Petahana Bisa Terganjal, PKPI Tak Pasang Caleg Untuk Senayan

Rabu, 15 Agustus 2018 - 08:30:23 - Dibaca: 1344 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAMBI - Genderang perebutan 8 kursi DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Jambi tidak kalah sengit pada Pemilu 2019 mendatang. Buktinya masing-masing partai politik memasang calon kuat untuk menempatkan wakilnya pada kursi dewan  terhormat di Senayan tahun depan.

Berdasarkan daftar calon sementara (DCS) yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum Repiblik Indonesia (KPU RI), beberapa nama basar mengisi barisan di sejumlah Parpol. Selain petahana, sebagian diantara mereka merupakan mantan kepala daerah yang sebelumnya pernah memegang pengaruh.

Ada nama mantan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) yang dijagokan Golkar serta Sudirman Zaini mantan Bupati Bungo dan Hamdi Wakil Bupati Tebo yang dipasang NasDem. Namun, langkah mereka juga belum bisa mulus,  HBA misalnya mendapatkan pesaing berat yakni petahana   Saniatul Lativa dan Sudirman Zaini serta Hamdi bakal bersaing dengan Agus Roni, Ketua DPW NasDem Provinsi Jambi.

Begitu pula dengan Demokrat, mengusulkan dua nama baru yang memiliki sumber daya besar seperti Cornelis Buston dan Zainal Abidin. Kedua nama ini bisa mengganjal dan menjadi ancaman untuk petahana Zulfikar Ahmad.

PDI Perjuangan juga menyusun skema rapi untuk mendulang suara. Hanya saja, satu kursi yang sebelumnya digengam Ihsan Yunus masih krusial karena ada nama Chumaidi Zaidi, Tafyani Kasim dan Yopi Mutholib.

Gerindra juga memiliki potensi besar. Nama ketua DPD Gerindra Sutan Adil Hendra diapit Murady Darmansyah dan

Yanti Maria. Berikutnya PAN yang memasang petahana H. Bakri bakal berebut dengan para politisi muda seperti Dipo Ilham Djalil dan Jefri Hutagalung. (selengkapnya lihat grafis)

       Pengamat politik Jambi, Jafar Ahmad mengatakan pertarungan sengit antara kandidat dewan bakal tersaji pada Pileg tahun depan. Terutama DPR RI, setelah melihat komposisi yang di persipakan partai politik.

       Menurut Jafar, persaingan itu terutama terjadi di internal partai. Misalnya HBA yang diusung Golkar akan beradu kuat dengan Saiatul Lativa. “Jadi pertarungan itu dalam satu partai. Siapa yang memperoleh suara terbanyak, dialah pemenangnya,” ujarnya.

       Begitu pula dengan Gerindra, Sutan Adil Hendra mendapatkan pesaing kuat seperti Muradi Darmansyah yang sebelumnya pernah menjadi anggota DPR RI. Sehingga, apa yang dilakukan Sutan Adil harus mampu diimbangi oleh  Muradi Darmansyah selaku penantang.

       “Murady kalau ingin menang harus bisa mengimbangi gaya bermainya Sutan Adil. Begitu juga dengan PAN, Dipo harus bisa maksimal setidaknya bisa setingkat dengan Bakri,” katanya.

       Apalagi, kata Jafar, peluang partai untuk mendapat dua kursi parlemen sangat kecil. Karena kekuatan Caleg yang maju hampir merata dan memiliki kantung suara masing-masing. “Beda dengan dulu, misalnya PAN pernah dua kursi karena memang Zulkifli saat itu habis-habisan,” sebutnya.

Namun demikian, dari kacamatanya, peluang dua kursi berada di partrai Golkar. Itupun jika figure Hasan Basri Agus masih diterima di masyarakat ditambah dengan mesin Saniatul Lativa yang tidak lain merupakan istri Bupati Tebo Sukandar.

“Kalau dipartai lain, saya pikir hanya satu kursi. Kemungkinan saja dengan sistim sekarang kursi kedelapan bisa diperoleh Golkar,” katanya.

Sementara itu, untuk kursi DPR RI Senayan, PKPI tidak mengirimkan wakilnya untuk bertarung. Begitu juga dengan Garuda yang hanya memasang dua jagoaanya.

(aiz)