Arief dan Toha Dituntut 18 Bulan , Kasus Pengerukan Alur Pelabuhan Talang Duku

Kamis, 17 Mei 2018 - 08:26:59 - Dibaca: 398 kali

Google Plus Stumbleupon


TIPIKOR: Terdakwa Arief Hidayat dan Toha Maryono, saat menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Jambi, kemarin (16/5).
TIPIKOR: Terdakwa Arief Hidayat dan Toha Maryono, saat menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Jambi, kemarin (16/5). [ANDRI BRILLIANT AVOLDA]

 

JAMBI - Dua terdakwa dugaan korupsi pengerukan alur Pelabuhan Talang Duku tahun 2011, Arief Hidayat dan Toha Maryono, kemarin (16/5) dituntut selama 18 bulan penjara. Sidang digelar di Pengadilan Tipikor Jambi.

"Menuntut agar majelis hakim mengadili dua terdakwa dengan 1 tahun dan 6 bulan pidana penjara," ujar Jaksa Penuntut Umum (JPU), Shinta membacakan tuntutan.

Selain kurungan penjara, dua terdakwa juga dibebankan denda. "Serta denda sebesar Rp50 juta subsidair 3 bulan penjara," sampainya.

Namun dua terdakwa tidak dibebankan uang pengganti. Pasalnya, JPU menyebutkan jika keduanya tidak menikmati perbuatan korupsi karena hanya bertindak sebagai konsultan pengawas.

"Membebankan uang pengganti kepada terdakwa yang telah diadili sebelumnya," tuturnya.

Bahkan dua terdakwa disebut juga telah menitipkan jasa sebagai konsultan pengawas kepada JPU. "Hal itu termasuk kepada hal yang meringankan," ucap Sinta.

Perbuatan terdakwa dinyatakan telah memenuhi Pasal subsidair yang diterapkan JPU. Yakni Pasal 3 jo Pasal 18 ayat 1 huruf B Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

"Atau telah terbukti menyalahgunakan kewenangannya," ujar JPU.

Atas tuntutan ini, pihak terdakwa menyatakan akan menyampaikan nota pembelaan (pleidoi) pada Rabu (23/5) mendatang.

Sekedar mengingatkan, untuk kasus dugaan korupsi pengerukan alur Pelabuhan Talang duku ini telah duduk sebagai pesakitan dalam kasus ini. Mereka mantan Kepala Administrasi Pelabuhan Talang Duku, Belly J Picarima; Direktur PT Lince Romauli Raya, Wahyu Asoka dan Mantan Direktur Utama PT Lince, Romauli Raya serta Tonggung Napitupulu.

Seperti diketahui, proyek ini menggunakan dana APBN tahun 2011 dengan pagu anggaran Rp8 miliar. Nilai kontrak proyek tersebut Rp7,780 miliar dengan volume pengerukan 279 ribu m3. Namun pada realisasinya, proyek hanya berjalan senilai sekitar Rp1,5 miliar. Terjadi kerugian negara berkisar Rp5,392 miliar.

(aba)