Obah Owah jadi yang Terbaik, Yogyakarta Juarai FOT Edisi XI

Senin, 09 Juli 2018 - 10:19:07 - Dibaca: 626 kali

Google Plus Stumbleupon


LANGSUNG JUARA: Olahraga tradisional Obah Owah yang ditampilkan kontingen Propinsi D.I Yogyakarta di Festival Olahraga Tradisional (FOT) tingkat nasional edisi ke-XI  di Jambi membuat mereka menyabet gelar juara I
LANGSUNG JUARA: Olahraga tradisional Obah Owah yang ditampilkan kontingen Propinsi D.I Yogyakarta di Festival Olahraga Tradisional (FOT) tingkat nasional edisi ke-XI  di Jambi membuat mereka menyabet gelar juara I / Jambi Ekspres Online

JAMBI – Festival Olahraga Tradisional (FOT) tingkat nasional edisi ke-XI telah menasbihkan Propinsi D.I Yogyakarta sebagai juara. Pada event nasional yang diadakan di Jambi pada 7 hingga 8 Juli ini sendiri, Yogyakarta mengusung olahraga tradisional dengan nama Obah Owah. Menariknya ini adalah gelaran FOT pertama yang diikuti oleh Propinsi istimewa ini.

Joko Mursito salah satu perwakilan dari Kontingen ini menyampaikan kebahagiaannya atas kemenangan yang telah diraihnya. “Ya, memang baru pertama kali, dan pasti senang karena kami benar-benar mengangkat tradisi daerah. permainan ini berasal dari pedesaan kemudian diangkat ke tingkat nasional dan Alhamdulillah menjadi yang terbaik,” ujarnya saat dibincangi Koran ini (8/7).

Dikatakan Joko, Permainan obah owah ini tepatnya berasal dari wilayah pedesaan Kulon Progo, Yogyakarta. Obah owah sendiri memiliki makna dimana obah yang berarti bergerak, dan owah yang artinya berubah. “Jadi maknanya setiap ada pergerakan pasti akan terjadi perubahan sehingga di dalam permainan itu tadi wasit memberi aba-aba berhenti kemudian dia mengatakan oah semua bilang oah, itu sudah bergeser semua karena mereka semua mengincar sasaran,” papar Joko. Nantinya  sasaran yang dimaksud dalam permainan ini adalah berupa seuntai padi. “Dengan cara bergerak. Terus berhenti, bergerak lagi itu akan berubah maka kemuadian dinamai obah owah,” jelasnya.

Permainan ini biasanya dilakukan oleh muda-mudi ataupun anak-anak petani di kampung-kampung di wilayah kulon progo  setelah panen raya. Biasanya dimainkan pada peringatan-peringatan hari besar, seperti pada peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus dan hari jadi lainnya.

Setelah memenangkan pagelaran ini, Joko mengharap olahraga tradisional daerahnya ini bisa di format ulang , guna menjadikan sebuah olahraga. “Maka harus ada ketentuan tentang aturan main kemudian lapangan, ada wasitnya, ada skor, ada sanksi, dan lain-lain” ungkapnya.

Menurut Joko kemenangann daerahnya ini dikarenkan, sudut pandang Juri yang menganggap nilai-nilai penting seperti nilai kedisiplinan, nilai keikhlasan, sportifitas, kemudian nilai kebersamaan, dan kerja sama begitu kentara dalam olahraga ini.

          Sementara untuk Provinsi Jambi yang mengirimkan empat wakil kabupaten dalam event ini harus rela duduk diluar tiga besar. Jambi yang mengirimkan Kabupaten Batanghari sebagai juara dari gelaran FOT tingkat Propinsi , ditambah dengan Kabupaten yakni Tebo,Bungo dan Tabjabtim. Sebenarnya ada lima kabupaten tetapi Sarolangun dan Merangin mundur karena keterbatasan anggaran. Jika ditotal artinya event ini hanya diikuti 24 kontingen ajang kaliber nasional ini. 

Deputi III Pembudayaan Olahraga Kemenpora Raden Isnanta yang langsung membuka pagelaran ini menyampaikan estafet yang diberikan pemerintah pusat diyakini akan sukses digelar di Jambi. Gelaran FOT ini di Provinsi Jambi nantinya akan dibarengi dengan gelaran  Liga Santri Nusantara tingkat Provinsi JAmbi. 

“Semoga olahraga tradisional menjadi budaya, karena olah raga tradisional olahraga yang belum populer mari kita gelorakan agar dikenal diseluruh penjuru,” sebutnya.

Latar belakang diadakannya olahraga ini, sebutnya,  berangkat dari riset 20 persen orang tua yang arahkan olahraga tradisional. Dengan artian orang tua ikut berpartisipasi. “Kita gali yang kurang populer , yang punah akan kita hidupkan kembali,” pungkasnya.

(mg1/mg5/aba)