Pedofilia di Indonesia Tertinggi di Asia

Rabu, 07 Mei 2014 - 08:35:19 - Dibaca: 1678 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA - Tidak heran FBI menyebut kasus pedofilia di Indonesia tertinggi di Asia. Dalam kurun waktu empat bulan saja, jumlah kasus pedofilia yang ditangani kepolisian mencapai 92 perkara. Para bocah tidak hanya terancam oleh pelaku tidak dikenal, namun bahkan oleh ayah kandungnya sendiri.

       Kabagpenum Divhumas Polri Kombes Agus Rianto menuturkan, saat ini pihaknya masih menagih sejumlah Polda untuk mengupdate data kasus kejahatan seksual. Khususnya, kejahatan seksual terhadap anak. "Data kami saat ini baru berasal dari 16 Polda," ujarnya kemarin. Sisanya belum menyetor atau sudah melapor dengan jumlah kasus nihil.

       Saat ini, rekor kasus kekerasan seksual anak terbanyak dipegang oleh Polda Riau. Jumlah kasus yang ditangani mencapai 64 buah, disusul Polda Kalimantan Selatan dengan 13 kasus. Selebihnya rata-rata hanya satu atau dua kasus.

       Menurut Agus, jumlah kasus tersebut tidak mencerminkan jumlah pelaku maupun korban. Pihaknya belum mendapat data detail mengenai jumlah korban dan pelaku, termasuk karakteristik sang penjahat kelamin. Jumlah korban jelas lebih tinggi, karena untuk satu kasus di Sukabumi saja sudah menghasilkan lebih dari 100 korban.

       Hanya ada beberapa kasus yang dipaparkan secara detail, karena melibatkan pelaku yang spesial. Ya, pelaku disebut spesial karena merupakan orang yang dikenal dekat dengan korban. "Bukan hanya dekat, namun pelaku adalah orang yang seharusnya melindungi korban, yakni ayah dan guru," tuturnya.

       Kasus itu terjadi di Sumbar dan Sumut. Di Sumbar, pelaku merupakan ayah kandung korban. Kasus itu terjadi pada 2006 hingga 2009, sejak korban masih berusia tiga tahun. Saat ini, korban sudah berusia 11 tahun. Perbuatan sang ayah baru ketahuan dan dilaporkan Januari lalu. sedangkan, untuk kasus dengan pelaku berstatus guru terjadi di Sumut.

       Agus menambahkan, kasus-kasus pedofilia menjadi atensi khusus Kapolri. Karena itu, bhabinkamtibmas di seluruh desa sudah diperintahkan untuk ikut menggali data. Jika mengetahui ada korban yang belum melapor, bisa didorong untuk segera melapor. Mabes Polri mensinyalir masih banyak kasus pedofilia yang belum dilaporkan. Entah karena korban takut mengadu atau orang tua merasa malu atas kondisi anaknya.

       Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat setiap tahunnya lebih dari 400 anak Indonesia menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan orang dewasa. Menurut Wakil Ketua KPAI Maria Advianti, sebagian besar korban tersebut merupakan laki-laki.

       Fakta tersebut, dikatakan Advianti memang cukup mencengangkan. "Tapi itulah yang terjadi di lapangan. Anak-anak kita terancam," ujar Erlinda.

       Kondisi ini dapat terlihat pada kasus kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta International School (JIS) dan kasus Emon di Sukabumi. Dari kedua kasus tersebut, diketahui bahwa sebagian besar korban merupakan anak laki-laki dan dilakukan oleh orang terdekat mereka.

       Menurutnya, ada dua kondisi mengapa paling banyak korban kekerasan seksual adalah anak laki-laki. Pertama, kondisi tersebut memang dari psikologis sang pelaku atau kecenderungan pedofilia pelaku sangat besar. Kedua, sang pelaku merupakan pengkonsumsi pornografi. "Mereka sudah terlanjur kecanduan, karena tidak memiliki pasangan akhirnya anak-anak jadi sasaran. Nah karena kalo dipornografi kan hubungan seksual yang tidak biasa, entah sesama jenis atau dengan cara tidak lazim, akhirnya itu yang mendorong mereka," tuturnya.

       Untuk kasus Emon, KPAI telah menggaris bawahi dua fakta untuk didalami. Adanya korban yang begitu banyak dan baru terkuak, membuat KPAI mempertanyakan kondisi orang tua di sana. "ada apa dengan para orang tua di sana. masa tidak ada satupun yang mengetahui anaknya menjadi korban? Itu kan cukup mencengangkan," katanya.

       Kedua, lanjut dia, dari begitu banyak korban pasti ada laporan di puskesmas atau klinik terkait kasus anak sakit anus. Hal itu menurutnya bisa langsung dijadikan perhatian khusus oleh pihak pemerintah. Namun nyatanya, pihak pemerintah pun tidak tanggap akan hal tersebut. "Ada kemungkinan orang tua malu bilang. Tapi pasti ada dong laporan pemeriksaan sakit anus. Dari segitu banyaknya masa tidak ada kecurigaan sama sekalipun dari pemerintahnya. Ada apa dengan mereka," tandasnya.

       Meski saat ini semua kasus yang ter-ekspose adalah kekerasan pada anak laki-laki, Advianti tetap mewanti-wati agar semua piha berhati-hati. Sebab kemungkinan anak perempuan yang juga menjadi korban juga cukup banyak. Ia meminta semua pihak untuk ikut melek dalam melakukan perlindungan pada para generasi penerus bangsa ini.

(byu/mia)