Harga Kopra Terjun Bebas, Petani Mengeluh, Tunggu Solusi Pemerintah

Selasa, 22 Mei 2018 - 11:21:54 - Dibaca: 704 kali

Google Plus Stumbleupon


ANJLOK: Bongkar muat kelapa dari petani ke pengepul di Desa Teluk Majelis, Kuala Jambi beberapa waktu lalu, sebelum dikirim ke Malaysia.
ANJLOK: Bongkar muat kelapa dari petani ke pengepul di Desa Teluk Majelis, Kuala Jambi beberapa waktu lalu, sebelum dikirim ke Malaysia. / Jambi Ekspres Online

MUARASABAK - Dalam beberapa pekan terakhir, harga komuditi kelapa di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur) terus mengalami penurunan.

Meski penurunan harga secara bertahap, namum cukup membuat petani kelapa mengeluh karena semakin memprihatinkan.

Jika sebelumnya harga jual di tingkat petani perbutirnya mencapai Rp 1.300 perbutir, kini harga di tingkat petani tergerus menjadi Rp 800 perbutirnya.

Begitu juga dengan harga kopra yang sebelumnya berkisar pada angka Rp 630 ribu perkwintal, saat ini hanya diharga separohnya yakni Rp 360 ribu perkwintalnya.

Salah seorang petani kelapa di Desa Teluk Majelis, Syafri Han mengatakan, turunya harga jual kelapa saat ini membuat petani hanya bisa pasrah. Kalau tidak dijual, kelapa bisa membusuk.

‘’Penurunan ini terjadi sejak dua Minggu sebelum Ramadhan. Kita tidak tahu apa penyebabnya,’’ katanya.

Untuk harga kopra, katanya, dua Minggu  yang lalu sempat dijual dengan harga Rp 3800 perkilo, namun turun terus hingga mencapai harga Rp 3.200. ‘’Itu harga pabrik ngambil ke pengepul,’’ jelasnya.

Petani lainnya Mansyur, mengatakan, meski harga jual cukup rendah, tetap harus dijual karena kebutuhan ekonomi dan takut kelapanya busuk dan tidak dapat apa-apa.

“Mau bagai mana lagi pak, kalau tidak dijual kelapanya akan busuk dan tidak bisa dapat apa-apa. Dari pada busuk, enak dijual,” ungkap Mansyur.

Kalau untuk kelapa butiran, katanya, biaya yang dikeluarkan untuk memanenya tidak begitu banyak, tapi kalau kopra ini biaya untuk memanenya cukup banyak dikeluarkan. Mulai dari upah ngocek, upah unyungkil, sampai upah mobil untuk membawa kopra dijual.

“Kalau dihitung-hitung tidak sesuai biaya yang dikeluarkan dengan hasilnya yang didapatkan. Tapi mau bagai mana lagilah pak, untuk biaya selama bulan puasa,” tuturnya.

Senada apa yang dikeluhkan Mansyur,  Puk Ding salah seorang warga Simbur Naik ikut mengeluhkan turunya harga jual kelapa yang cukup drastis.

“Dibilang lesu pastilah bang, karena harga kelapa turun sedangkan harga kebutuhan pokok naik,”keluh Puk Ding.

Puk Ding berharap, harga jual kelapa bisa kembali naik seperti sebelumnya, agar antara kebutuhan pokok dengan penghasilan bisa seimbang.

“Mudah-mudahanlah bang harga kelape naik lagi, biak imbang dengan harga kebutuhan sehari-hari di pasar,”pukasnya.

Sementara itu, Ahtong salah seorang penampung kelapa di Nipah Panjang menuturkan, memang dalam beberapa minggu ini harga jual kelapa mengalami penurunan. Bahkan, dua hari menjelang bulan puasa harga jual kelapa mengalami penuruan yang cukup drastis.

“Dua hari mau masuk bulan puasa tadi harga kelapa kuat nian turunya,”ungkap Ahtong saat dihubungi via ponselnya.

“Kalau kelapa bulat kita beli borongan sebutirnya RP 1100, tapi kalau kita belinya milih besar kecil perbutirnya RP 1400-1500, tidak begitu nianlah turunya. Kalau kopra itu turun nian,” lanjut Ahtong

Harga kopra seblumnya berkisar diharga Rp 630,000 perkwintal, namun saat ini hanya mencapai Rp 300.000 perkwintalnya.

“Mulai mau masuk puasa harga turun terus, tidak tau juga apa penyebabnya, kalau informasinya karena pasar luar negeri. Tapi kita tidak begitu paham,” tuturnya.

Sementar itu Kabid Perdagangan Disperindag Tanjabtim Awaludin mengatakan, komuditi kelapa salah satu barang yang harganya tidak bisa diatur, karena alur niaganya pun masih antara pengusaha dengan pengusaha.

“Ini susahnya pemerintah tidak bisa intervensi harga, karena jalur  niaganya pengusaha antar pengusaha,” ungkap Awaluddin.

Mengenai turunnya harga jual komuditi kelapa, salah satu penyebabnya karena permintaan kelapa diluar negeri yang banjir. Apalagi untuk kelapa yang memasoknya bukan hanya dari Tanjabtim, tetapi dari berbagi daerah, dan ketika pasokan kelapa ini sudah berlebih di India, tentunya akan berimbas dengan harga kelapa.

“Permintaan kelapa di luar negeri banyak, tetapi pasokan dari berbagai daerah juga banyak, otomatis harganya turun, dan turunya harga komuditi kelapa sering terjadi saat musim panen, saat musim panen melimpah permintaan diluar negeri menurun,” tuturnya.

Oleh karenya, pemerintah berencana untuk mendirikan pabrik pengolahan kelapa di Tanjabtim, agar harga komuditi kelapa nantinya pemerintah bisa iku menginterpensi.

“Pemerintah sudah ada upaya untuk menegakan pabrik pengolahan kelapa, dengan adanya pabrik pengolah kelapa pemerintah bisa interpensi papan niaganya, agar pelaku usaha tidak semena-mena,”pukasnya.

(oni)