Buruh Pabrik yang Gagal Jadi Tentara

Sabtu, 20 Oktober 2012 - 10:26:40 - Dibaca: 2141 kali

Google Plus Stumbleupon


PECINTA BATIK:  FX Hadi Rudyatmo memborong sejumlah batik uwarna alam seusai membuka Workshop Industri Batik menuju Produk Green Industry.(EDI WIDODO/RADAR SOLO)
PECINTA BATIK: FX Hadi Rudyatmo memborong sejumlah batik uwarna alam seusai membuka Workshop Industri Batik menuju Produk Green Industry.(EDI WIDODO/RADAR SOLO) / Jambi Ekspres Online

Hadi Rudyatmo,  Wali Kota Solo Pengganti Jokowi

EDY WIDODO, Solo

 Hadi Rudyatmo tidak pernah punya cita-cita menjadi wali kota. Apalagi di kota "besar" seperti Solo. Tapi, kenyataan berkata lain. Pria dengan ciri khas kumis tebal Gatutkaca itu kini harus mengemban tugas memimpin Kota Bengawan menggantikan sang mentor, Jokowi.

 "Ini (tugas sebagai wali kota) adalah amanat undang-undang yang berat bagi saya. Tapi, apa pun, harus saya lakoni," ujar pejabat kelahiran Solo, 52 tahun silam, itu.

 Memang, memimpin rakyat Surakarta bagi Rudy "panggilan Hadi Rudyatmo" bukan hal baru. Dia melakukannya sejak terpilih menjadi pasangan Jokowi mengomandani Kota Solo periode 2005"2010 dan dilanjutkan 2010-2012. Dia mampu mengimbangi kelincahan dan gaya kepemimpinan yang ditunjukkan seniornya itu. Sebagai wakil wali kota, tak jarang Rudy harus menggantikan Jokowi yang kebetulan bertugas keluar kota atau ke luar negeri.

 "Menjadi wakil wali kota maupun wali kota sebenarnya sama saja. Sebab, sama-sama menjalankan amanat undang-undang," tuturnya.

 Sejak kecil, putra pasangan Marno Atmo Wiryono dan Suprapti Atmo Wiryono itu tak pernah bermimpi akan menjadi pejabat pangreh projo. Dia justru bercita-cita menjadi tentara. Bahkan, Rudy sempat mendapat pendidikan kemiliteran beberapa bulan. Namun, entah mengapa (dia enggan menceritakan penyebabnya, Red), pendidikan tersebut dia tinggalkan.

 Sejak itu, dia mencoba mengubur impiannya tersebut dengan berkarir sebagai karyawan di sebuah perusahaan farmasi. Sejalan dengan itu, Rudy juga aktif di partai politik. Ketekunan dan ketegasannya dalam bersikap membuat karir politiknya pun moncer.

 Anak ke-12 di antara 13 bersaudara tersebut merintis karir politik sejak 1977. Kala itu, dia masuk Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Sampai akhirnya, partai nasionalis tersebut pecah dan lahir PDI Perjuangan di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Rudy memilih ikut partai Bu Mega. Dan di partai kepala banteng moncong putih itulah dia kemudian dipasangkan dengan Jokowi untuk memimpin Solo.

 "Menjadi wali kota sebenarnya nggak saya arep-arep (harapkan, Red). Karir saya di perusahaan farmasi tempat saya bekerja juga menyenangkan. Dari seorang buruh biasa, saya bisa menduduki jabatan supervisor. Bahkan, hingga saat ini saya masih mendapat gaji yang lumayan besar," papar suami Endang Prasetyaningsih itu.

Mulai hari ini Rudy duduk sebagai orang nomor satu di Pemkot Solo. Lalu, siapa pengganti kedudukannya sebagai wakil wali kota (Wawali)"

Selain partai politik yang mulai menyodorkan nama kandidat calon Wawali ke DPC PDIP Solo, berembus wacana yang mengusulkan kalangan birokrat untuk mendampingi Rudy sebagai wali kota hingga 2015.

Secara umum, usul dari kalangan birokrat sangat dimungkinkan. Namun, mekanismenya harus diusulkan atau melalui penunjukan pimpinannya. Dalam hal ini pemimpin birokrat tertinggi atau wali kota.

"Saya akan mengusulkan beberapa nama calon (Wawali, Red) kepada ketua DPP PDIP untuk dipilih mendampingi saya. Tapi, bisa saja pendamping saya itu dari birokrat," ungkap Rudy.

Beberapa nama birokrat yang sempat mencuat ke permukaan adalah Anung Indro Susanto. Pria kalem ini sekarang menjabat kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Solo. Anung "sapaan Anung Indro Susanto"  menyatakan kesiapannya jika ditunjuk dan direkomendasikan pimpinan.

"Prinsip dan doktrin pegawai negeri itu harus selalu menuruti perintah atasan atau pimpinan. Itu karena posisinya hanya sebagai pekerja. Kalau memang ditunjuk, saya tidak bisa menolak. Bahkan, dalam kondisi apa pun, sebagai pegawai negeri saya harus siap," tegas Anung.

Di sisi lain, DPC PDIP belum bersedia menyebutkan nama-nama calon Wawali yang akan diajukan ke DPP. Tak terkecuali nama Achmad Purnomo, kader anyar PDIP yang sebelumnya disebut-sebut sejumlah partai sebagai sosok yang pantas duduk di kursi Wawali.

Disinggung kemungkinan Purnomo terpilih menjadi calon Wawali yang diusulkan DPC PDIP, Rudy enggan berkomentar. Dia hanya mengatakan, DPC akan melakukan tahapan seperti yang disepakati. Yang jelas, kriteria Wawali dari PDIP adalah memiliki komitmen yang harus direalisasikan.

"Tapi, bukan komitmen materi lho. Komitmen harus mau menjadi pelayan masyarakat. Selain itu, harus loyal terhadap pimpinan partai. Dia juga harus sanggup memenangkan pilgub, menambah suara pada Pemilu 2014. Iya dong, itu politik kok," lanjut Rudy.

Rudy juga menegaskan, pihaknya akan menjalin komunikasi dengan partai lain, setelah tahap yang telah disebutkan tadi dilalui. "Bukannya saya cuek, tapi memang saat ini belum saatnya," papar Rudy.

(*/c2/ari)