Trend ISPA Terus Meningkat, Karhutla Masih Terjadi

Asap Pekat, Udara Tak Sehat

Rabu, 11 September 2019 - 12:10:03 - Dibaca: 373 kali

Google Plus Stumbleupon


TAK SEHAT-Kabut asap masih menyelimuti Kota Jambi, Selasa (9/9). Warga dihimbau untuk mengurangi aktivitas diluar rumah dan siswa SD, SMP, serta SMA/MSK sudah diliburkan.
TAK SEHAT-Kabut asap masih menyelimuti Kota Jambi, Selasa (9/9). Warga dihimbau untuk mengurangi aktivitas diluar rumah dan siswa SD, SMP, serta SMA/MSK sudah diliburkan. / Jambi Ekspres Online

JAMBI-Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Jambi semakin hari, semakin mengkhawatirkan saja.

Beberapa daerah, seperti Kota Jambi sudah mengambil kebijakan meliburkan siswa mulai dari jenjang SD hingga SMP.

Ini tentu dilakukan agar siswa-siswa tidak terserang berbagai penyakit akibat bencana asap ini.

Di Kota Jambi misalnya, berdasarkan data Air  Quality Monitoring System (AQMS) kualitas udara masih berfluktuasi dari tidak sehat hingga berbahaya.

Data realtime Dinas Lingkungan Hidup kota Jambi menunjukkkan bahwa pada (9/9) malam pukul 20.00 WIB Parameter PM2.5 nilai 746, di atas baku mutu, Kategori Berbahaya. Sementara Selasa pagi (10/10) pukul 10.30 WIB Parameter PM2.5 nilai 202 diatas baku mutu,  kategori sangat tidak sehat.

Dampak dari pekatnya asap di kota Jambi terjadi peningkatakan warga yang terserang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Penderita ISPA pada Juli 2019 sebanyak 9.316 kasus, Agustus hingga 10 September 11.251 kasus.

Pun dengan beberapa kabupaten tetangga seperti Tanjab Timur dan Batanghari, angka penderita ISPA juga meningkat mencapai ribuan kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jambi Ida Yuliarti, mengatakan, pasien yang terserang ISPA ditandai dengan batuk, pilek, serta sesak nafas. Penderitanya juga menyerang anak-anak, hingga usia tua.

‘‘Tapi rata-rata banyak orang tua yang terserang ISPA,’‘ kata Ida, Selasa (10/10).

Ida juga meminta agar  warga mengurangi aktifitas  di luar rumah. Menurutnya jika memang harus keluar rumah, maka warga diminta menjaga kesehatannya dengan menggunakan masker.

‘‘Banyak makan buah dan sayur, serta minum air putih sehingga tubuh tetap menerima nutrisi,’‘ imbuhnya.

Selain infeksi saluran pernapasan, dampak jangka panjang dari pekatnya asap saat ini bisa menimbulkan infeksi paru. Terus juga dari makanan yang terbuka, juka dimakan bisa menyebabkan diare dan berpengaruh pada saluran cerna. Selain itu untuk yang alergi debu akan menyebabkan kambuhnya asma.

‘‘Harus banyak minum air putih, selalu gunakan masker saat diluar rumah,’‘ jelasnya.

Upaya penanganan sebut Ida, pihaknya sudah menekankan kepada seluruh puskesmas dan rumah sakit Pemerintah Kota Jambi, mematuhi maklumat yang telah dikeluarkan Walikota Jambi beberapa waktu lalu.

‘‘Penangan korban dampak kabut asap gratis,’‘kata Ida.

Sementara itu, Wakil Walikota Jambi dr Maulana mengatakan, bahwa partikel debu lebih pekat terjadi pada malam hari. Namun siang hari kondisi udara tetap dalam status sangat tidak sehat.

Menurut Maulana, pihaknya sudah membagikan masker pada setiap kegiatan dan kunjungannya. Maulana juga mengimbau agar pihak swasta dan juga penggerak sosial untuk ikut serta dalam membagikan masker.

‘‘Kalau anak sekolah kan sudah kita liburkan, nah untuk pengendara sepeda motor yang terpapar asap secara langsung harus memakai masker untuk menjaga kesehatan paru-parunya,’‘ kata Maulana.

Maulana juga mengimbau kepada seluruh pengurus masjid, mushalla, agar setiap solatnya meminta doa untuk turun hujan. Karena dampak asap ini sangat berpengaruh bagi kesehatan warga kota Jambi.

‘‘Kasihan juga dengan anak sekolah kalau diliburkan terus karena kabut asap,’‘ pungkasnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari juga mencatat sebanyak 14.433 orang terserang ISPA dampak dari kabut asap itu.

Hal ini disampaikan oleh kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari dr.Elfie Yennie,MARS. Menurutnya, penyebab meningkatnya kasus ISPA ini tidak terlepas dari terjadinya kasus Karhutla.

‘‘Ada kecenderungan peningkatan kasus ISPA sejak beberapa waktu terakhir. Pada bulan Januari 1.696 kasus, kemudian February 1.933 Kasus, Maret  1.999 kasus,  April 1.908 kasus, Mei 1.740 kasus, Juni 1.149 Kasus, Juli 1.739 kasus dan Agustus 2.269, total 14.433,’‘ ujar Elfie di ruang kerjanya.

Elfie mengatakan setiap puskesmas akan terus memantau penyakita ISPA akibat kabut asap ini. Dia meminta masyarakat harus mewaspadai dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan bagi kesehatan, kemudian warga tidak banyak melakukan aktivitas diluar ruangan.

‘‘Kalau tidak ada sesuatu yang mendesak, kami mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di luar ruang. Jika hendak keluar, sebaiknya menggunakan masker,’‘ himbaunya.

Sementara itu, akibat Karhutla yang masih terjadi, indeks kualitas udara pada hari Selasa 10 September 2019 di Kabupaten Tanjabtim masih dalam kategori Sangat Tidak Sehat. Sesuai dengan hasil perhitungan kondisi udara dalam keadaan udara Tidak Sehat terjadi pada pukul 00.00-04.55 WIB dan 09.00-11.55 WIB. Sedangkan kondisi udara dalam keadaan Sangat Tidak Sehat terjadi pada pukul 05.00-08.55 WIB. 

‘‘Berdasarkan rata-rata kualitas udara parameter PM 2.5 Mikron pada hari Selasa, 10 September 2019 mulai pukul 00.00-12.55 WIB di Kabupaten Tanjabtim berada dalam kondisi Tidak Sehat dengan nilai 128,706, di bawah ambang batas yang telah ditentukan, yaitu 65,’‘ kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tanjabtim, Gustin.

Mencermati hasil pemantau indeks kualitas udara di Kabupaten Tanjabtim yang Sangat Tidak Sehat, maka Dinas Pendidikan Tanjabtim telah mengeluarkan Surat Edaran kepada sekolah di kecamatan yang terkena dampak kabut asap untuk meliburkan sekolah.

‘‘Ada 7 kecamatan sekolah yang diliburkan, yakni Kecamatan Dendang, Muara Sabak Barat, Muara Sabak Timur, Geragai, Kuala Jambi, Mendahara dan Mendahara Ulu. Ketujuh kecamatan itu menurut keterangan dari masing-masing Koordinator Wilayah (Korwil) berdampak kabut asap,’‘ terang Kepala Dinas Pendidikan Tanjabtim, Junaedi Rahmat.

Dalam surat edaran tersebut, untuk siswa PAUD, siswa SD kelas I, II dan III diliburkan dari hari Senin, 9 September sampai hari Selasa, 10 September 2019. Sedangkan untuk siswa SD kelas IV, V dan VI masuk pukul 08.30 WIB dan pulang pukul 13.00 WIB. Kemudian siswa SMP dan SMA/SMK masuk pukul 08.00 WIB dan pulang 13.00 WIB, dan diimbau menggunakan masker saat diluar ruang kelas.

‘‘Jika kualitas udara di Tanjabtim tidak juga membaik sesuai dengan batas libur sekolah yang ditentukan, maka kami akan kembali mengeluarkan Surat Edaran untuk libur sekolah,’‘ ungkapnya.

Dia berharap kepada para orang tua siswa, bagi anak yang libur sekolah agar dipantau dan dikontrol untuk tidak keluar rumah demi kesehatan. Karena kabut asap sangat berpengaruh terjadi pada anak-anak, dan bisa menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

‘‘Siswa yang diliburkan bertujuan agar terhindar dari penyakit ISPA akibat jerebu dan kabut asap. Makanya diharapakan para orang tua terus awasi anaknya,’‘ harapnya.

Sementara, berdasarkan data yang didapat dari Dinas Kesehatan Tanjabtim, ada sebanyak 2.211 kasus ISPA yang terjadi pada bulan Agustus 2019. Data itu meningkat jika dibandingkan pada bulan Juli lalu yang hanya 2.086 kasus.

‘‘Meningkatnya kasus ISPA pada bulan Agustus, karena memang pada bulan tersebut kabut asap semakin tebal dan pekat, sehingga menyebabkan indeks kualitas udara di Tanjabtim menjadi tidak sehat,’‘ sebutnya.

Kemudian lanjutnya, kasus ISPA juga terjadi pada bulan Juni sebanyak 1.772 kasus, bulan Mei 2.171 kasus, bulan April 2.471 kasus, Maret 1.972 kasus, Februari 1.946 kasus dan Januari 2.165 kasus, dengan jumlah keseluruhan 16.794 kasus ISPA.

‘‘Kami juga telah melakukan upaya tidakan dengan mendistribusikan masker ke Puskesmas-puskesmas yang berada di kecamatan untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat,’‘ tuturnya.

‘‘Selain itu juga, kami Dinas Kesehatan juga telah memerintahkan kepada seluruh Puskesmas yang berada di 11 kecamatan untuk mengutamakan anak-anak, bayi dan ibu hamil jika ada yang terinfeksi ISPA,’‘ sambungnya.

Dinas Kesehatan Tanjabbar mencatat dari hasil pengukuran kualitas udara di beberapa tempat di Tanjabbar pertanggal 6 September 2019, tingkat  ISPU mencapai 129 dengan level Tidak Sehat. 

Dalam mengantisipasi terjadinya ISPA, Dinkes Tanjabbar telah melakukan beberapa upaya diantaranya mensosialisasikan bahanya ispa kemasyarakat, terlebih bagi balita dan anak anak dibawah 5 tahun dan  di atas 5 tahun. 

‘‘Dinkes bersama 16 Pukesmas se Tanjabbar juga sudah membagikan 41 ribu masker lebih bagi masyarakat. Dan saat ini kami juga kembali melakukan pengukuran udara di beberapa titik untuk laporan mingguan’‘ terang dr Johanes J. Sitorus, Kabid P2PL saat dijumpai di ruang kerjanya selasa (10/9) kemarin.  

Kata dia musibah kabut asap untuk wilyah Kota Kualatungkal dan sekitarnya dinilai sebagai musibah kiriman. Ketebalan kabut asap juga berfariasi bahkan cepat berubah terbawa angin  

Kabut asap hanya terjadi pada pagi hari atau sore hari dengan durasi yang sangat cepat. 

‘’Pagi tadi kabut asap sangat tipis bahkan tak terlihat, hingga siang hari kondisinya sama, sore ini mulai pekat lagi tapi sebentar kemudian timbul lagi terbawa angin.  Walapun demikian kita tetap melakukan pengecekan udara di beberapa titik dan hasilnya besok rabu,’‘ paparnya. 

Dengan alasan ini juga pihak Dinkes belum mengeluarkan edaran untuk meliburkan siswa sekolah. Karena dari laporan program pengendalian ISPA cenderung turun. Tidak ada peningkatan. 

Pada bulan Juli tercatat ada 3.164 penderita ISPA, pada bulan Agustus tercatat ada 3.711 dan pada minggu pertama bulan september tercatat ada 913.

Dampak kabut asap ternyata juga dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Batanghari beberapa hari terakhir ini, hal itu dibuktikannya dengan jarak pandang yang mulai terganggu, tidak hanya itu mata pun sudah mulai merasakan sakit akibat udara yang tidak sehat.

Salah satu warga Muara Bulian Bambang mengatakan bahwa saat ini ia khawatir dengan kondisi cuaca yang sangat berbahaya, apalagi saat ini anak-anak masih bersekolah.

"Iya kita sangat khawatir dengan anak-anak yang sekolah, apalagi aktifitas mereka kadang banyak di luar, sekarang kondisi anak sudah mulai batuk-batuk,"ujar Bambang.

Bambang berharap kepada Pemerintah Kabupaten Batanghari untuk segera mencari solusi, dan jangan sampai menimbulkan banyak korban.

"Di kabupaten tetangga sudah ada yang diliburkan bagi perserta didik, jadi jangan sampai menimbulkan banyak korban baru diliburkan,"ujarnya.

Sementara itu Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  Kabupaten Batanghari mengatakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Batanghari belum begitu berbahaya,  namun masuk kategori sedang.

"Hal ini dibuktikan dari hasil pemantauan tanggal 7-8 September 2019," ungkap Kasi Pengendalian Pencemaran Lingkungan DLH Batanghari Dodi Martarinaldo,kemarin Selasa (10/09).

Dari pemantau DLH Batanghari, diterangkanya, data kualitas udara dengan metode High Volume Air sample (HVAS) berada pada kisaran PM10 90,84 dengan kategori sedang.

Kebakaran hutan sangat berdampak terhadap Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Sedangkan kondisi kabut asap lebih dominan terjadi pada pagi dan sore hari. 

"Kumpulan asap sangat jelas kelihatan pada pagi dan sore hari. Kalau siang hari tidak begitu berdampak, mungkin karena terbawa hembusan angin," ujarnya. 

Kualitas udara masuk kategori berbahaya apabila berada di angka 100-200. Sedangkan apabila di atas 200, statusnya sudah sangat berbahaya sekali. Kondisi kabut asap pekat dengan status sangat berbahaya pernah terjadi pada 2015 lalu. 

Proses kerja HVAS bisa mendapatkan data dalam kurun waktu 24 jam. Dinas LH Kabupaten Batanghari melakukan pemasangan alat dari jam 3 sore sampai jam 3 sore berikutnya, setelah itu baru bisa dapat datanya. 

Karhutla Masih Terjadi

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), hingga saat ini masih terus terjadi. Petugas pemadam gabungan sampai sekarang masih berjibaku memadamkan api di beberapa titik api yang berada di sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Tanjabtim.

Ada tiga kecamatan yang sampai detik ini terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan. Seperti di Kecamatan Sadu berada di Tiga Desa, yakni Air Hitam Laut, Sungai Sayang dan Remau Baku Tuo. Kemudian Kecamatan Dendang, di Desa Jati Mulyo dan Catur Rahayu. Dan ada juga terjadi di Kelurahan Parit Culum II, Kecamatan Muara Sabak Barat.

Dari jumlah kurang lebih 500 Hektare lahan dan hutan yang telah terbakar, Kecamatan Sadu dan Dendang merupakan dua kecamatan yang paling banyak luasan yang terbakar. Dengan begitu, Dua kecamatan tersebut juga yang paling banyak sebagai penyumbang asap di Tanjabtim.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanjabtim, Jakfar melalui Kabid Pencegahan, Rahmat Hidayat mengatakan, bahwa sebenarnya luasan lahan dan hutan yang terbakar saat ini diperkirakan sekitar ribuan Hektare. Namun, karena saat ini Kebakaran Lahan dan Hutan masih terjadi, maka pihaknya masih fokus memadamkan api.

"Kita belum ada mengukur berapa jumlah luasan lahan dan hutan yang terbakar, karena tim kita masih fokus memadamkan api di lokasi. Makanya, kita hanya berani menyebutkan baru 500 hektar, karena data rill nya kita belum ada," ungkapnya.

Dia menjelaskan, bahwa sumber air merupakan kendala utama tim dalam melakukan pemadaman api di lokasi. Sehingga sebagai alternatif, proses pemadaman sering mengandalkan Water Bombing.

"Ya, memang kendala kita hanya di sumber air. Karena titik api kebanyakan tidak berada di dekat sumber air, sehingga tim kesulitan untuk memadamkan api," sebutnya.

18.728 Hektare Sudah Terbakar

Sementar itu, sepanjang Januari hingga 30 Agustus 2019, Komunitas Konservasi Indonesia Warsi mencatat, sudah ada 18.728 hektare lahan dan hutan yang terbakar di Provinsi Jambi.

Angka tersebut didapat dari hasil pantauan satelit Lapan dan NASA (selengkapnya lihat grafis).

Direktur Konservasi Indonesia Warsi Jambi Rudi Syaf mengtakan, Jika dirincikan kembali ada sekitar 7.100 hektare atau  56% lahan mineral yang sudah terbakar selama tahun 2019, dan  44% sisanya merupakan lahan gambut.

"Itu banyak terjadi di kawasan Tanjab Timur, Tanjab barat dan Muaro Jambi, bahkan angka itu sudah termasuk Taman Nasional Berbak yang terbakar sebanyak 144 hektare," kata Direktur Wasri, Rudi Syaf, Selasa (10/9).

Dirinya menambahkan ketebalan lahan gambut yang terbakar memiliki kedalaman ketebalan di atas 3 m, kondisi ini memperlihatkan bahwa gambut merupakan kawasan yang sangat rawan atas kebakaran hutan dan lahan.

“Dengan kondisi kemarau seperti ini, lahan gambut sangat mudah sekali terbakar, pasalnya kondisi air yang cukup minim membuat gambut yang ada kering, sehingga ketika ada api yang terbilang kecil bisa membuat kawasan itu terbakar hebat,” akunya.

Untuk pengelolaan sendiri membutuhkan pengetahuan dan juga pendanaan yang sangat besar. Dalam PP 57 tahun 2016 secara  tegas menyatakan bahwa tinggi muka air gambut minimal 40 cm dari permukaan gambut.

Namun  pada kenyataannya, hingga saat ini , pengaturan tersebut belum bisa dipatuhi, sehingga gambut  kembali menjadi sangat kering di musim kemarau ini. 

“Kondisi itu diperburuk oleh perbuatan manusia yang  memegang konsesi di areal gambut, yang diduga  tidak mampu melakukan pengelolaan tinggi muka air gambut, saat musum kemarau,”ujarnya.

Terkait dengan permasalahan karhutla  Warsi menyerukan kepada pemerintah untuk memeriksa  kembali izin-izin yang  ditetbitkan di areal gambut.

Senada dengan yang dikatakan Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Muarojambi, Muhammad Zakir, jika 99.9% penyebab Karhutlah adalah ulah jahil tangan manusia.

“Faktor alam tidak beperan banyak dalam kebakaran hutan, yang jelas perbuatan itu merupakan dosa jariah yang di tanggung para pelaku pembakaran hutan, karena ulah mereka dampaknya turut dirasakan masyarakat,” kata Muhammad Zakir.

Untuk luas lahan dan hutan yang terbakar di kabupaten Muarojambi Hingga selasa (10/9) kemarin, pria yang kesehariannya di sapa Zakir itu menjelaskan ada tambahan yang cukup besar dalam kurun waktu seminggu terakhri, yakni sebesar 200 hektare lebih, data itu di ambil dari dua daerah, kumpuh ilir dan Kumpeh Ulu.

“Kalau secara pasti saya belum bisa pastikan berapa jumlahnya, yang jelas ada 200 hektare, dan itu sudah hampir masuk kepemukiman warga,” ucapnya.

Terkait pemadaman sendiri, pihaknya saat ini menemukan kesulitan yang cukup serius, dimana alat dan personel tidak seimbang.

“Satu alat itu butuh 7 orang, bagaimana mau gerak cepat, kalau alat saja kurang, mau tidak mau, personel satgas harus bergantian memadamkan api,” ujarnya.

Dirinya menambhkan para personel tidak bisa bekerja 24 jam penuh, karena mengingat keselamatan para anggota satgas karhutla lebih penting.

“Kalau malam, mereka saya suruh mundur, dari pada jatuh korban lagi, kerena nyawa mereka sangat penting bagi saya pribadi,” pungkasnya.

Satgas Karhutlah Sudah Maksimal

Sebelumnya, Komandan Satgas Karhutla yang juga komandan Korem 042 Garuda Putih, Kolonel Arh Elphis Rudy Senin (9/9) mengatakan pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin guna mengatasi karhutla di Provinsi Jambi. 

"Bulan kemarin kita sudah berupaya minta hujan buatan dengan pemerintah pusat. Namun, karena ada beberapa waktu Jambi telah diguyur hujan jadi permintaan itu dibatalkan oleh pemerintah pusat," katanya.

Saat ini Satgas Karhutla telah mendapatkan bantuan dua helikopter water bombing dari Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB).

"Dua dari heli water bombing dari BNPB pusat dan satu heli water bombing milik Sinarmas, untuk melakukan pemadaman dari udara," ujarnya.

Menurutnya dengan kondisi yang terjadi saat ini tidak cukup hanya mengandalkan water bombing saja. Untuk itu pihaknya membuat kanal-kanal di sekitaran lahan yang terbakar.

“Satgas akan membuat hujan buatan, tidak bisa kalau hanya mengandalkan heli water bombing,” akunya.

Ketika ditanya berapa luasan lahan yang terbakar di Provinsi Jambi? dia mengatakan terhitung dari bulan Januari hingga saat ini telah mencapai 700 hektar lebih lahan yang terbakar.

Sementara itu, Karhutla di Jambi  yang kian meluas dan sebagian masuk lahan konsesi perusahaan makin meresahkan membuat Gubernur Jambi Fachrori Umar angakat bicara, dia mengancam akan mencabut izin perusahaan yang lahannya terbakar.

"Saya akan panggil dan copot perusahaan yang konsesinya terbukti terbakar," kata Gubernur Jambi

Gubernur Jambi  menegaskan dalam waktu dekat pihaknya akan memanggil semua perusahaan yang lahannya terbakar. Jika perusahaan tersebut tidak mampu mengendalikan silakan menyudahinya. "Kita panggil saja nanti," ungkapnya. (hfz/scn/rza/sun/lan)

 

Kemenag Ikut Kebijakan Pemda

SEKRETARIAT Daerah Pemprov Jambi mengeluarkan surat himbauan kepada seluruh kepala SMA/SMK/SLB baik negeri dan swasta di Provinsi Jambi. Ini terkait dengan kondisi udara yang mulai berkabut tebal sejak beberapa hari terakhir. Surat tersebut ditandatangani oleh sekda Provinsi Jambi, M. Dianto tertanggal 10 september 2019.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Jambi Johansyah mengatakan, di dalam surat tersebut tertulis bahwa berdasarkan hasil rapat Satgas Karhutla Provinsi Jambi, Selasa (10/9), berdasarkan hasil pemantauan menggunakan alat AQMS, diperoleh Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) udara berada di angka 99, atau dalam kategori sedang. 

Atas dasar tersebut, SMA/SMK/SLb negeri dan swasta di wilayah Kota Jambi, Muarojambi, Tanjab Timur  dan Tanjab Barat dihimbau untuk meliburkan siswanya selama satu hari. “Libur Rabu, tanggal 11 september selama satu hari,” katanya.       

Dikatakannnya, kepada masayarakat khususnya kalangan pelajar juga dihimbau untuk mengurangi aktifitas  di luar kelas, bagi stauan pendidikan yang wilayahnya terdampak. Selanjutnya sangat disarankan untuk menggunakan masker pelingung bagi warga sekolah di tiap satuan pendidikan yang wilayahnya terdampak.

“Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat bagi seluruh warga sekolah di setiap satuan pendidikan. Serta tidak melakukan pembakaran sampah di lingkungan satuan pendidikan,” katanya.

Johansyah mengatakan himbauan ini diperoleh berdasarkan hasil rapat yang dipimpin langsung oleh Ketua Satgas Karhutla Provinsi Jambi. Rapat dihadiri oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jambi, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan.

“Atas hasil rapat itu, Pak Gubernur langsung memerintahkan sekda Provinsi Jambi untuk membuat surat himbauan pada SMA/SMK/SLB agar libur satu hari,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Subbagian Humas dan Informasi Kemenag Provinsi Jambi .Yazid Bafhadal menyampaikan khusus untuk Madrasah Aliyah Negeri (MAN) sifatnya mengikuti ketentuan peraturan yang dubuat Pemda setempat.

“Untuk menyikapi kondisi udara di Provinsi Jambi berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) ada beberapa daerah yang sudah tidak sehat, maka dihimbah Kepada Kepala Kanwil  kabupaten/kota untuk menyampaikan ke madrasah agar proses belajar mengajar disesuaikan dengan keputusan yang dikeluarkan Pemda/ DInas Pendidikan setempat,” katanya.

Sebelumnya Gubernur Jambi mengatakan kebijakan meliburkan siswa SMA/SMK/SLB memang menjdi pilihan. "Untuk libur anak SMA sederajat akan dirapatkan hari ini (kemarin, red), SD dan SMP sebelumnya kan sudah dan anak SMA akan dibuat surat edaran nanti, mau tak mau harus libur dulu dari pada timbul penyakit," ujarnya ketika di Rumah DInas Gubernur Jambi(10/9).

Sementara untuk realisasi hujan buatan dia sudah mengusulkan ke BNPB pusat dua minggu lalu. Namun hingga sekarang belum ada wujudnya. "Kendalanya masih tunggu dari pusat, dan kita sudah mengadu untuk minta bantu, nantinya juga ada teknisnya yakni dari BPBD akan meminta persetujuan ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk hujan buatan ini," tandasnya. (aba)