4 Nama Calon Kabareskrim Mencuat

Kamis, 07 November 2019 - 14:22:39 - Dibaca: 467 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA – Kapolri Jenderal Idham Azis belum menunjuk sosok Kabareskrim. Padahal ada sejumlah jenderal senior yang bisa menempati posisi yang lowong.

Indonesia Police Watch (IPW) menyebut ada empat nama jenderal bintang dua (inspektur jenderal atau irjen) yang sangat berpotensi mengisi jabatan Kabareskrim. Para jenderal tersebut memiliki prestasi yang moncer.

Ketua Presidium Ind Police Watch, Neta S Pane, menyebut keempat jenderal tersebut yaitu Kadiv Propam Polri Irjen Listyo Sigit, Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono, Asisten bidang Operasi (Asops) Kapolri Irjen Martuani Sormin, dan Kapolda Sumatera Utara Irjen Agus Andrianto.

“Keempatnya merupakan figur-figur jenderal yang memiliki prestasi masing-masing di tempat tugasnya. Meskipun memilih Kabareskrim adalah hak proregatif Kapolri, namun dalam memilih Kabareskrim yang baru, IPW berharap, Kapolri melihat beberapa aspek,” katanya melalui keterangan tertulisnya, Rabu (6/11).

Dikatakannya, ada empat aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih sosok Kabareskrim. Pertama senioritas, kedua cermat melihat dinamika internal, lalu berpengalaman sebagai polisi reserse, dan terakhir adalah dekat dengan pemuka agama Islam.

Soal aspek yang terakhir, Neta mengatakan, perlu sinergitas antara aparat dan ulama dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

“Faktor kedekatan dengan ulama menjadi penting sebab ulama masih dipandang sebagai panutan oleh masyarakat di negeri ini. Situasi ini tentunya bisa bersinergi dalam menjaga stabilitas Kamtibmas. Selain itu adanya isu radikalisme dan dampak ketegangan di era Pilpres 2019 bisa diminimalisasi. Setidaknya, adanya isu kriminalisasi terhadap ulama di sepanjang Pilpres 2019 bisa dinetralisir dan dituntaskan dengan pendekatan-pendekatan kemitraan,” beber Neta.

Neta berharap Kabareskrim yang baru harus mampu menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) yang ditinggalkan Idham Azis yang kini menjabat Kapolri. Sebagaimana diketahui, Idham menduduki jabatan Kabareskrim sebelum akhirnya ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menggantikan Jenderal (Purn) Tito Karnavian sebagai Tribrata 1.

“IPW berharap figur senior yang menjadi Kabareskrim bisa menyelesaikan dan menuntaskan perkara yang ditinggalkan Idham Azis. Dengan demikian Kabareskrim tersebut bisa membantu tugas tugas Kapolri yang baru dalam menjaga stabilitas keamanan maupun dalam melakukan penegakan hukum,” ucap Neta.

Salah satu PR yang dimaksud Neta adalah kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan, yang belum terungkap.

“Yang terpenting tugas Kabareskrim yang baru harus bisa menuntaskan kasus Novel Baswedan, sehingga Polri maupun Kapolri yang baru tidak terus menerus tersandera kasus penyiraman air keras tersebut,” tandas dia.

Terpisah, anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKS, Nasir Djamil mengaku hampir semua jenderal bintang dua punya syarat dan kriteria yang ideal menjadi Kabareskrim.

“Artinya, mereka sudah mumpuni untuk jabatan Kabareskrim. Karena itu, kepada Jenderal Idham Azis, kita berharap bisa memprioritaskan jenderal bintang dua yang dari sisi angkatan lebih senior dari yang lainnya,” ujarnya.

Nasir berharap, perwira tinggi yang mengisi jabatan Kabareskrim itu adalah orang yang punya pengetahuan dan pengalaman serta mengerti soal perlindungan HAM di samping penegakan hukum.

“Tentu Kabareskrim ke depan itu harus kedepankan due prosess of law, jadi ada pertimbangan HAM di samping penegakan hukum oleh karenanya butuh figur yang berpengalaman dalam penindakan,” katanya.

Soal pentingnya jabatan Kabareskrim dijabat jenderal senior, menurutnya karena akan memudahkan kinerja Kepolisian.

“Sekali lagi saya tekankan yang lebih senior itu prinsipil ini berkaitan dengan penegakan hukum di kepolisian, karena Kabareskrim ini ujung tombak kepolisian untuk menjalankan kinerja soal kasus-kasus hukum yang belum selesai,” ujarnya.

Nasir memandang senioritas juga dibutuhkan agar dalam menjalankan fungsinya Kabareskrim tidak terkendala beban psikologis.

“Senioritas itu dibutuhkan agar dalam menjalankan fungsi dan tugas itu, maka dia tidak ada kendala psikologis. Jadi saya sekali lagi tidak sebut nama, karena dari masing-masing nama punya prospek dan peluang untuk jadi Kabareskrim,” tegasnya.

Sementara Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Poengky Indarti berharap kabareskrim yang dipilih Kapolri adalah sosok yang tegas, mumpuni di bidang reserse, dan berpengalaman sesuai merit system.

“Hal itu karena masih tingginya angka pengaduan terhadap kinerja Reserse terhadap proses penegakan hukum,” katanya.

Meski kebijakan menunjuk kabareskrim adalah kewenangan Kapolri, dengan berdasarkan sidang Wanjakti (Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi). Namun, dia meminta agar Kabareskrim mempunyai prestasi bagus, khususnya terkait bidang reserse bukan karena sekadar titipan.

“Penegakan hukum adalah yang paling menjadi sorotan masyarakat. Banyak laporan yang masuk ke Kompolnas rata-rata 3.000 pengaduan pertahunnya adalah menyangkut kinerja Reserse. Oleh karenanya, saya berharap kabareskrim yang akan datang diharapkan adalah perwira tinggi senior Polri yang berpengalaman dan memiliki prestasi baik sesuai dengan merit system,” tegasnya.

Selain penanganan kejahatan konvensional, berbagai pekerjaan rumah (PR) atas tindak pidana lainnya yang saat ini menjadi sorotan baik berkategori transnasional hingga yang menggunakan teknologi menjadi tugas utama kabareskrim.

“Olah karenanya, Kabareskrim harus sosok mumpuni berlatar belakang Reserse. Tantangan penegakan hukum yang menonjol adalah menangani kejahatan-kejahatan terkait kelompok-kelompok radikal dan jaringan teroris, kejahatan siber, kejahatan transnasional termasuk narkoba, dan kejahatan-kejahatan konvensional,” kata Poengky.

Kabareskrim baru juga diharapkan mampu meningkatkan profesionalitas anggota Reserse Polri agar makin dipercaya masyarakat.

(gw/fin)

 Sumber: www.jpnn.com