Hasil Penelitian Arkeolog UI di Lambur

Berwujud Kapal Layar Kuno

Senin, 12 Agustus 2019 - 09:59:32 - Dibaca: 4130 kali

Google Plus Stumbleupon


PENELITIAN: Penggalian bangkai kapal yang diduga berbentuk kapal layar kuno di Desa Lambur, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjabtim. Arkeolog UI hingga kini masih melakukan penelitian terkait hal ini
PENELITIAN: Penggalian bangkai kapal yang diduga berbentuk kapal layar kuno di Desa Lambur, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjabtim. Arkeolog UI hingga kini masih melakukan penelitian terkait hal ini [MAULANA/JAMBIEKSPRES]

Menggunakan Perekat dari Pasak Kayu

MUARASABAK – Arkeologi Universitas Indonesia (UI) menyebutkan keberadaan Perahu Kuno di Desa Lambur yang berada di Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjun Jabung Timur (Tanjabtim) adalah berbentuk Kapal Kuno. Ia memprediksikan bahwa, Kapal Kuno tersebut memiliki panjang mencapai 17 meter dan lebar 5 meter.

Menariknya, perkembangan penelitian yang dilakukan, berdasarkan referensi penelitian ditahun 1997 lalu telah ditemukan potongan papan yang akhirnya diidentifikasi sebagai Perahu Kuno. Namun belakang ini, ternyata ukurannya besar sekali dan lebih tepat disebut Kapal Kuno. Ia beranggap, kalau Perahu identik dengan didayung, sedangkan yang ditemukan sekarang bisa jadi menggunakan layar.

"Jadi cukup besar sekali. Oleh karena itu, penggalian atau ekskavasinya kita lebarkan. Karena kalau seandainya perahu, mungkin bisa lebih cepat penelitiannya, karena ini besar. Mungkin akan memakan waktu yang lebih lama,” sebutnya, ketika diwawancara diarea penelitian.

Ia menjelaskan, untuk bagian yang baru digali dan dibuka saat ini, belum bisa diindentifikasikan. Tetapi sudah bisa dikatakan kalau bagian itu merupakan bagian dari atas dari Perahu yang berbentuk tempat orang mondar mandir.

 

"Nah, ini yang sudah mulai kita ketemu (sisi pinggir kapal), baru ditemukan sebelah (satu). Ini beda sekali dengan jenis-jenis Perahu yang kita jumpai di ilir mudik di sungai. Kalau perahu yang ilir mudik di sungai itu memiliki lambung langsung dan lunas dibawah satu. Kalau Perahu Kuno atau Kapal Kuno yang kita jumpai ini, sisi tepinya bisa dibuat orang mondar mandir yang ukurannya besar pada waktu itu,” jelasnya.

Untuk sementara, lanjutnya, prediksi dari kapal tersebut disatu sisi kiri berukuran lebar 1,5 meter, sisi kanan 1,5 meter dan minimal lebarnya 5 meter.

"Kalau panjangnya berdasarkan penilitian tahun lalu itu sekitar 14 meter. Tetapi dengan lebar sekarang, proposionalnya maka berkemungkinan bisa mencapai 17 meter,” lanjutnya.

Kemudian ia memaparkan, disaat penelitian berlangsung ditemukan juga dua pecahan tembikar yang cukup kuno pada bagian perahu tersebut. Kekunoan ini memang mirip dengan perahunnya, karena perahu ini disusun tanpa menggunakan besi atau hanya menggunakan bilah. Sedangkan papannya hanya disambung atau direkatkan dengan pasak yang terbuat dari kayu.

"Kita menjumpai banyak sekali pasak. Tehnik ini dikenal sebagai tehnik pembuatan Kapal Asia Tenggara. Kenapa disebut demikian, karena tehnik ini juga dikenal di Negara Malaysia, Thailand, Fhilipina dan Sumatera Selatan,” paparnya.

 

Lebih jauh ia mengatakan, kalau budaya maritim sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, bahkan cara membuat kapalnya sudah mirip pada waktu itu, karena belum mengenal dengan besi untuk pembuatan pasak Perahu atau Kapal. Bahkan termasuk juga kapal karam yang ditemukan didaerah Cirebon dan Perahu Kuno di Rembang (Daerah Jawa). Tehnik pembuatannya menggunakan istilah tehnik ikat yang telah dikenal oleh masyarakat di Asia Tenggara di Abad ke 2 (dua) masehi sampai dengan sekitar Abad 12 masehi.

"Jadi rentang waktunya sangat panjang sekali. Kita belum tahu Kapal atau Perahu ini direntang waktu yang mana. Oleh karena itu, segera kita bawa sample kayu yang sudah beberapa yang copot atau patah untuk di uji karboneting, uji pertanggalan absolut, dan nanti akan ketahuan," ungkapnya.

Misalnya, perahu yang di Rembang itu, sample ijuknya dibawa ke laboratorium itu usianya ternyata di Abad ke 7 sampai ke Abad ke 8 masehi. Perahu atau Kapal Kuno di Cirebon kapal karam itu juga periodenya sekitar itu. Dia tidak tahu yang ini (perahu kuno lambur), apakah dia periode itu atau sebelumnya atau setelahnya.

"Tetapi yang menarik adalah, Perahu atau Kapal Kuno ini besar sekali jika dibandingkan dengan periode itu. Lebih menarik lagi adalah, lokasi tempat penemuan Perahu ini sekarang disebut Lambur, tetapi nama Kuno yang sebenarnya dan masih digunakan oleh masyarakat adalah Sabak,” katanya.

Ia mengungkapkan, kalau Sabak atau Zabak itu sudah dikenal dan disebut oleh para pedagang Arab, para Pelancong dan para Musafir sejak Abad 7 atau mungkin lebih tua lagi. Jadi, Zabak ini merupakan pelintasan yang sangat ramai sebenarnya.

"Mungkin ini bisa kita sebut Kapal Zabak,” ungkapnya.

Karena jenis temuan ini materialnya terbuat dari kayu, maka untuk melakukan penelitiannya memakan waktu yang cukup panjang dan tidak bisa cepat.

”Kita pelan-pelan sekali, karena kayu itu rentan. Memang material kayunya itu pada zaman dulu yang sangat keras sekali, tetapi karena sudah masuk kedalam air sekian lama, maka ketika terbuka dan terpapar matahari dia cepat lapuk. Oleh karena itu, kita tidak bisa buru-buru. Dan direncanakan kita sampai bulan Oktober atau mungkin sampai November,” ujarnya.

Untuk sementara, ulasnya, perahu tersebut akan ditampakkan beberapa titik saja, belum diangkat. Karena jika diangkat memiliki resiko rusak yang cukup besar sekali.

"Jadi nanti dibuka dulu (tanahnya disingkap) kemudian direkam atau di foto sambil lihat kondisi kayunya. Jika memungkinkan dipindah, akan dipindah atau bisa juga kita bikin semacam tembok disekeliling. Dan rencana penanganannya nanti oleh kawan-kawan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dari Provinsi Jambi,” ulasnya.

"Target sekarang adalah mencari lebarnya kapal, setelah itu salah satu ujung yang dibagian Barat kita coba. Dan minggu depan kita arahkan ke arah Timur untuk mencari ujung yang satu lagi. Dan strateginya agak lengkap atau jarang. Jadi setelah kita temu ujung ke ujung, baru kita pelan pelan membuka semuanya, mungkin,” tukasnya. (lan)