Sembilan Ribu Mengungsi

Kamis, 17 Januari 2013 - 09:13:07 - Dibaca: 1301 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Jakarta Masih Dikepung Banjir

JAKARTA- Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Jakarta tak kunjung surut. Meski luas kawasan yang terendam berkurang, namun di sejumlah wilayah, genangan air justru makin tinggi.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir kemarin masih menggenangi 367 rukun tetangga (RT) di 39 kelurahan. Jumlah ini menurun dibandingkan banjir yang melanda 50 kelurahan pada Selasa subuh (15/1) lalu. Ketinggian genangan pun bervariasi, mulai sedalam mata kaki hingga tiga meter.

Titik paling parah akibat banjir berada di Kelurahan Kampung Melayu, Cawang, dan Bukit Duri dengan tinggi banjir berkisar 2,5 meter. "Sekitar 20.275 kepala keluarga (63.686 jiwa) terendam banjir. Pengungsi ada 9.374 jiwa," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kemarin (16/1).

Hingga kini, pemerintah DKI Jakarta, PMI, dan BNPB mendirikan 16 posko pengungsian di sejumlah wilayah. Secara rinci, di Jakarta Timur terdapat 4.311 jiwa pengungsi di empat kelurahan. Mayoritas akibat limpasan air dari Sungai Ciliwung. Jumlah pengungsi terbanyak di Kelurahan Kampung Melayu, yaitu 2.257 jiwa.

Tempat pengungsian berada di RS Hermina, GOR Jakarta Timur, Masjid Attawabin, Mushola Awabin, Aula Sudinkes Jakarta Timur, dan Aula Masjid Ihttihadul Ikhwan. Sedangkan jumlah pengungsi lain tersebar di Kelurahan Bidara Cina (949 jiwa), Kramatjati (500 jiwa), dan Cililitan (605 jiwa).

Di Jakarta Selatan, jumlah pengungsi mencapai 2.127 jiwa yang tersebar di Kelurahan Bukit Duri (1.151 jiwa), Pejaten Timur (60 jiwa), Pondok Pinang (48 jiwa), Ulujami (150 jiwa), Pondok Labu (65 jiwa), Tanjung Barat (567 jiwa), dan Lenteng Agung (86 jiwa).

"

Di Jakarta Barat, jumlah pengungsi mencapai 2.426 jiwa yang tersebar di Kelurahan Kedoya Selatan (24 jiwa), Wijaya Kusuma (510 jiwa), Kedaung Kaliangke (300 jiwa), dan Rawa Buaya (2.102 jiwa). Dua wilayah yang tidak mempunyai shelter pengungsian hanya Jakarta Pusat dan Jakarta Utara. "Hingga kini, tercatat dua orang meninggal dunia, yakni satu anak di Tanjung Duren yang hanyut ke sungai dan satu orang di Kampung Melayu," tutur Sutopo.

Hingga kemarin petang, hujan yang turun di kawasan Puncak menyebabkan debit Sungai Ciliwung meningkat drastis. Ini ditandai dengan ketinggian muka air di Waduk Katulampa di Bogor yang meningkat cepat dari hanya 70 sentimeter pada pukul 12.00 menjadi 170 sentimeter.

Di batang Sungai Ciliwung di kawasan Depok, tinggi muka air tercatat 280-285 sentimeter, sementara ketinggian di pintu air Manggarai mencapai 870-920 sentimeter. Artinya, hanya 30 sentimeter dari batas siaga satu yakni 950 sentimeter. Di kawasan hilir Ciliwung ketinggian air terus meningkat. Di pintu air Karet ketinggian permukaan air sungai Ciliwung mencapai 610-660 sentimeter (siaga satu) dan Angke Hulu mencapai 280 sentimeter.

"Dengan kondisi ini, dipastikan banjir akan tetap bertahan malam ini (tadi malam). Bahkan di beberapa wilayah, tinggi banjir akan semakin tinggi karena butuh waktu 6-7 jam air dari Bogor sampai di Jakarta," tutur Sutopo.

    Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kemarin menemui Wakil Presiden Boediono untuk meminta bantuan. "DKI Jakarta adalah wajah kita. Pemerintah pusat tidak mungkin lepas tangan. Dengan batas-batas yang kami miliki, kami akan membantu maksimal upaya pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasi berbagai permasalahan kota," kata Boediono di Kantor Wakil Presiden kemarin (16/1).

Dalam jangka pendek, upaya yang akan dilakukan adalah membuat sudetan antara Kali Ciliwung dan Kanal Banjir Timur (KBT) sehingga sebagian debit air dari Bogor akan dialirkan ke KBT. Kanal yang baru beroperasi tahun lalu tersebut selama ini hanya didesain untuk mengalirkan 15 sungai kecil di Jakarta Timur.

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU Muhammad Hasan mengatakan, pihaknya akan mulai mengkaji pembangunan waduk Ciawi. Proses pengkajian dan pembuatan detail engineering design diperkirakan membutuhkan waktu setahun. Selain untuk mengetahui titik banjir yang dapat diatasi, pembangunan waduk berkapasitas 25 juta meter kubik tersebut juga harus dipertimbangkan karena berada di area ketinggian. Selain itu, dana pembuatan waduk diperkirakan sangat besar karena biaya pembebasan lahannya tinggi. "Risiko yang mungkin timbul dan dampaknya bagi daerah hilir harus diperhitungkan," terangnya.

(dim/ken/nw)