Ledakan di Polrestabes Surabaya

Selasa, 15 Mei 2018 - 09:54:51 - Dibaca: 524 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

BOM bunuh diri menyasar Mapolrestabes Surabaya kemarin (14/5). Empat anggota polisi dan dua warga sipil terluka akibat serangan tersebut. Lima orang terduga pelakunya yang masih satu keluarga tewas di depan pintu gerbang mapolrestabes.

Para pelaku itu yakni Tri Murtiono, Tri Ernawati, M. Amin Murdana dan M. Satria Murdana. Mereka merupakan keluarga yang tinggal di kawasan Krukah Selatan 11B, Ngagelrejo, Wonokromo.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan bahwa pelaku merupakan satu keluarga. Kejadian tersebut masih berhubungan dengan bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya dan penindakan teroris di Taman Minggu lalu (13/5). “Ini satu keluarga lagi. Yang di tiga gereja juga satu keluarga. Yang di Sidoarjo juga satu keluarga,” jelasnya.

Berdasar rekaman CCTV (Closed Circuit Television) yang sempat beredar di kalangan wartawan, tampak jelas aksi mereka terencana dengan matang. Mereka berusaha menerobos pos penjagaan namun dihadang tiga orang petugas. Selain itu, aksinya terhambat oleh mobil Toyota Avanza hitam yang juga hendak masuk ke polrestabes.

                Para pengacau itu datang dengan menggunakan dua motor. Murtiono membonceng istrinya, Ernawati di jok belakang dan Aisyah Putri di jok depan dekat kemudi dengan menaiki motor Honda Supra X warna merah bernopol L 5539 G. Sedangkan dua anak lainnya,Amin dan Satria mengendarai motor Honda Beat warna pink bernopol L 6629 MF.

                Mereka hendak merangsek masuk melalui pos penjagaan. Namun terhambat oleh mobil Toyota Avanza hitam bernopol W 1885 AZ. Para teroris berbaju koko itu lantas dihadang tiga anggota polisi bersenjata lengkap. Begitu ditanyai, bom diledakkan. Duarr !

                Potongan tubuhnya terlempar ke segala penjuru. Kaca mobil di bagian kiri pecah semua. Empat polisi bernama Bripda M. Aufan, Bripka Rendra, Aipda Umar dan Briptu Dimas Indra berusaha melarikan diri meski terkena pecahan kaca. Begitu juga dengan petugas loket tiket kendaraan.

                Suasana mencekam. Kepulan asap putih muncul. Juga, ada api yang menjilat di motor pelaku. Dentuman itu membuat seluruh anggota berhamburan menuju halaman Mapolrestabes Surabaya. Mereka mencari tahu apa yang terjadi. Sambil mengenakan rompi anti peluru.

                Tampak dalam video, Kasatreskrim AKBP Sudamiran, Kasatresnarkoba AKBP Roni Saiful Fathoni dan Wakasatintelkam Kompol Edy Kresno saling berteriak dan berusaha menolong para anggota. Juga, menolong Aisyah yang sempat berdiri pasca ledakan.

                Piti Werdiningsih, saksi, menyebut terdengar dua kali dentuman sekitar pukul 09.00. Kala itu dia baru saja sampai di kantornya di Jalan Veteran. Tiba-tiba mendengar suara ledakan. “Saya kira petir. Ternyata bom,” ucapnya.

                Karyawan perusahaan ekspedisi itu mengaku resah dengan aksi-aksi yang dilancarkan oleh para teroris dua hari terakhir. “Nggak tenang mas. Kemana-mana jadi was-was,” ucapnya.

                Seluruh perkantoran yang terletak di Jalan Veteran serentak tutup kemarin (14/5). Berdasar pantauan Jawa Pos (Induk Jambi Eksprfes), ada dua bank nasional yang memilih tutup. Sebab, mereka menilai keadaan belum aman. Terlebih, sirine mobil polisi dan ambulans saut menyaut.

                Proses penyisiran dilakukan selama hampir tiga jam. Seluruh akses jalan menuju Mapolrestabes Surabaya ditutup. Mulai dari Jalan Kepanjen, Jalan Rajawali hingga di trafficlight menuju Jalan Pahlawan. Barrier dan garis polisi dipasang melintang.

                Penjagaan super ketat tiga lapis diberlakukan. Anggota Satbrimob Polda Jatim dan Satsabhara Polrestabes Surabaya dipasang di setiap perimeter berjarak 50 meter.

                Pukul 10.06 suara megaphone menggema. Wartawan yang diminta meliput 200 meter di barat pos penjagaan mendengarkan dentuman satu kali. Ternyata, Unit Jihandak Satbrimob Polda Jatim melakukan prosedur disposal. Sebab ada satu bom yang masih aktif.

                Mapolrestabes baru bisa dinyatakan steril dan bisa dimasuki wartawan sekitar pukul 17.30. Meskipun sudah dibersihkan, aroma anyir darah di area gerbang masih tercium. Persisnya, aroma itu bercampur dengan bau cairan disinfektan.

                Loket tiket yang hancur sudah diangkut dari Mapolrestabes. Hanya palang pintu besi yang tersisa, Itupun juga sudah patah. Hingga pukul 18.00 sejumlah petugas kebersihan masih menyemprot dinding pos penjagaan dengan air.

                Dikonfirmasi secara terpisah, Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera, menjalaskan saat ini Aisyah Putri masih dalam kondisi shock. Saat ini, dia dirawat di RS Bhayangkara, Polda Jatim. “Masih di sini, sekarang, masih dalam perawatan intensif kami,” ucapnya.

                Ada beberapa luka yang dia derita. Ini didapatnya, setelah terlempar hampir 3 meter ke udara akibat hempasan bom. Luka-lukanya diantara lain, memar di beberapa bagian tubuhnya. Yang terpenting, saat ini bocah 8 tahun itu sedang mengalami goncangan psikologis. Karena melihat orang tua, dan kedua kakaknya, meninggal dunia. “Kami sudah melakukan pendampingan terhadap korban, sekaligus dua pelaku selamat yang ada di pengeboman di Sepanjang juga,” tegas perwira dengan tiga melati di pundak itu.

                Sebab, Barung menjelaskan, ketiga pelaku selamat itu merupakan saksi kunci. Tentang kasus pengeboman yang ada akhir-akhir ini. Namun, karena masih kecil, pendekatan harus dilakukan secara hati-hati. Agar tidak, membekaskan trauma yang lebih dalam lagi. “Akan kami informasikan lebih lanjut, jika ada perkembangan,” imbuh mantan Kabidhumas Polda Sulsel tersebut.

Tujuh Bulan Jadi Ketua JAD Surabaya

Polisi perlahan-lahan bisa mengurai jaringan yang meneror warga Surabaya selama dua hari terakhir. Rupanya, sel Surabaya mengembangkan sebuah hubungan keluarga yang sangat dekat.

Di antaranya adalah keluarga Dita Oeprianto, ketua JAD Surabaya yang melakukan aksi pada Minggu (13/5); Anton Ferdiantono, anggota jaringan yang tewas di rusun Sidoarjo; Budi Satrijo, wakil Dita yang ditangkap kemarin; dan Tri Murtiono, pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya.

’’Mereka sangat akrab sekali,’’ kata Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dalam jumpa pers kemarin.

’’Mereka juga kerap menyambangi sejumlah napi kasus terorisme di sejumlah lapas,’’ sambung Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin dalam kesempatan yang sama. Dita diangkat menjadi ketua JAD Surabaya setelah ketua JAD Jawa Timur ditangkap pada November 2017.

Menurut sumber di lingkungan Densus 88, keakraban antarmereka pun bahkan sampai tingkat keluarga. ’’Sampai anak-anak mereka pun saling kenal dan akrab,’’ terangnya.

Menurut dia, itu merupakan salah satu bentuk proteksi dalam sel jaringan teror mereka. Menurut sumber yang namanya tak mau disebutkan itu, sebenarnya masih ada lagi selnya. Namun, dia tak bisa mengungkapkan demi kepentingan penyelidikan.

Karena itu, tak mengherankan, ketika menggeledah tubuh Tri Murtiono yang hancur karena aksi bom bunuh dirinya di Mapolrestabes Surabaya kemarin pagi, polisi menemukan KTP Dita di saku celananya. ’’Artinya, saking akrabnya, KTP antarmereka pun bisa saling diserahkan. Untuk berbagai macam keperluan,’’ ungkapnya.

Dia lalu bercerita tentang Dita Oeprianto. Pria 47 tahun itu terlahir di lingkungan keluarga yang cukup radikal. Salah seorang sepupunya adalah anggota senior Jamaah Islamiyah. ’’Sepupunya menjadi salah satu yang ditangkap karena terkait bom Bali I pada 2002,’’ katanya. Artinya, sejak awal, Dita tak asing dengan lingkungan tersebut.

Namun, Dita baru masuk ke dalam dunia jihadi pada 2014. Tergolong telat, memang. ’’Awalnya, dia hanya alim-alim biasa. Tapi, pada 2014 itu, dia tampaknya tak puas dengan aliran yang dia yakini,’’ terangnya. Dita pun lebih ketat menerapkan gaya hidup yang diyakininya. Hingga dia bertemu dengan orang-orang Jamaah Ansharut Daulah-nya Zainal Anshori.

Hingga kemudian, dia memutuskan untuk pergi berjihad. Dia pergi ke Syria atas sponsor Zainal. Ternyata, cita-citanya kandas. Pada 2016, Turki memberlakukan pengetatan perbatasan seiring dengan semakin banyaknya pengungsi Syria yang masuk ke Turki. Dita tertahan dan kemudian dideportasi.

Ketika pulang pada 2016 itulah, Dita satu taklim dengan orang-orang yang menjadi sel-selnya. Yakni, Anton, Budi, Tri, dan sejumlah nama lain yang masih diburu. Ketika Dita pulang, Zainal mengangkatnya menjadi sekondannya.

’’Dia termasuk figur penting dalam pengumpulan dan pemberian fatwa serangan dari ISIS pusat yang disampaikan di Malang pada Desember 2016,’’ jelas petugas tersebut.

Saat itu, JAD sudah bersiap melakukan serangan. Namun, karena tergolong baru, Dita dan selnya tak dilibatkan sama sekali. Karena itu, ketika plot JAD Jawa Timur digulung polisi, sel Dita masih aman.

Kemudian, November 2017, Dita diangkat menjadi ketua JAD Surabaya secara definitif. Itu dilakukan agar sel tersebut bisa lebih cepat berkembang. Di antara seluruh anggota sel JAD Surabaya pun, tidak ada yang protes. Sebab, Dita saat itu menjadi member paling senior plus pernah berangkat ke Syria meski hanya sampai Turki.

Pelan-pelan, Dita dan anggotanya mengembangkan selnya. Untuk itu, mereka belajar dari para napi terorisme di sejumlah lapas di Jawa Timur. Di antaranya, Lapas Porong dan Tulungagung. Berguru itu termasuk juga berguru mengenai kemampuan melakukan serangan. Yang utama adalah membuat bom dan melakukan serangan.

’’Sampai sekarang, manual untuk membuat bom sudah banyak beredar di kalangan mereka. Bukan rahasia lagi,’’ imbuh sumber tersebut.

Taklim itulah yang kemudian menjadi inti kekuatan sel JAD Surabaya yang dipimpin Dita. Mereka mengembangkan hubungan baik hingga antarkeluarga. Hal itu memastikan tidak ada anggota yang berkhianat atau ada aktivitas yang bocor. Itulah yang membuat polisi sulit memantau mereka.

’’Mereka juga sudah bisa melakukan counter-surveillance (kontra pengawasan, Red). Mereka jarang pakai HP dalam berkomunikasi,’’ ungkap sumber tersebut. Dita sudah masuk dalam daftar pengawasan sepulang dari Syria.

Tanpa bisa diendus polisi, sel Dita tersebut telah membuat banyak persiapan. Ada lebih dari 30 bom pipa dan ratusan kilogram bahan peledak siap pakai. Karena itu, ketika pada Minggu (13/5) Dita melaksanakan aksi durjananya, polisi tak bisa mengantisipasi. Tiga gereja diserang dan jebol.

Polisi bereaksi cepat dan berhasil mengungkap sel Dita. ’’Tapi, yang terpojok malah melakukan serangan,’’ kata Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian merujuk pada Tri Murtiono dan keluarganya yang menyerang Mapolrestabes Surabaya.

Tito mengaku belum bisa mengungkap detail jaringan Dita tersebut. ’’Masih kami kembangkan untuk kepentingan penyelidikan,’’ tandas orang nomor satu di jajaran kepolisian Indonesia tersebut.

(fim/gal/c5/ano/mir/bin)