Tamu-Tamu dengan Persoalan Keluarga

Senin, 07 Agustus 2017 | 11:31:09 WIB | Dibaca: 573 Kali

Dahlan Iskan

Dia minta keputusan saya. Apa pun yang saya putuskan dia akan ikuti. Saya minta dia saja yang memutuskan. Ini menyangkut kehidupannya. Dia yang paling tahu. Tapi, dia terlalu bingung. Karena menyangkut ibu yang sangat dihormatinya.

Maka saya putuskan: lupakan pacarnya. Kembali bekerja. Rayulah ibunya. Agar segera menikah lagi. Tidak usah tunggu anaknya. Saya jelaskan alasan-alasan saya. Juga cara-cara meyakinkan ibunya.

Saat pamit, dia merasa lega. Masa cutinya tinggal lima hari saja.

Yang tidak kalah rumit adalah tamu kedua. Sebetulnya juga tidak rumit. Bahkan mestinya menyenangkan. Rumah tangganya rukun. Sang suami insinyur mesin. Istrinya insinyur kimia. Bekerjanya di perusahaan raksasa. Jabatannya tinggi luar biasa. Masih pula punya usaha. Bahkan beberapa.

Anaknya satu. Putri. Cantik. Genius.

Lho kan tidak ada masalah.

Saya kaget. Ternyata ada masalah besar. Punya anak terlalu pandai ternyata tidak mudah. Tidak seperti yang kita bayangkan. Atau impikan. Ayah ibunya itu ternyata luar biasa susahnya. Dan ternyata yang lebih menderita lagi adalah anaknya. Mempunyai anak superpandai ternyata tidak mudah. Padahal, saat ini banyak orang tua yang sampai memaksa anaknya agar juara. Ternyata memerlukan kriteria khusus menjadi orang tua bagi anak yang istimewa.

Saya akan menuliskan soal penderitaan anak genius ini minggu depan. Terutama bagaimana si anak ternyata merasa tidak pernah bisa dipahami oleh lingkungannya. Bahkan oleh keluarga sendiri. Suatu saat, tumben, nilai si anak tidak 100. Orang tuanya menegurnya. Si anak mendongkol. Dalam hati. Dia simpan kedongkolannya itu. Dia tidak pernah mau menjelaskan bahwa hari itu dia sengaja menjawab salah. Untuk sekadar ingin merasakan bagaimana rasanya sesekali tidak mendapat nilai 100.

Sebetulnya masih ada beberapa tamu lagi hari itu. Tamu ketiga ini juga membawa masalah keluarga. Tapi tidak perlu saya uraikan di sini. Terlalu biasa. Hanya problem sepele. Bagaimana pemuda ini terlalu dicintai istrinya. Sampai-sampai dia terlibat utang macet di beberapa bank. Dengan jaminan milik istrinya.

Kali ini dia tidak berani bicara pada sang istri. Sayalah yang diminta bicara.

Bagi saya, ini mudah. Saya tidak punya problem psikologis dengan suami istri yang belum punya anak ini. Toh saya baru kenal dia hari itu juga. Dan baru akan kenal istrinya keesokan harinya.

Alhamdulillah. Keputusan saya pun dituruti keduanya. Ini karena mereka sudah mengenal saya bertahun-tahun. Menurut perasaan mereka. Alhamdulillah. Istrinya juga bisa menerima. Toh saya tidak memutuskan untuk memisahkannya.

(*)