Mana Upaya KOI? Kehilangan Banyak Potensi Medali

Rabu, 30 April 2014 - 09:26:20 - Dibaca: 1273 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA - Impian Indonesia untuk memperbaiki prestasinya di dalam ajang SEA Games akan menemui jalan terjal. Pasalnya, ada sekitar empat cabang olahraga potensial menyumbangkan banyak medali emas yang akhirnya resmi tidak dapat dipertandingkan dalam SEA Games 2015 di Singapura.

Setelah menempuh rapat bersama perwakilan National Olympic Committee (NOC) negara-negara kontestan SEA Games 2015 sejak Senin lalu (28/4), Dewan Federasi SEA Games 2015 tetap tidak meloloskan delapan cabor. Hasil tersebut baru disahkan pada hari terakhir acara di Marina Bay, Singapura, itu kemarin (29/4).

Dari delapan cabor tersebut, empat di antaranya yang potensial menyumbangkan medali emas. Di antaranya angkat besi, karate, voli pantai, dan catur. Sedangkan keempat cabor lainnya yang tidak dipertandingkan di ajang dua tahunan Asia Tenggara tersebut seperti paragliding, gulat, kempo dan sepakbola putri.

Selain voli pantai yang tidak dipertandingkan di SEA Games 2013 di Myanmar, catur, karate dan angkat besi merupakan cabor-cabor penyumbang medali. Makanya, dengan adanya keputusan ini banyak cabor yang mempertanyakannya. Terutama dengan bagaimana upaya Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dalam memperjuangkan nasib cabor-cabor andalan Indonesia.

Suara keras meluncur dari Wakil Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Wakabid Binpres) PB FORKI, Zulkarnaen Purba. Kepada Jawa Pos, dia malah mengaku belum mengetahui keputusan itu. "Kalau sampai karate tidak masuk, ini menjadi kerugian besar bagi Indonesia. Bagaimana ini KOI? Sampai sejauh mana perjuangannya untuk cabor-cabor andalan seperti karate ini? Ini bukan main-main memperjuangkannya," ujarnya.

Dia kaget dengan adanya keputusan ini. Karena, pada saat kejuaraan karate Asia Tenggara yang berlangsung di Vietnam sepekan yang lalu, banyak negara yang mendukung cabor karate tetap dipertahankan dalam SEA Games nanti. Dari 11 negara Asia Tenggara, tujuh di antaranya berada di pihak yang pro dengan cabor karate.

Seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Laos, Brunei Darussalam, dan Myanmar. "Ini bukan hanya kerugian bagi Indonesia, tapi banyak negara yang juga mengalami hal serupa. Pak Hendardji (Soepandji, ketum PB FORKI) yang juga presiden SEAKF pasti akan tetap berjuang sampai kapanpun. Mudah-mudahan ini bukan hasil final," harap pria asli Medan tersebut.

Pernyataan serupa juga diungkapkan pihak PB PABBSI. Harusnya, SEA Games 2015 menjadi satu rangkaian upaya mereka memperkuat lifternya untuk kualifikasi menuju Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro. "Kami bersama negara-negara Asia Tenggara lainnya sudah berjuang lewat IWF dan NOC dalam hal ini KOI juga. Kalau sudah seperti ini, bagaimana lagi kami harus berjuang," keluh Sekretaris Umum (Sekum) PB PABBSI Sonny Kasiran.

Hanya, Sonny mengharapkan kenyataan ini tidak lantas membuat pemerintah dalam hal ini pihak Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) menghentikan pelatnas SEA Games. "Jangan berpikir parsial lagi, SEA Games bukan akhir. Kami harus mempersiapkan lifter juga untuk kualifikasi Olimpiade, pelatnas harus tetap berjalan," tegasnya.

Koordinator cabor terukur Satlak Prima, Hadi Wihardja secara terpisah juga mempertanyakan perjuangan perwakilan KOI yang datang dalam rapat di Singapura itu. "Tidak tahu seperti apa perjuangan KOI di sana. Sepengetahuan saya, alasan Singapura untuk tidak mempertandingkan cabor-cabor termasuk angkat besi sangat tidak masuk akal. Jika kekurangan atlet atau anggaran, itu tidak rasional," kecam Hadi.

Lebih lanjut, Hadi mengharap akan ada perubahan keputusan dalam rentang waktu sebelum SEA Games dimulai. Berkaca dari SEA Games 2013 lalu, tarung derajat yang sempat tidak masuk di dalam cabor SEA Games, tiba-tiba bisa dipertandingkan. "Semoga keputusan ini masih bisa dipertimbangkan," pungkasnya.

(ren)