Buka-bukaan di Sidang, Sasar Sejumlah Nama

Asiang Simpan Uang 7 Kardus

Rabu, 20 November 2019 - 10:04:59 - Dibaca: 397 kali

Google Plus Stumbleupon


M RIDWAN/JE
PEMERIKSAAN TERDAKWA: Terdakwa kasus suap uang ketok palu RAPBD Provinsi Jambi 2018 Joe Fandy Yoesman alias Asiang buka-bukaan saat pemeriksaan terdakwa  di Pengadilan Tipikor Jambi Selasa (19/11).
M RIDWAN/JE PEMERIKSAAN TERDAKWA: Terdakwa kasus suap uang ketok palu RAPBD Provinsi Jambi 2018 Joe Fandy Yoesman alias Asiang buka-bukaan saat pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor Jambi Selasa (19/11). / Jambi Ekspres Online

JAMBI-Terdakwa suap uang ketok palu RAPBD Provinsi Jambi 2018 Joe Fandy Yoesman alias Asiang buka-bukaan dalam persidangan yang digelar Selasa (19/11) di Pengadilan Tipikor Jambi.

Dipimpin Hakim Ketua Viktor Togi Rumarhorbo, sidang kali ini mengagendakan pemeriksaan terdakwa.

Berdasarkan pengakuannya di persidangan, Asiang mengaku, Arfan sempat menelpon dirinya untuk membicarakan terkait peminjaman uang untuk ketok palu APBD. Saat itu, Asiang meminta Arfan menghubungi Lina, dan Ali Tonang alias Ahui.

‘‘Urus sama Lina dan Ahui, tapi itu sebenarnya penolakan secara halus, tapi setelah pertimbangan segala macam dikasih pinjam, karena Arfan kawan saya yang mulia,’’ kata Asiang.

Dia juga mengaku, jika Arfan berjanji dalam waktu tiga bulan akan dikembalikan. Setelah itu, Asiang meminta Lina untuk mengambilkan uang yang telah disiapkannya.

‘‘Saya kalau simpan uang perusahaan memang di rumah yang mulia, waktu itu di rumah ada 7 kardus yang berisi uang, dimana setiap kardusnya berisi Rp 1 miliar,’’ akunya.

Dia juga menambahkan jika Lina tidak mengetahui jika kardus yang diambilnya berisi uang sebesar Rp 5 miliar.

‘‘Lina tidak tahu yang mulia, karena saya tidak kasih tahu kalau itu uang, dan saya minta dia bawa kardus itu ke kantor,’‘ sebutnya.

Ketika Jaksa Penuntut Umum (JPU) memutar ulang percakapan Asiang dengan Arfan ketika berada di Jakarta, sehari setelah Arfan ke rumah Asiang untuk meminjam uang.

Ketika ditanya majelis hakim apakah terdakwa tahu bahwa uang yang dipinjamankannya untuk anggota dewan, dan mengapa dia meminjamkan uang tersebut?

‘‘Saya dan Arfan sudah lama kenal, dia (Arfan,red) juga sering pinjam uang. Tapi tidak begitu besar seperti yang terakhir,’‘ katanya.

Ketika ditanya apakah uang yang dipinjamkannya kepada Arfan sudah dikembalikan? Seketika Asiang mengatakan hingga saat ini uang itu tidak kembali.

‘‘Kan Ada OTT yang mulia, kalau tidak, mungkin sudah dikembalikan,’‘ akunya.

Dia membahkan jika pinjamannya kepada Arfan karena hubungan pertemanan.  Agar ketika ada lelang proyek Arfan ingat dengan bantuannya.

‘‘Selama saya jadi kontraktor saya tidak pernah minta proyek, tapi saya pernah tanam jasa, semoga kawan-kawan yang saya bantu ingat kalau saya itu ikut lelang, bukannya minta dimenangkan, ataupun minta proyek,’‘ ujarnya.

Pengakuan demi pengakuan terus keluar dari perkataan Asiang. Di depan majelis hakim, dia mengaku jika Afif Firmansyah pernah datang ke kantornya untuk pinjam uang Sebasar Rp 1 miliar untuk dana kampanye di Kabupaten Muaro Jambi.

‘‘Kalau dak dikasih, dia orang dekat pak gubernur, nanti saya susah kalau dapat masalah,’‘ katanya.

Dia juga mengaku, jika uang yang dipinjamankannya kepada Afip Firmansyah tidak pernah kembali hingga saat ini. ‘‘Biarlah tidak kembali, yang penting saya tidak dipersulit dalam pekerjaan,’‘ sebutnya.

Dia manambahkan, dia siap buka-bukaan atas kasus yang menimpanya, karena tidak ada lagi gunanya berbohong.

‘‘Dengan saya jujur, hukuman saya sedikit ringan, dan setelah itu saya bisa kembali seperti dulu lagi,’‘ harapnya.

Di persidangan, Asiang juga mengaku tidak pernah sama sekali memberikan satu unit mobil Toyota Alphard kepada Mantan Gubernur Jambi Zumi Zola, dia mangaku jika memberikan mobil itu kepada Adi Varial.

‘‘Kalau kasih pak gubernur tidak ada, saya hanya kasih ke pak Adi Varial, waktu itu pak Adi Varial masih kadis PU di Muaro Jambi, itu pun statusnya hanya pinjam pak jaksa,’‘ kata Asiang.

Setelah beberapa lama dipinjamkan kepada Adi Varial, sempat ia minta kembali, namum tidak dikembalikan.

‘‘Saya sempat telpon isteri saya, untuk ambil mobil dengan isteri Adi Varial, hanya saja tidak dikembalikan,’‘ ucapnya.

Asiang juga sempat mencurahkan isi hatinya terkait perkara suap pengesahan RAPBD Provinsi Jambi tahun 2018 yang menjerat dirinya. Bantuan yang diberikannya itu tidak ada kaitannya untuk mendapatkan proyek di Pemprov Jambi.

‘‘Berapa sih proyek Asiang di provinsi (Jambi, red). Lagian saya dapat proyek apakah saya salah? Kan (ikut, red) tender, proyek saya juga lebih banyak dari APBN, dari pada APBD,’‘ ungkap Asiang.

Lebih lanjut Asiang mengatakan, dirinya bisa mengungkap siapa saja yang pernah mendapat aliran uang dari dirinya. Namun Asiang mengatakan dia tidak memiliki bukti pendukung.

 ‘‘Sebernarnya semua saya tahu. Saya bisa uraikan, ngasih orang berapa. Tapi saya tidak bisa membuktikannya. Saya tidak punya bukti,’‘kata Asiang.

Dalam persidangan Asiang juga menegaskan jika dirinya tidak mau lagi berhubungan dengan Pemprov Jambi.  ‘’Ini terakhir kali saya berurusan dengan pemerintah (Pemprov Jambi, red). Saya tidak mau dekat-dekat lagi,’‘ pungkasnya.

Varial Beri Bantahan

Sementara itu, seusai namanya disebut Asiang dalam pemeriksaan terdakwa kasus suap RAPBD 2018 di Pengadilan Tipikor Jambi (19/11), Varial Adhi Putra langsung angkat bicara. 

Varial menyebut tak benar mobil Alphard pemberian Asiang ditahan dan tak dikembalikan olehnya.

"Yang benar Asiang titipkan ke saya untuk diserahkan ke Amidy (saat itu Kepala badan penghubung Provinsi Jambi di Jakarta). Detik itu juga langsung saya serahkan ke Amidy melalui supirnya," jelas Varial saat dikonfirmasi Jambi Ekspres(19/11) sore.

Pria yang sekarang menjabat Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jambi inipun juga menampik mobil itu sempat ditanyakan istri asiang ke istrinya (Varial, red).

"Yang diomongnya pandai-pandai dia (Asiang, red) bae, harusnya disebutkanlah fakta sebenarnya agar clear, nanti persepsi orang saya pula (terlibat, red)," jelasnya. (scn/aba)