500 Desa Dapat Pinjaman Bank Dunia, Model Dana Desa Jadi Contoh Luar Negeri

Senin, 09 Juli 2018 - 10:32:36 - Dibaca: 827 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

GIANYAR - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) membawa 500 proposal berisi showcase pembangunan dengan Dana Desa (Desa) untuk mendapatkan pinjaman Bank Dunia.

Menteri Desa dan PDTT Eko Putro Sandjojo mengungkapkan, perwakilan Bank Dunia sudah menerima 500 proposal tersebut dan kini tengah melakukan evaluasi. "Semoga dana 1 hingga 2 bulan kedepan, sudah ada hasilnya," katanya di Gianyar, Bali sabtu malam (7/7).

Jika proposal diterima, Eko mengatakan bahwa tiap-tiap desa tersebut akan mendapatkan tambahan dana berupa pinjaman sebesar Rp. 200 hingga Rp. 1 miliar rupiah tergantung kebutuhan proyek yang diajukan.

Tentu saja, kata Eko, ada beberapa kriteria yang ditetapkan oleh Bank Dunia agar proposal diterima. Program yang diajukan oleh desa harus punya impact langsung pada pertumbuhan ekonomi desa. Juga manfaat-manfaat lain yang tak kalah penting.

"Misalnya programnya bisa mencegah stunting atau bisa menanggulangi persoalan sampah," jelas Eko.

Usulan yang masuk bervariasi, ada yang ingin mengembangkan diri sebagai desa pariwisata, ada yang ingin mengembangkan produk unggulan seperti kopi.

Belum ditentukan berapa lama masa pinjaman tersebut. Tapi Eko mengatakan pinjaman dunia masanya relatif panjang. "Tentu akan dievaluasi dalam jangka panjang penerapan programmnya," jelasnya.

Selain Bank Dunia, konsep DD sudah mulai mencuri perhatian dunia. Beberapa lembaga internasional seperti Food And Agricultural Organization (FAO) milik PBB. "Team dari Malaysia juga sedang mempelajari model pembangunan DD ini," katanya.

Selain itu, masih ada dunia usaha yang juga semakin tertarik berinvestasi di desa. Tahun ini, Kemendes menghitung nilai total investasi sebesar Rp. 47 Triliun. "Saya yakin nilainya akan terus bertambah,"jelas Eko.

Selain perusahaan lokal, perusahaan dari luar negeri juga terus menanamkan modalnya di desa-desa. Saat ini kata Eko beberapa perusahaan dari Korea Selatan sedang berinvestasi untuk membangun infrastruktur paska panen berupa chip kayu di Sumbawa. "Nilainya mencapai 200 juta US Dollar," kata Eko.

(tau)