Mobil Listrik Siap 2020, Dikebut Lima PTN, Tidak Pakai APBN

Sabtu, 05 Agustus 2017 | 10:50:07 WIB | Dibaca: 345 Kali

Merdeka.com
arade Mobil listrik buatan Indonesia di Jakarta 2013.

JAKARTA – Pemerintah berkomitmen serius dalam menuntaskan proyek membuat mobil listrik nasional. Bahkan sudah bisa pasang ancang-ancang di 2020 nanti mobil listrik nasional sudah terlahir. Pengerjaannya dikeroyok lima kampus negeri.

Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan kelima kampus itu adalah UI, ITB, UGM, UNS, dan ITS. ’’Semuanya memiliki peran atau konsentrasi beda-beda,’’ katanya di Jakarta kemarin (4/8). Dia mencontohkan di UNS yang konsentrasi pembuatan baterainya. Sementara di ITS berfokus pada rancang bangun dan mekanika mesinnya.

Nasir mengusulkan kepada UNS menggunakan baterai berbasis lithium untuk mobil listrik nantinya. Sebab dia meyakini bacteria berbasis lithium bisa menyimpan banyak tenaga dan tahan lama. Menurutnya salah satu riset yang paling lama dan butuh banyak biaya itu di komponen baterainya.

Mantan rektor terpilih Undip Semarang itu mengatakan 2019 nanti diharapkan sudah ada prototipe yang riil tentang mobil listrik nasional. Dia berharap nantinya seluruh kandungan mobil listrik itu dari dalam negeri. Namun jika belum bisa, Nasir memasang target komponen dalam negerinya sekitar 60 persen. ’’Kalau belum bisa 100 persen produk lokal, bisa dimodifikasi dengan kompoenen asing dulu,’’ jelasnya.

Nasir menegaskan sampai saat ini belum ada industri dalam negeri yang tertarik memproduksi masal mobil listrik nasional. Dia menjelaskan kondisi itu wajar, karena industri harus melihat dulu prototipenya. Kemudian juga diikuti dengan kajian pasarnya.

Pria kelahiran Ngawi, 27 Juni 1960 itu mengatakan industri pasti memiliki pertimbangan-pertimbangan jika nanti bersedia memproduksi mobil listrik. Diantaranya soal efisiensi harganya. Nasir menjelaskan mobil listrik nasional harganya harus terjangkau atau murah. ’’Canggih tetapi mahal, tidak laku,’’ tuturnya.

Kemudian juga terkait dengan kualitas mobil itu sendiri. Terkait dengan fitur-fitur tambahan, menurut Nasir sifatnya hanya pelengkap saja. Yang utama adalah bagaimana bisa menciptakan teknologi baterai yang tahan lama dan mudah atau cepat saat isi ulang.

Nasir mengatakan tahun lalu dana riset mobil listrik dikucurkan sebanyak Rp 100 miliar. Dana itu diambil dari hasil pengelolaan dana abadi pendidikan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Tahun ini Nasir mengatakan dari lima PTN yang ditugasi menggarap mobil listrik itu belum mengajukan permintaan anggaran riset tambahan. Sehingga dia tidak tahu berapa anggaran yang dibutuhkan.

Dia menjelaskan riset mobil listrik sebelumnya pernah bermasalah. Perisetnya bahkan dihukum penjara karena persoalan penggunaan uangnya. Nasir menegaskan pada riset sebelumnya itu yang keliru adalah manajemen keuangannya. ’’Sementara risetnya tidak salah. Riset sebelumnya masih butuh banyak pengembangan,’’ jelasnya.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengapresiasi adanya mobil listrik sebagai salah satu cara untuk mendongkrak demand kebutuhan tenaga listrik. "Salah satu upaya ya penggunaan mobil listik," ujar Syofvi Felienty Roekman Direktur Perencanaan PLN.

Dia menjelaskan, dalam berbagai pertemuan untuk membahas implementasi mobil listrik, telah jelas bahwa PLN memiliki tanggung jawab sebagai penyedia charging station. Nantinya, perusahaan pelat merah tersebut akan menyiapkan pasokan kelistrikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik sebagai sumber energi mobil listrik.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Andy Noorsaman Sommeng menuturkan hal senada. Keberadaan mobil listrik berkaitan dengan portofolio pemberian subsidi bagi masyarakat.

Dia mencontohkan, kondisi masyarakat menengah yang banyak menempati apartemen kebanyakan menggunakan tabung gas 3kg yang semestinya hanya digunakan oleh masyarakat yang layak mendapatkan subsidi. Kondisi itu berbeda dengan negara-negara lain yang melarang penghuni apartemen menggunakan gas dan mewajibkan penggunaan listrik sebagai sumber energi panas.

Berkaitan dengan mobil listrik, diharapkan juga bisa meningkatkan supply and demand terhadap energi listrik. "Kita jangan ketinggalan, ambil inisiatif. Ada dorongan dan instruksi Presiden untuk menyusun Perpres untuk mobil listrik," jelasnya.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Abadi Poernomo menuturkan, Kementerian ESDM saat ini sedang menyusun rencana Peraturan Presiden (Perpres) untuk percepatan pengembangan mobil listrik.

‘’Mobil listrik akan menjadi salah satu pendorong berkembangnya Energi Baru Terbarukan (EBT), pasarnya juga harus turut mendorong, tapi semua itu harus diinisiasi oleh pemerintah,’’ ujarnya di Kementerian ESDM, Jakarta, kemarin (4/8).

Selain untuk mendorong berkembangnya EBT, mobil listrik juga dinilai dapat mengurangi polusi CO2 dengan signifikan bila sudah dimaksimalkan oleh masyarakat luas. Abadi menjelaskan di negara lainnya seperti Prancis, Inggris dan India sudah mengembangkan teknologi mobil listrik sebagai pengganti mobil berbahan bakar minyak. Namun sumber tenaga dari mobil listrik diharapkan berasal dari EBT. Sebab jika berasal dari listrik yang berasal dari energi fosil maka hal itu sama saja tidak memicu pengembangan EBT.

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Rida Mulyana menuturkan, keberadaan mobil listrik digenjot agar mendapatkan berbagai manfaat. Diantaranya yakni dapat menekan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan mendukung upaya konservasi energi menjadi lebih ramah lingkungan. "Tadinya gunakan 100 liter BBM, bisa jadi nol untuk penggunaan mobil listrik," jelasnya.

Rida menjelaskan, emisi gas rumah kaca bisa menjadi turun dengan adanya mobil listrik. Menurutnya, penurunan gas rumah kaca makin rendah jika penggunaan energi untuk mobil listrik juga dihasilkan dari sumber listrik yang renewable. "Sekarang kan kita nggak tahu juga listriknya dari PLTU atau PLTB, kita kan nggak tahu. Kalau listriknya mobil listrik dihasilkan dari PLTA wah itu top," jelasnya.

Hal itu, lanjut Rida, sejalan dengan komitmen Indonesia dalam COP 21 pada bulan Desember 2016 di Paris yang kemudian dikenal sebagai Paris Agreement adalah untuk mereduksi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29 persen pada tahun 2030 (tanpa bantuan asing). Di sektor energi, komitmen untuk mendukung target tersebut diwujudkan dengan menurunkan emisi GRK sebesar 314 - 398 juta ton CO2 pada tahun 2030. "Itu yang kita kejar, salah satunya dengan menggunakan mobil listrik. Banyak manfaat yang kita dapat kalau kita pakai mobil listrik," katanya.

(wan/dee)