Mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak Meninggal, Usia 91 Tahun

Rabu, 26 Februari 2020 - 12:06:00 - Dibaca: 326 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

KAIRO– Mantan Presiden Mesir, Hosni Mubarak, meninggal dunia dalam usia 91 tahun. Mubarak yang pernah memimpin Mesir selama nyaris 30 tahun ini dikenal sebagai wajah kawasan Timur Tengah sebelum dilengserkan militer usai unjuk rasa besar-besaran selama 18 hari tahun 2011 lalu.

Seperti dilansir AFP, Selasa (25/2), televisi nasional Mesir melaporkan bahwa Mubarak meninggal dunia di rumah sakit militer Galaa di Kairo pada Selasa (25/2) waktu setempat. Saudara ipar Mubarak, Mounir Thabet mengonfirmasi kabar meninggalnya Mubarak.

Thabet menyebut, bahwa keluarga Mubarak masih ada di rumah sakit dan kantor kepresidenan Mesir akan menggelar upaya pemakamannya.

Menurut televisi nasional Mesir, Mubarak meninggal dunia di rumah sakit yang sama yang menjadi lokasinya menjalani operasi beberapa waktu lalu. Tidak diketahui pasti jenis operasi yang dijalani Mubarak saat itu.

Sejumlah laporan menyebut, Mubarak mengalami penyakit komplikasi, namun tidak ada informasi detail soal penyakitnya. Akhir pekan lalu, salah satu anak laki-laki Mubarak, Alaa, mengumumkan bahwa ayahnya berada di bawah perawatan intensif usai menjalani operasi.

Mubarak diketahui memimpin Mesir sejak tahun 1981 lalu hingga lengser tahun 2011 saat Arab Spring muncul. Semasa menjabat, Mubarak dikenal sebagai sekutu Amerika Serikat (AS) dan sangat menentang militansi Islamis.

Mantan perwira tinggi Angkatan Udara Mesir berpangkat marsekal udara itu menggantikan Anwar Sadat sebagai presiden, setelah pendahulunya dibunuh pada 6 Oktober 1981. Mubarak yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden akhirnya menggantikan Sadat.

Gelombang gerakan Revolusi Semi Arab (Arab Spring) yang dimulai dari Tunisia turut menghampiri Mesir. Mubarak dan rezimnya yang dianggap korup dan otoriter menjadi sasaran kemarahan rakyat.

Unjuk rasa gerakan reformasi selama 18 hari di Alun-alun Tahrir akhirnya membuat Mubarak semakin tertekan dan memaksanya melepas jabatan. Kelompok Ikhwanul Muslimin yang menjadi salah satu motor demonstrasi lantas mengambil alih kekuasaan dengan mendiang Muhammad Mursi sebagai presiden. Namun, umur rezim tersebut tidak lama.

Mubarak kemudian diproses hukum karena dituduh membiarkan pembunuhan ratusan demonstran dan kasus korupsi selama ia berkuasa.

Seperti dilansir dari CNN, selama proses hukum itu dimulai sejak 2011, kondisi kesehatannya terus menurun sehingga harus menjalani perawatan intensif. Ia bahkan pernah dikabarkan mengalami koma.

Pada Juni 2012, Mubarak dinyatakan bersalah atas pembunuhan demonstran dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Ia kemudian dipindahkan ke penjara Tora di Kairo Selatan.

Pada Desember 2014, ratusan demonstran kembali turun ke jalan setelah Pengadilan Mesir membebaskan Mubarak dari tuntutan atas pembunuhan demonstran. Saat itu, demonstran menilai keputusan itu akan memupuskan harapan era baru keterbukaan politik di Mesir.

Rezim Mubarak dinilai sebagai periode otokrasi dan kapitalisme merajai Mesir. Paska Mubarak digulingkan, Mesir mengadakan pemilu bebas untuk pertama kalinya.

Namun, presiden Mesir terpilih dari pemilu tersebut, Mohamed Mursi, digulingkan tak lama setelah dia menjabat oleh panglima militer Abdel Fattah el-Sissi, yang hingga kini memimpin Mesir. El-Sisi lantas membebaskan Mubarak dari seluruh dakwaan. (der/afp/fin)

Sumber: www.fajar.co.id