Penumpang Mabuk Bajak Pesawat Australia

Sabtu, 26 April 2014 - 08:37:04 - Dibaca: 1143 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

8 Penerbangan Dialihkan, 5 Delay

JAKARTA - Ulah onar yang dilakukan Matt Christopher, 28, yang mabuk di dalam pesawat Virgin Australia Airlines yang ditumpanginya, membuat pilot mengeluarkan sinyal hijack (pembajakan) kepada petugas Air Traffic Controller (ATC) Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali kemarin (25/4). Akibatnya, pesawat tersebut terpaksa mendarat darurat di Bandara Ngurah Rai dan nyaris diserbu oleh pasukan dari kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

                Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen (Pol) Boy Rafli Amar dalam jumpa pers di Mabes Polri kemarin, menganulir status pembajakan terhadap pesawat jenis Boeing 737-800 tersebut. "Semua keterangan sedang dikumpulkan. Informasi sementara belum dikatakan sebagai sebuah pembajakan," kata Boy kepada wartawan kemarin.

                Boy juga menerangkan kronologi "pembajakan" di dalam pesawat yang terbang dari Brisbane menuju Bali tersebut. Jenderal polisi bintang satu tersebut mengatakan bahwa Matt yang diduga dalam pengaruh alkohol tersebut, nekat menggedor-gedor pintu kokpit ketika pesawat yang ditumpanginya tengah berada di udara.

                Tampaknya aksi nekat yang dilakukan oleh salah satu penumpangnya yang sedang teler tersebut membuat pilot panik. "Dalam kondisi yang tidak nyaman tersebut, pilot menginformasikan ke menara pengawas bandara dengan sinyal pembajakaan," terang Boy.

                Menjawab sinyal kategori red alert dari pilot tersebut, petugas Bandara Ngurah Rai langsung mengarahkan pendaratan pesawat milik miliuner Richard Bronson tersebut ke lokasi pendaratan yang disiapkan untuk situasi yang darurat. Pesawat tersebut berhasil mendarat dengan mulus di landasan pada 14.45 WITA. "Oleh karena itu penyiapan landing dipersiapkan dengan prosedur pembajakan. Pesawat ketika mendarat diarahkan ke tempat parkir yang lebih aman," tutur dia.

                Boy melanjutkan, setelah mendarat, pesawat berpenumpang 137 orang dan 6 awak tersebut masih dalam status dibajak. Status tersebut berakhir pada sekitar pukul 15.40 WITA setelah petugas keamanan di bandara berhasil membawa keluar Matt keluar dari pesawat serta mengevakuasi seluruh penumpang dan awak pesawat.

                Hingga berita ini ditulis, Boy mengatakan bahwa Matt saat ini tengah menjalani pemeriksaan intensif soal aksi dan motifnya oleh pihak kepolisian maupun TNI. "Yang diduga orang mabuk sudah diamankan dan dicek darah, dan urinnya apakah dalam keadaan mabuk aatau pengaruh dari alkohol. Kita juga periksa kemungkinan adanya pengaruh narkoba," terangnya.

                 Selain itu, Matt juga dapat dijerat dengan hukum di Indonesia akibat ulahnya yang dapat membahayakan penerbangan di wilayah Indonesia. "Bisa kita jerat oleh hukum kita berdasarkan Undang-Undang (UU) Penerbangan. Tunggu hasil pemeriksaannya, sekarang (kemarin) dia belum waras," ujarnya.

                 Ulah nekat Matt di udara tersebut juga nyaris membuat TNI turun tangan dengan menggempur pesawat yang "dibajak" tersebut. Ketika dihubungi, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya mengatakan bahwa pihaknya telah mempersiapkan seabreg pasukan khusus dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Satuan 81 Penanggulangan Teror (Sat-81/Gultor), dan Detasemen Bravo 90 dari Paskhas.

                Pasukan khusus tersebut kemarin sudah siap diterbangkan dari Bandara Halim Perdana Kusumah, Jakarta menggunakan pesawat Hercules. "Sekarang (kemarin) sudah ada perintah Panglima TNI untuk menyerbu. Saat ini sedang persiapan dan dibantu kekuatan Polda dari Jakarta. Dari Halim ada batalyon Kopassus, Gultpor, dan dari Paskhas ada Bravo," kata Fuad tegas.

                Namun, operasi pembebasan sandera oleh TNI yang akan menjadi Operasi Woyla kedua tersebut urung dilakukan karena Matt keburu dipaksa turun oleh petugas di Bandara Ngurah Rai. Sekadar informasi, Operasi Woyla merupakan operasi TNI dengan misi membebaskan sandera di dalam pesawat Garuda DC-9 Woyla yang dibajak oleh sekelompok teroris yang menamakan diri Komando Jihad. Aksi penyanderaan yang terjadi di Bandara Don Muang Bangkok, Thailand pada 31 Maret 1981 tersebut berhasil diakhiri oleh 35 anggota Kopasshanda (sebutan Kopassus kala itu) melalui serbuan kilat yang dipimpin Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan.

                 "Pasukan batal diterjunkan, anggap saja tadi latihan penanggulangan teror," kata Kapuspen TNI Angkatan Darat Brigjen TNI Andika Perkasa kepada jurnalis.

 8 Penerbangan Dialihkan, 5 Delay

Usaha "pembajakan" pesawat Virgin Australia dengan nomor penerbangan Virgin 041 sore kemarin (25/4) sore kemarin ternyata tak hanya membuat pihak keamanan, baik kepolisian, TNI, kalang kabut. Tapi ulah Matt Christopher, 28, turis asal Australia yang menjadi salah satu penumpang dalam pesawat berjenis Boing 7373-800 itu juga membuat arus penerbangan di Bandara Internasional Ngurah Rai sempat berantakan.

Menurut Co GM Bandar Udara Ngurah Rai Bali, I Gusti Ngurah Ardita sore kemarin, akibat penutupan runway Bandara Ngurah Rai sekitar 32 menit, dari jam 14.55 sampai 15.27 membuat sebanyak 8 pesawat yang mestinya mendarat di Bandara Ngurah Rai dialihkan ke beberapa bandara yang lain.

"Betul, selama penutupan runway tadi, ada beberapa penerbangan yang dialihkan. 7 penerbangan di alihkan ke (Bandara Internasional Juanda) Surabaya, 1 pesawat dialihkan ke (Bandara Internasional) Lombok," katanya.

Selain pengalihan jalur penerbangan bagi delapan pesawat tersebut. Ngurah Ardita yang masih mengumpulkan nomor penerbangan mana saja yang dialihkan tersebut. Pihaknya juga memastikan ada 5 pesawat yang mengalami delay. Sama seperti jenis pesawat yang dialihkan, pihaknya juga belum bisa merinci jenis pesawat yang delay tersebut.

"Untuk data pastinya tunggu ya. Masih dikumpulkan," sambungnya.

Disinggung mengenai dampak dari aksi Matt Christopher membuat kekacauan di penerbangan dengan rute Brisbane (Australia) menuju Denpasar (Bali) itu. Ngurah Ardita memastikan tak terlalu berdampak pada kondisi penumpang di Bandara Ngurah Rai. Sebab menurut dia semuanya masih berjalan seperti biasa.

"Kondisi masih tetap normal. Pelayanan untuk boarding juga berjalan seperti biasa," sambungnya.

Sedangkan untuk para penumpang yang berada di dalam pesawat nahas tersebut. Seperti yang dia katakan kemarin, semuanya sudah melanjutkan perjalanan masing-masing.

"Semua sudah keluar, dan mereka juga keluar bandara sesuai tujuan mereka masing-masing," pungkasnya.

(wid/adi)

  (dod)