Pernah DO dari Kampus, Kini Dilirik Perusahaan Teknologi Taiwan

Dede Sumarna, Polisi Gamer dan Youtuber Samarinda Peraih Silver Play Button

Senin, 28 Mei 2018 - 10:28:42 - Dibaca: 2932 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Yang menjerat ke liang penyesalan ternyata bisa membawa ke gerbang kebanggaan. Bergantung kebijaksanaan dan niat seseorang.

BOBBY LOLOWANG, Samarinda

DEDE Sumarna tertunduk lesu segera setelah mendapat telepon dari seorang sahabat, suatu hari pada 2004 silam. Baru menempuh empat semester di salah satu perguruan tinggi Kaltim, masa pendidikan sebagai mahasiswa harus berakhir. Status drop out (DO) tak terhindarkan akibat gim mendominasi kehidupannya pada periode itu.

Dede adalah anak terakhir dari lima bersaudara pasangan Emboen Soeryana dan Fatimah. Sejak kecil, dia sudah gemar bermain gim Nintendo seperti Mario Bros. Namun, kegemarannya tersebut begitu mendapat pengawasan ayah-ibunya. “Orangtua cukup cerewet soal game. Saya dilarang bermain pas sekolah. Dibatasin hanya Sabtu-Minggu,” sebut Dede kepada Kaltim Post (Jawa Pos Grup), Selasa (22/5) malam.

Pria asli Samarinda itu melewati masa-masanya sebagai pelajar dengan keberhasilan membagi waktu antara belajar dan bermain. Pendidikan dasar dan menengah diselesaikan dalam tempo 12 tahun. Naik level sebagai mahasiswa, kedisiplinannya terusik.

Mengenal permainan personal computer (PC) ketika kuliah, Dede keranjingan menghabiskan waktu di warung internet (warnet). Hingga kecanduan itu membuat kuliahnya berantakan. DO menggagalkan mimpinya mengenakan toga. “Saya kecewa dan menyesal,” kenangnya.

Kekecewaan orangtua membuat penyesalan kian dalam. Dede tak patah arang. Dia terdorong memperbaiki keadaan. Kebetulan, sampai ke tangannya sebuah pengumuman penerimaan anggota Polri di Balikpapan. Dalam pikirnya, inilah jalan baru meraih masa depan. “Pada 2005, saya masuk polisi setelah mengikuti tes seleksi di Balikpapan,” singkatnya.

Pengalaman pahit menjadi pelajaran berharga dalam hidup. Tapi, gim terlalu sulit untuk ditinggalkan. Pria kelahiran 31 Januari 1987 itu merangkai kembali kehidupan dalam tanggung jawab baru di pekerjaan tanpa meninggalkan kegemaran. Kedisiplinan sebagai polisi, melatihnya teratur membagi waktu. Maka berjalanlah beriringan antara tanggung jawab dalam pekerjaan, keluarga, dan hobi. “Setelah bekerja, saya bisa beli PC sendiri dan bermain di rumah. Cuma untuk hiburan setelah sibuk pekerjaan di kantor, pulang main gim supaya rileks,” sebutnya.

Dede mempersunting Nia pada 2009 dan kini dikaruniai sepasang anak. Adalah Satria Nata Prawira (9) dan Anindita Putri Anaya (4). Sang anak sesekali diajak bermain namun dalam waktu dan durasi wajar. Sedangkan peran istri menjadi sangat krusial. Nia selalu menjadi pengingat Dede ketika bermain kelewat larut. Dede pun membiasakan berhenti ketika jam menunjukkan pukul 11.00–12.00 malam.

Gim memang terbukti memberi dampak negatif dalam kehidupan Dede. Namun, apa yang dicapainya kini berkebalikan dari pengalaman dulu. Kegemaran bermain gim membuka babak baru dalam hidupnya.

Dari gim, Dede iseng membuat konten di situs web berbagi video, YouTube, lewat channel-nya yang dinamai Omsenanggamer27. Aktivitasnya memainkan Dota, Grand Theft Auto 5, hingga PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG), tak jarang disiarkan secara live streaming di platform tersebut. Keisengan pun mendatangkan berkah. Tiap videonya ditonton rata-rata lebih 20 ribu orang.

Dari game, Dede melebarkan sayap ke konten video blog (vlog). Tayangan tersebut berisi kesehariannya sebagai polisi. Misi khusus Dede adalah mengubah citra polisi yang angker dan disegani, menjadi lebih menghibur dan atraktif. Reaksi positif didapat dari para penontonnya.

Bulan lalu, jumlah subscriber-nya baru 15 ribu akun. Namun, sejak itu, popularitasnya melejit. Iseng bermain sebuah aplikasi chat video secara acak, Ome TV, Dede kepikiran menjadikannya konten video. Penampilannya yang lengkap dengan seragam polisi, membuat Dede begitu mencolok dan unik. Reaksi warganet yang dijumpainya di Ome TV pun kerap mengundang gelak tawa. Sebagian besar ketakutan dan kaget melihat Dede dengan atribut polisi.

“Internet zaman sekarang bebas. Banyak omongan agak kasar di video chat. Namun begitu terlihat saya pakai baju dinas, mereka kaget dan kabur,” jelas pria berkumis itu. Dede tak menyangka kontennya bisa viral dan masuk daftar trending. Bahkan, aksinya sempat disiarkan salah satu stasiun televisi swasta nasional.

Jika sebelumnya maksimal puluhan ribu penonton, dari konten video chat tersebut Dede mendulang ratusan ribu tayangan. Video Ome TV pertama yang diunggahnya pada 19 Maret 2018, mendapat 665 ribu tontonan. Sedangkan views tertingginya adalah video berjudul “Ketemu Kids Zaman Now di Ome TV Auto Ciduk” yang diunggah 24 Maret 2018.

Salah satu bagian mencolok dari video tersebut adalah pertemuan dengan istrinya yang di luar dugaan juga memainkan Ome TV. Hingga kemarin, video tersebut sudah ditonton 856 ribu kali dengan 23 ribu likes.

Segala pencapaian itu, membuatnya menorehkan eksistensi baru di YouTube. Dua pekan lalu, subscriber-nya mencapai angka 100 ribu. Dan atas keberhasilan tersebut, Dede mendapat penghargaan Silver Play Button oleh platform tersebut. Paket dari Amerika Serikat (AS) sampai ke genggamannya pada Selasa lalu.

Sesuai namanya, Silver Play Button adalah piagam dengan bentuk icon play YouTube, terbuat dari perak murni, diberikan kepada siapa pun pemilik channel dengan pencapaian 100 ribu subscriber.

Piagam tersebut diterima Dede 10 hari sejak notifikasi dari YouTube masuk ke surat elektronik miliknya. Durasi 10 hari tersebut terdiri dari perjalanan berliku mulai AS, Korea Selatan, dan Singapura sebelum sampai di Tanah Air. “Saya enggak menyangka dan memang tak berharap. Saya bermain YouTube untuk menghibur. Saya juga kaget mendapat reaksi yang begitu antusias lewat channel ini,” sebutnya.

Keisengan kini benar-benar jadi berkah. Dari kontennya di YouTube, Dede mendapat pemasukan tambahan sekitar Rp 3–4 juta yang dicairkan setiap tanggal 21. Popularitasnya sebagai gamer juga menjadi daya tarik bagi sponsor. Dede kini sedang tahap pembicaraan dengan perusahaan teknologi asal Taiwan untuk endorse bernilai puluhan juta rupiah. “Dari YouTube pendapatan yang diterima memang bertahap. Dari masih 10 ribuan subscriber, saya menerima USD 20, hingga sekarang USD 200 sampai USD 300,” urainya.

Dari pemasukan tersebut, Dede makin giat membuat konten. Bertambah pula modalnya memperkuat sajian. Dapur pacu PC-nya yang dulu Rp 2 jutaan, kini menggunakan prosesor Intel Corei5 Generasi ke-5, GeForce GTX 1060 Graphics Cards sebesar 6 GB, dengan RAM Avexir Core sebesar 16 GB.

Spesifikasi tinggi memang sudah tuntutan ketika seseorang berkutat editing dan rendering video. Faktor itu pula yang membuatnya merasa perlu menggunakan SSD 256 GB dan hard disk 1 terabyte. Jika ditotal, PC rakitannya bernilai lebih Rp 30 juta, termasuk webcam Logitech C525 resolusi 720p.

“Untuk kemampuan editing video, saya dapatkan secara autodidak menggunakan Adobe Premier Pro. Semuanya saya pelajari dari YouTube. Siapa saja sekarang bisa melakukan apapun asal mau belajar,” imbuhnya.

Pria yang juga pengajar pramuka di Saka Bhayangkara itu kini menyandang pangkat brigadir dan bertugas di Polsekta Samarinda Kota. Sebagai Bhabinkamtibmas, dia rutin menjalankan sosialisasi bahaya kebakaran hingga masalah narkoba ke kalangan masyarakat sampai sekolah-sekolah di Kelurahan Bugis.

Dia menyadari identitasnya sebagai polisi berpengaruh terhadap pencapaiannya di dunia maya saat ini. Apalagi, sebagian besar videonya dibuat ketika masih mengenakan atribut lengkap. Soal itu, Dede punya pertimbangan.

Menurut dia, selama masih berbuat pantas dan tak mencemarkan institusi Polri, yang dilakukannya sah-sah saja. Pimpinannya di Polsekta Samarinda Kota juga diklaim memberi dukungan. Lebih-lebih, selama ini mengemuka polisi yang unjuk gigi di dunia hiburan mulai stand up comedy hingga kontes dangdut. “Dalam hal ini, saya ingin menunjukkan bahwa polisi juga punya hobi yaitu bermain gim,” tutupnya.

(rom/k8)