Banjir Belum Juga Surut

Senin, 21 Januari 2013 - 09:46:32 - Dibaca: 1552 kali

Google Plus Stumbleupon


BANJIR TUA  : Pemilik perahu, gerobak dan becak menunggu pengunjung hotel yang terjebak banjir di Kota Tua. (MUSTAFA RAMLI/JAWA POS)
BANJIR TUA : Pemilik perahu, gerobak dan becak menunggu pengunjung hotel yang terjebak banjir di Kota Tua. (MUSTAFA RAMLI/JAWA POS) / Jambi Ekspres Online

JAKARTA - Meski sebagian besar wilayah Jakarta kemarin relatif tidak diguyur hujan, namun banjir belum bisa surut sepenuhnya. Genangan masih tampak di sejumlah titik di Jakarta Barat, Utara, dan Timur. Masyarakat di kawasan Jakarta Utara kini juga harus bersiap menghadapi banjir rob atau pasang air laut.

                Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, total jumlah kelurahan yang wilayahnya digenangi banjir di Jakarta hingga 19 Januari ada 104 Kelurahan. Dari jumlah tersebut, 28 kelurahan tidak sampai berdampak pada aktivitas warga. Artinya, banjir di 28 kelurahan tersebut dinilai tidak sampai membuat aktivitas warga terganggu, apalagi sampai mengungsi sehingga tidak masuk kawasan terdampak.

                Beberapa kawasan hingga kemarin juga masih digenangi banjir. Salah satu yang paling parah adalah kawasan Pluit. Pantauan Jawa Pos, sejumlah akses masuk dan keluar kawasan Pluit masih tergenang. Beberapa sepeda motor yang nekat menembus genangan mogok. Sebagian lagi memilih putar balik dan mencari jalur lain.

                Sedangkan, sampah masih tampak menumpuk di kawasan-kawasan yang genangannya baru saja surut. Presiden Susilo Banbamng Yudhoyono juga sempat menggelar rapat bersama sejumlah anggota Kabinet Indonesia Bersatu II di Gelanggang Remaja Youth Center Jalan Otto Iskandardinata. Di situ, Presiden sempat mendapat paparan dari Kepala BNPB, Gubernur DKI, dan Kementerian Pekerjaan Umum terkait penanganan banjir di Jakarta.

                Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, belum surutnya banjir disebabkan beberapa hal. Kawasan Pluit misalnya, hingga kini masih ada beberapa titik yang kebanjiran hingga sedalam dua meter. "Penyebab utamanya ada tiga. Yakni, meluapnya waduk Pluit, Kali Angke Hilir, dan hujan di wilayah itu," terangnya.

       Waduk Pluit menerima aliran dari Kali Cideng dan beberapa sungai lain yang sempat meluap. Akibat banyaknya air yang masuk, panel-panel pompa banjir berkapasitas besar di waduk tersebut terendam. Alhasil, pompa tersebut tidak mungkin beroperasi. Air waduk pun meluap karena terus dipasok air sementara pembuangan tidak berjalan.

       Beberapa penyebab itu belum termasuk naiknya permukaan air laut yang juga berpengaruh terhadap lamanya air bisa surut. Sabtu lalu, pasang air laut mencapai titik tertinggi 0,87 meter pada pukul 07.35. kemudian, kemarin (20/1) pasang air laut mencapai ketinggian 0,91 meter pada pukul 07.51.

       Untuk hari ini dan berikutnya, pasang air laut diperkirakan bakal lebih tinggi lagi. "Pada Senin, diprediksi pasang tertinggi 0,94 meter pada pukul 08.10," tutur Sutopo. Bahkan, pada hari Kamis (24/1) hingga Sabtu (26/1) ketinggian air pasang diperkirakan bakal mencapai satu meter antara pukul 09.09 sampai 09.46. "Sangat potensial terjadi banjir rob," lanjutnya.

       Banjir rob dimungkinkan, karena sebagian wilayah Jakarta memang lebih rendah dari permukaan laut. Sejumlah sumber bahkan menyebut kawasan yang berada di bawah permukaan air laut mencakup hingga 40 persen wilayah Jakarta. Karena itu, warga juga diminta untuk mewaspadai datangnya air dari arah utara.

       Sutopo mengatakan, upaya penangulangan banjir di kawasan Pluit hingga saat ini masih dilakukan. Pasca selesainya penutupan tanggul di Latuharhary, pompa-pompa milik Dinas PU DKI Jakarta dan Kementerian PU dikerahkan ke Pluit untuk membuang air. Sejumlah posko evakuasi hingga kini juga masih melayani para pengungsi.

(byu)