yang mengharuskan warga setempat untuk meninggalkan rumah,' ungkap Dedi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Hermen Peri mengatakan genangan air di ruas jalan karena curah hujan tinggi, dan mengakibatkan air pasang, sehingga air pasang juga menyebabkan sejumlah sungai menguap. Akibatnya, drainase tidak lagi berfungsi seperti biasanya.

'Drainase tidak lagi berfungsi karena air sudah melebihi ketinggian drainase, sehingga air tidak bisa lagi mengalir,' ujarnya.

Ia juga mengatakan, genangan air tidak akan bertahan lama sebab setelah terjadi penyusutan air pasang, air akan kembali mengalir seperti biasa dan drainase kembali berfungsi. 'Paling tidak, setelah 3 jam hujan berhenti, air akan mengalir seperti biasa,' paparnya.

Banyaknya drainase yang rusak, ia mengakui cukup banyak. Namun hal itu tidak mempengaruhi genangan air tersebut. 'Jika masih banyak drainase yang tersumbat, ada kemungkinan air akan banyak tergenang nantinya. Kami imbau seluruh masyarakat untuk melakukan kontrol drainase yang ada di sekitar lingkungannya untuk membersihkan sesegera mungkin, musim hujan akan banyak membuat genangan air,' tegasnya. 

Pembersihan Hulu Kuranji

Di sisi lain, Sekber Pencinta Alam, Rico Rahmad mempertanyakan lanjutan pembersihan hulu Batang Kuranji. Sebab, berdasar hasil evaluasi lapangan 21 September lalu, pengerjaan pembersihan hulu sungai masih belum selesai karena hanya menyelesaikan 2 titik ancaman sejauh 1,5 kilometer dari Patamuan.

'Kami masih belum mendapat kabar tentang pelaksanaan evaluasi akhir dari pembersihan tahap pertama tersebut. Menurut hasil observasi lapangan yang telah kami lakukan sebelumnya, terdapat 16 titik tumpukan kayu sejauh 8,5 kilometer dari Patamuan,' ucap Rico.

Rico mengatakan pihaknya khawatir, musim hujan yang terjadi saat ini akan memicu banjir bandang berikutnya. 'Bila sisa material kayu yang menumpuk di hulu Batang Kuranji tersebut tidak dibersihkan,' sebutnya.

(b/ayu/w/mg18)