Jenderal Sisi Menang 96,9 Persen

Kamis, 05 Juni 2014 - 08:22:37 - Dibaca: 737 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

KAIRO - Komisi Pemilihan Umum Mesir secara resmi menyatakan Jenderal (purnawirawan) Abdel Fattah el-Sisi memenangi pemilihan presiden dengan perolehan suara telak. Mantan panglima militer itu mengalahkan tokoh aliran kiri Hamdeen Sabahi.

 Dalam penghitungan suara yang berakhir kemarin, Sisi dinyatakan memperoleh 23,7 juta suara atau 96,9 persen dari total 24,5 juta suara sah. Sabahi hanya memperoleh 3,1 persen atau 757.511 suara.

 Ketua Komisi Pemilihan Presiden Anwar al Asie membacakan keputusan hasil pemilihan presiden (pilpres) itu pada Selasa petang waktu setempat atau Rabu pagi WIB. Dia memerinci, pengguna hak pilih dalam pilpres Mesir mencapai 47,45 persen dari total daftar pemilih tetap 53,7 juta. Sebanyak 1,4 juta suara dinyatakan tidak sah.

 Pilpres yang berlangsung pekan lalu selama tiga hari itu merupakan pemilu kedua pasca revolusi 25 Januari 2011 yang menumbangkan 30 tahun rezim Presiden Hosni Mubarak. Pemilu pertama diadakan pada 2012 yang dimenangi Muhamad Mursi dari Ikhwanul Muslimin. Namun, pemerintahan demokratis Mursi dilengserkan oposisi dukungan militer setahun kemudian pada 3 Juli 2013. Mursi dan hampir seluruh pimpinan Ikhwanul Muslimin saat ini dipenjara atas tuduhan pembunuhan demonstran.

 Sisi direncanakan dilantik sebagai presiden oleh ketua Mahkamah Konstitusi Mesir pada 8 Juni nanti. Awalnya, pilpres itu dijadwalkan hanya dua hari pada 26 dan 27 Mei 2014. Namun, pemungutan suara ditambah sehari lagi untuk memberikan kesempatan kepada pemilih guna menggunakan hak konstitusional mereka.

 Capres Sabahi sempat menggugat perpanjangan waktu pilres tersebut. Namun, komisi pemilihan umum menolak gugatan itu dengan dalih perpanjangan tersebut diperbolehkan konstitusi. "Konstitusi mengatur bahwa pemilu dapat diadakan sehari atau lebih," bunyi alasan komisi pemilu.

 Selain itu, Sabahi sebelumnya mengajukan tuntutan atas dugaan sejumlah kecurangan dalam pemilihan presiden. Namun, gugatan tersebut ditolak karena dinilai tidak terbukti.

 Ikhwanul Muslimin, pendukung Mursi, yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti-Kudeta memboikot pilpres. Pendukung Mursi juga berikrar akan terus melancarkan protes menentang apa yang disebut "pemerintah kudeta".

 Sejak awal memang banyak yang memprediksi kemenangan mutlak Sisi tersebut. Dia dikabarkan didukung sejumlah pengusaha besar dan pemimpin partai politik. Sayangnya, jumlah suara yang masuk hanya sekitar 47 persen. Jumlah itu lebih rendah dari harapan Sisi. Menerima hasil tersebut, dia berjanji bekerja keras untuk memulihkan stabilitas serta mencapai kebebasan dan keadilan sosial bagi Mesir.

 Sisi yang lahir pada 19 November 1954 itu menjadi perhatian dunia setelah menggulingkan presiden pertama Mesir yang dipilih secara langsung oleh rakyat, Muhammad Mursi, Juli 2013. Para pendukung melihatnya sebagai pahlawan nasional yang menyelamatkan negara dari kekerasan di bawah pemerintahan Mursi dan Ikhwanul Muslimin. Namun, lawan-lawannya justru menilai Sisi sebagai orang yang bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi pasca penggulingan tersebut.

 Menurut laporan Al Jazeera, dalam membangun kekacauan politik pasca penggulingan Mursi, Sisi telah menjadi dalang atas tewasnya ratusan pengunjuk rasa dan penangkapan ribuan aktivis politik, termasuk pemimpin Ikhwanul Muslimin. Ratusan pendukung Ikhwanul Muslimin diyakini tewas pada Agustus 2013 ketika pasukan menyerbu dua kamp protes di Kairo yang didirikan pendukung Mursi yang menuntut Mursi dikembalikan ke jabatannya. Korban semakin banyak berjatuhan sejak militer melancarkan kampanye besar terhadap tersangka militan Islam di Sinai Utara pada September 2013.

 Angka kematian memang tidak diketahui pasti. Namun, Ikhwanul Muslimin mengungkapkan, hingga Agustus 2013, setidaknya 2.200 orang tewas karena tindakan keras militer yang dipimpin Sisi.

 Tidak sampai di situ, menurut laporan BBC, Sisi menjadi sorotan ketika membela tes keperawanan terhadap 17 perempuan yang ditahan dan dipukuli tentara dalam protes anti-Mubarak di Tahrir Square pada Maret 2011. Sisi berdalih tes itu ditujukan untuk melindungi perempuan dari pemerkosaan serta melindungi prajurit dan tugasnya dari tuduhan pemerkosaan.

 Meski dianggap banyak menulis catatan hitam, pria yang sebelumnya menjabat menteri pertahanan itu akan menjadi pemimpin Mesir. Selain berjanji memulihkan stabilitas serta mencapai kebebasan dan keadilan sosial bagi Mesir, Sisi bertekad memberangus Ikhwanul Muslimin. Dia menuding Ikhwanul Muslimin sebagai jaringan kelompok bersenjata yang pernah dua kali berencana membunuh dirinya. "Dua upaya pembunuhan terhadap saya. Saya tidak takut," tegas kepala intelijen militer pada masa pemerintahan Hosni Mubarak itu sebagaimana dilansir Reuters.

 Kelompok Ikhwanul Muslimin merupakan organisasi gerakan Islam terbesar dan tertua di Mesir. Kelompok tersebut bertahan hidup di bawah tekanan kekuasaan militer yang diawali pada masa Presiden Gamal Abdel Nasser pada 1954.

 Pada masa pemerintahan Mursi, Ikhwanul Muslimin berkembang cepat. Kelompok itu menembak mati sejumah anggota pasukan keamanan Mesir. Setelah Mursi jatuh dari kekuasaan, pemerintahan militer Mesir menangkapi ribuan anggota dan pendukung Ikhwanul Muslimin. Ratusan pendukung Ikhwanul Muslimin tewas. Mursi pun dihadapkan ke pengadilan.

 Sementara itu, rakyat Mesir merayakan kemenangan tersebut dengan memenuhi Bundaran Tahrir, ikon revolusi Mesir di pusat Kota Kairo. Ribuan pendukung Sisi melambaikan bendera mini dan gambar kepala negara mereka yang baru. "Selamat datang presiden baru Mesir. Ini adalah kemenangan bagi seluruh rakyat Mesir," tulis spanduk raksasa di Bundaran Tahrir.

 Di luar negeri, kemenangan mutlak Sisi disambut baik sejumlah negara, termasuk Arab Saudi. Dikutip dari Al Jazeera, Raja Abdullah dari Saudi yang merupakan sekutu terdekat Mesir memuji hari kemenangan Sisi sebagai hari bersejarah bagi Mesir. Dia juga menyerukan agar para pendukung Sisi terus membantu memulihkan stabilitas di Mesir. "Untuk saudara dan teman-teman Mesir, saya mengundang Anda semua untuk membantu mengatasi ekonomi Mesir," kata Abdullah.

 Saudi bersama Uni Emirat Arab serta Kuwait, sebagaimana diberitakan BBC, telah berjanji mendukung pemerintahan sementara yang didukung militer. Mereka siap menggelontorkan dana USD 12 miliar untuk membantu keuangan Mesir pasca penggulingan Mursi.

 Ucapan selamat juga datang dari Sekretaris Luar Negeri Inggris William Hague. Dia menyatakan telah melihat kerja sama masa depan dengan pemerintahan baru Mesir. Namun, dia juga mendesak Sisi untuk "membuka ruang politik", khususnya yang berkaitan dengan kebebasan berekspresi dan berserikat.

 Presiden AS Barack Obama yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Eropa menegaskan siap bekerja sama dengan presiden terpilih Mesir. Obama yang sedang berada di Warsawa, Polandia, itu menyatakan berencana berbicara dengan Sisi dalam beberapa hari mendatang.

 Pernyataan Obama tersebut mungkin menjadi era baru hubungan Mesir dengan AS setelah terasa masam pasca tergulingnya Presiden Mursi. Obama mengutuk kerusuhan yang memakan korban tewas dari kubu Ikhwanul Muslimin. AS membatalkan bantuan tahunan USD 1,5 miliar dalam bentuk bantuan militer yang secara tradisional dipasok ke Mesir.

(AP/AFP/c5/kim)