Berkat Tandon Air Alami, Petani Panen Dua Kali

Sabtu, 26 April 2014 - 08:40:02 - Dibaca: 1598 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

 Alkahfi Sutikno, Penggerak Program Kampung Iklim di Pedalaman Riau

 Bulan depan Indonesia menghadapi gelombang el nino yang memicu cuaca ekstrem. Tapi, bagi Alkahfi Sutikno bersama masyarakat di Desa Muktijaya, Kecamatan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, ancaman itu telah diantisipasi sejak dini. Alkahfi merupakan penggerak Program Kampung Iklim di desa tersebut.

 M. HILMI SETIAWAN, Jakarta

  ALAM dan perubahan iklim sulit dilawan. Begitulah fakta yang dipercaya Alkahfi Sutikno. Tapi, tidak berarti alam tidak bisa diajak berkawan sehingga perubahan iklim yang ekstrem tidak bisa diantisipasi. Alam dapat diajak bersahabat.

 "Caranya, melakukan adaptasi dan mitigasi (pencegahan) terhadap gejala-gejala alam itu," kata Alkahfi saat menjadi pembicara seminar di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Jakarta, Selasa (22/4).

 Sejak 1994, Alkahfi membina 983 kepala keluarga atau 3.387 warga di Desa Muktijaya untuk menjalin persahabatan dengan alam melalui Program Kampung Iklim (ProKlim). Lokasi desa itu cukup jauh dari pusat Provinsi Riau, yakni sekitar 365 km.

 "Awalnya tantangannya memang berat. Sebab, menyatukan begitu banyak masyarakat itu tidak mudah," ujar bapak dua anak tersebut.

 Alkahfi yang tinggal di kawasan eks transmigrasi dihadapkan pada kondisi lahan yang tidak bersahabat. Lokasinya di dataran tinggi sehingga suplai air tanah menjadi masalah. Padahal, kebanyakan warga Desa Muktijaya bermata pencaharian petani. Namun, lantaran minimnya suplai air, warga hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun. Berbeda dengan petani di Jawa yang umumnya bisa bercocok tanam tiga kali setahun.

Intensitas menanam padi yang hanya sekali setahun itu hanya merupakan salah satu problem yang dihadapi Alkahfi dan warga desa tersebut. Masalah lain terkait dengan menyusutnya lahan persawahan karena abrasi Sungai Rokan setiap meluap.

 Alkahfi menyatakan, sebelum 1994, luas persawahan di desanya mencapai 1.134 hektare. Tapi, kini luas itu tinggal 500 hektare atau menyusut lebih dari separo lantaran tergerus air sungai. Melihat kenyataan tersebut, Alkahfi tidak ingin tinggal diam. Sebab, bila didiamkan, lama-kelamaan lahan persawahan di desa tersebut bisa habis. Karena itu, lalu muncullah gerakan adaptasi dan mitigasi iklim yang dipelopori Alkahfi.

 Gerakan tersebut mengajak warga desa untuk berdamai dengan alam. Misalnya, untuk pengairan sawah pada musim kemarau, Alkahfi membuat tandon air alami atau penampung air hujan (PAH). Di setiap rumah, warga wajib memiliki tandon air hujan. Rata-rata berkapasitas 1.000 liter per kepala keluarga. Air tadah hujan itulah yang dialirkan ke sawah-sawah bila musim kemarau tiba. Dengan cara begitu, petani bisa bercocok tanam lebih dari sekali dalam setahun.

 Kini di Desa Muktijaya ada 526 unit PAH di rumah-rumah warga. Ada pula 983 unit kolam untuk berjaga-jaga jika PAH penuh. Selain untuk air cadangan, kolam-kolam tersebut dimanfaatkan warga untuk budi daya ikan air tawar. Tidak hanya itu, warga membuat 431 unit kolam resapan untuk mengantisipasi banjir bila hujan lebat.

 "Kami buatkan juga parit-parit menuju persawahan agar air mengalir dengan lancar," papar pria kelahiran Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, 14 Mei 1970, itu.

 Dengan adanya stok air untuk mengatasi kemarau berkepanjangan tersebut, produktivitas pertanian di desanya bisa meningkat tajam. Bila awalnya warga hanya bisa bertani sekali dalam setahun, kini meningkat jadi dua kali dalam setahun. Dari yang semula hanya menghasilkan 2,5 ton per hektare, sekarang naik menjadi 6"7 ton per hektare.

 Dengan produktivitas yang meningkat itu, kesejahteraan masyarakat pun jauh lebih baik. Sejak ada upaya adaptasi musim tanam tersebut, para petani tidak pernah mengeluarkan uang untuk membeli beras.

 "Jadi, setiap panen, selain bisa dijual, beras bisa disisakan untuk makan sehari-hari. Tidak seperti dulu lagi, beras habis dijual semua," ujar peraih penghargaan penyuluh pertanian swadaya tingkat nasional 2012 itu.

 Untuk mengatasi abrasi Sungai Rokan yang lebih parah, Alkahfi menggerakkan warga untuk membuat tanggul penahan banjir. Dengan cara demikian, luas lahan pertanian bisa dipertahankan.

 Sejatinya luapan air Sungai Rokan tidak hanya berdampak abrasi pada area persawahan. Ada masalah lain yang mengancam keselamatan jiwa warga. Yakni, serangan buaya yang sering muncul di sungai tersebut.

 Karena itu, warga mesti superhati-hati setiap banjir Sungai Rokan datang. Sebab, buaya-buaya ganas ikut aliran sungai dan bisa mengancam warga yang rumahnya di sekitar sungai.

 Warga beberapa kali menangkap buaya-buaya raksasa saat banjir Sungai Rokan. Panjangnya mencapai 7 meter. "Ada juga warga yang menjadi korban keganasan buaya-buaya tersebut. Karena itu, ini termasuk problem bagi kami," ujarnya.

 Menurut Alkahfi, buaya Sungai Rokan sampai memangsa korban manusia karena makanan mereka yang tersedia di sungai sudah habis. Mereka lalu masuk ke pedesaan yang tergenang banjir.

 Meski buaya sangat membahayakan keselamatan, warga tidak serta-merta membunuh hewan karnivora itu. Mereka mesti meminta izin kepada otoritas setempat. Sebab, buaya termasuk kategori hewan yang dilindungi pemerintah.

 "Jadi, tidak boleh sembarangan membunuh buaya. Kami harus menaati aturan," tegasnya.

 Selain buaya, para petani di Muktijaya menghadapi hama yang bisa memusokan tanaman padi mereka. Untuk mengatasi, mereka tidak menggunakan pestisida, melainkan dengan cara alami dan bersahabat dengan alam. Yakni, menanam tanaman lain di antara tanaman padi.

 Dengan adanya aneka tanaman tersebut, hama yang semula mengincar padi menjadi bingung. "Akhirnya, yang diserang adalah tanaman-tanaman yang tumbuh di antara padi yang tidak terlalu bermanfaat itu," jelasnya.

 Alkahfi bersama kelompok tani yang dipimpinnya saat ini juga mengembangkan jenis tanaman lain selain padi. Yakni, menanam rami (boehmerianivera) setelah panen padi.

 "Tanaman rami untuk diambil seratnya," katanya.

 Masa tanam hingga panen tanaman rami sekitar empat bulan. Biasanya ditanam ketika warga sedang tidak menanam padi. Dengan model itu, warga mendapat lebih banyak keuntungan dari lahan pertanian mereka.

 Alkahfi mengungkapkan, setelah ditetapkan sebagai desa ProKlim pada 2012, warga Desa Muktijaya merasa lebih tenang hidup. Mereka jadi lebih kreatif dalam menghadapi perubahan dan kondisi iklim.

 Misalnya, warga tidak lagi bergantung pada lahan pertanian saja. Banyak warga yang mulai membudidayakan ikan di pekarangan rumah. Ada pula yang menjadikan pekarangan rumah sebagai apotek hidup.

 "Pengeluaran belanja warga bisa ditekan hingga 60"70 persen," katanya.

 Alkahfi berharap semakin banyak wilayah yang bisa ditetapkan sebagai desa ProKlim oleh Kementerian KLH. Dengan demikian, gerakan adaptasi dan mitigasi iklim bisa semakin luas di tanah air. Saat ini baru ada sekitar 30 desa yang ditetapkan sebagai desa ProKlim.

 "Bila makin banyak desa yang menjadi desa ProKlim, Indonesia akan jauh lebih aman bila sewaktu-waktu terjadi perubahan iklim ekstrem seperti datangnya gelombang el nino pada Mei hingga Agustus nanti," tandas Alkahfi.

(*/c5/ari)