Diduga Balasan Atas Perlakuan Serupa Pemerintah Indonesia

Israel Boiktot Warga Berpaspor Indonesia

Kamis, 31 Mei 2018 - 09:42:28 - Dibaca: 1072 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA - Kebijakan Pemerintah Israel melarang Warga Negara Indonesia (WNI) masuk ke wilayahnya disayangkan pemerintah. Pasalnya, di kawasan yang diklaim sebagai wilayah negara zionis tersebut terdapat kota suci maupun tempat-tempat suci milik banyak agama. 

Larangan ini berlaku efektif setelah 9 Juni nanti sampai batas waktu yang belum ditetapkan. Pemerintah Israel masih mentoleransi kunjungan sampai 5 Juni. Larangan ini berlaku untuk perorangan maupun grup atau rombongan.

Menteri Agama Lukman Hakim Syarifuddin mengatakan, pihaknya belum mendapat penjelasan atau informasi utuh terhadap persoalan itu. Namun jika benar-benar diberlakukan, kebijakan itu akan merugikan para WNI yang ingin berziarah.

"Karena Jerusalem kota suci beberapa agama. Sementara banyak umat beragama dari indonesia yang juga ingin ke Baitul Maqdis, beberapa tempat yg dianggap suci sebagai bentuk peribadatan," ujarnya di Kantor Kepresidenan, Jakarta, kemarin (30/5).

Oleh karenanya, dia berharap Israel mengoreksi dan membatalkan kebijakan tersebut. Menurutnya, Kota suci berbagai umat beragama di Jerusalem berhak untuk dikunjungi pemeluknya dan tidak disangkutkan dengan persoalan politik.

Namun demikian, dia belum bisa menjelaskan terkait upaya apa yang akan diambil pemerintah Indonesia, khususnya terkait nasib para peziarah. Dia akan berkoordinasi lebih dahulu dengan jajaran Kementerian Luar Negeri. "Saya harus berkoordinasi dengan bu Menlu dulu," kata politisi PPP itu. 

Pengamat Timur Tengah Smith Alhadar menjelaskan kebijakan Israel itu balasan kebijakan pemerintah Indonesia. Dia mengatakan beberapa waktu lalu, pemerintah Indonesia juga melarang warga berpaspor Israel masuk ke wilayah Indonesia. "Masalahnya warga Indonesia butuh Israel. Karena kunjungan ke Israel kebanyakan urusan ibadah. Sementara kunjungan Israel ke Indonesia liburan," katanya kemarin.

Smith menceritakan kronologi merenggangnya hubungan Israel dengan Indonesia itu. Meskipun selama ini kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, namun secara diam-diam warga kedua negara saling berkunjung. Termasuk Dubes Israel yang ada di Singapura, menurut dia juga kerap datang ke Indonesia.

Nah Smith menjelaskan beberapa waktu lalu santer dikabarkan bahwa kedua berinisiatif meningkatkan hubungan diplomatik. Kabar ini kemudian santer diberitakan media-media di Israel. Lalu kabar tersebut dikutip media di Indonesia. "Niat positif kedua pemerintah itu lantas mendapatkan respon negatif dari rakyat Indonesia," jelasnya.

Akhirnya pemerintah membatalkan rencana meningkatkan hubungan diplomatik itu. Apalagi isu keagamaan di Indonesia sangat sensitif. Kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan berkunjung bagi warga Israel. Untuk menegaskan sikap bahwa pemerintah Indonesia "tidak bersahabat" dengan Israel.

Senada dengan Smith, dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Teuku Razasyah mengatakan sikap Israel itu merupakan jawaban atas ketegasan pemerintah Indonesia menolak kedatangan warga Israel ke Indonesia. "Penolakan Indonesia dipicu perilaku Israel di tanah Palestina. Yang tidak sejalan dengan asas perikemanusiaan dan resolusi PBB," katanya.

Razasyah lantas mengatakan kebijakan Israel menutup akses kunjungan warga Indonesia itu jelas berdampak pada program wisata rohani di Indonesia. Selama ini program wisata rohani beberapa agama di Indonesia, menyertakan Israel sebagai salah satu titik yang dikunjungi.

"Sebenarnya masih ada titik temu," jelasnya. Harapan Israel adalah pemerintah Indonesia melunak. Dan mengizinkan warga Israel datang ke Indonesia, meskipun dalam taraf terbatas jumlahnya. Misalnya terbatas untuk wisata, misi budaya, serta pertukaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Walaupun kedua negara tidak punya hubungan diplomatik, namun jalan tengah berbasis rohani atau keagamaan bisa diusahakan," jelasnya. Upaya memperbaiki hubungan ini sebaiknya tanpa melibatkan publik di dalam negeri masing-masing. Dia berharap Kemenlu sesuai dengan kewenangannya segera merespon kebijakan Israel tersebut.

Sayangnya sampai tadi malam jajaran Kemenlu belum bersedia mengomentari kebijakan Israel tersebut. Jawa Pos  (Induk Jambi Ekspres) sudah berusaha menghubungi juru bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir tetapi belum ada balasan.

Pelarangan secara tiba-tiba oleh pihak Isrel membuat beberapa biro travel kelimpungan. Beberapa biro travel yang dihubungi Jawa Pos was-was dan berharap agar pelarangan itu bisa segera dicabut. ”Kami punya rombongan VIP yang akan berangkat tanggal 10 Juni. Padahal pelarangannya mulai 9 Juni,” ujar seorang agen biro travel di Jogjakarta yang dihubungi Jawa Pos, siang kemarin.

Perempuan itu mengungkapkan bahwa pelarangan itu datang tiba-tiba. Dia sendiri tahu pelarangan itu pada Selasa malam. Hingga kemarin dia masih berharap pelarangan itu bisa dicabut dan bisa memberangkatkan rombongan yang sudah membayar hingga USD 2.700 untuk perjalanan tiga negara itu.

”Perhari ini (kemarin, Red) sebenarnya sedang diperjuangkan agen Israel. Antara Mesir, Israel, Jordan itu sedang diperjuangin hari ini supaya keputusan itu di cancel,” ujar dia. Lantaran pada Juni hingga Juli itu termasuk dalam peak season wisatawan dari Indonesia. Mereka pun berharap pelarangan itu hanya bersifat sementara saja. Tidak sampai pelarangan selamanya.

”Isunya karena kita ngebanned Israel disini, government kita mengebanned  Israel yang mau datang ke sini. Lalu mereka membales Indonesia kesana,” kata dia. Dia pun lantas menawarkan bisa mendaftar pada November dengan harapan larangan itu sudah dicabut.

Biro travel lain di Jakarta juga mengalami hal serupa. Sebuah biro travel di Jakarta Barat tersebut menyanggupi untuk bisa didaftarkan ikut rombongan pada pertengahan Juli. Lantaran untuk pengurusan visa setidaknya selama 30 hari sebelum keberangkatan. 

”Bulan Juni ini kemarin infonya ada larangan. Tapi makanya saya bilang saya tampung dulu untuk Juli. Dari pihak tour Israel dan Indonesia sendiri sedang menghadap hari ini. Semoga ada titik terangnya,” kata dia.

Agen tersebut lantas menawarkan untuk membayar uang muka terlebih dahulu sebesar Rp 7 juta. Total biaya untuk tour ke Israel sekitar Rp 32 juta perorang untuk tour selama 12 hari. ”Kalau benar-benar tidak bisa berangkat DPnya nanti kami kembalikan semuanya,” kata dia.

(far/wan/jun)