Mendikbud Cium Mafia Pembocor UN

Jumat, 09 Mei 2014 - 07:57:36 - Dibaca: 1307 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Penelusuran Dimulai Dari Kasus di Surabaya   

SORONG - Setiap tahun, penyelenggaraan ujian nasional (UN) selalu diributkan dengan kabar kebocoran soal ujian dan peredaran kunci jawaban. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mencium ada mafia spesialis pembocor soal ujiannya.

Nuh menjelaskan, terus berhembuskebocoran soal dan kunci jawaban itu merupakan pertempuran antara kebenaran dan kejahatan. Gencarnya informasi dua kejahatan UN itu, membuat citra siswa, guru, dan pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaran UN tercoreng. "Padahal saya tegaskan, tidak semua siswa peserta UN mencontek semua, tidak jujur semuanya, atau baik semuanya," katanya saat kunjungan kerja ke Kabupaten Sorong kemarin.

Nuh juga mengatakan, tidak semua guru yang terlibat UN itu nakal semua. Bahkan menteri asal Surabaya itu juga mengatakan, pegawai di Kemendikbud yang aktif dalam penyelenggraan UN belum tentu baik-baik atau jelek-jelek. "Yang nakal-nakal, yang masuk lingkaran mafia pembocor UN inilah yang harus diberesin. Kami bersama polisi mengusut tuntas," kata Nuh.

Ada banyak motif para pembocor soal ujian itu. Pertama adalah ingin menghancurkan sistem evaluasi yang dibangun dengan skema UN. Motivasi lainnya adalah, mengeruk keuntungan finansial dari ketakutan siswa dalam menghadapi ujian tahunan itu. "Sangat jelas ada mafia dalam kericuhan penyelenggaraan UN," tegas Nuh.

Bagaimana cara membongkarnya? Nuh menjelaskan bisa dimulai dengan kasus joki pembocor UN di Surabaya. Saat ini Nuh sudah meminta polisi untuk mengusut tuntas kasus joki di Surabaya sampai ke jaringan utamanya. "Tidak pandang bulu. Kalau memang ada keterlibatan pihak Kemendikbud, kita bersihkan. Kami ingin menjaga integritas," katanya.

Nuh mengatakan pihaknya tidak akan menutup-nutupi kelmahan dalam penyelenggaraan UN. Dia mencontohkan, dua tahun lalu penyelenggaraan UN di daerah tertentu pernah diulang karena terindikasi positif terjadi sontek massal. Kasus seperti ini, bisa terulang di Padang. Sebab ada laporan banhwa muncul bocoran kunci jawaban di Padang pada UN 2014.

Mantan rektor ITS Surabaya itu mengatakan, terkait peredaran kunci jawaban masyarakat tidak boleh cepat memvonis terjadi sontek masal. Bisa jadi ada siswa yang mendapatkan kunci jawaban, tetapi tidak memakainya. Atau kunci jawaban yang beredar itu tidak valid. "Yang di padang sampai saat ini masih proses penelitian, untuk mengetahui pola jawaban siswa," tandasnya.

Nuh menegaskan bahwa penyelengaraan UN adalah upaya untuk evaluasi sekaligus mendidik karakter siswa. Dia mengatakan saat ini mulai muncul gerakan besar-besaran menciptakan UN berjalan jujur. "Seperti yang dikampanyekan koran Jawapos atau oleh Bu Risma walikota Surabaya," ujar dia. Untuk itu Nuh tidak mentoleransi keberadaan pihak-pihak yang mengacaukan UN.

Sementara itu tim Itjen Kemendikbud terus menginvestigasi temuan mereka. Seperti diketahui tim Itjen menyita sejumlah HP siswa SMPN 67 Jakarta. HP para siswa itu disita karena kedapatan dibawa masuk ke ruang ujian saat UN bahasa Inggris. Di dalam HP itu, tim Itjen Kemendikbud menemukan pesan yang berisi kunci jawaban UN.

"Sampai sekarang pengecekan masih berlangsung," kata Irjen Kemendikbud Haryono Umar. Dia mengatakan tidak semua HP yang disita itu berisi SMS kunci jawaban.

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Hendri mengatakan, informasi awal kebocoran soal ujianitu ada di tingkat rayon atau sekolah. Teknsinya adalah, beberapa hari menjelang ujian amplop atau segel naskah UN sudah dibongkar.

(wan)