Manajemen Proyek Tak Beres

Kamis, 05 Juni 2014 - 08:23:02 - Dibaca: 1202 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

SAMARINDA - Bau “tak sedap” dalam pembangunan rumah kantor (rukan) di Jalan Ahmad Yani, Samarinda, yang diduga menyalahi ketentuan konstruksi, makin tercium. Kegagalan struktur rukan tiga lantai dengan 17 petak ditengarai berhubungan dengan manajemen proyek yang tidak jelas.

Dari penelusuran Kaltim Post (jawapos group, red), alur pemberian pekerjaan dari pemilik modal hingga kepala proyek begitu panjang. Pemilik rukan adalah seorang pengusaha asal Samarinda yakni Juliansyah Gojali alias Liang Yu. Dia mengajukan izin mendirikan bangunan (IMB) melalui bendera PT Firma Abadi.

Liang Yu tinggal di Jalan Pelabuhan, Samarinda. Empunya beberapa toko bangunan ini juga memiliki lapangan bulu tangkis di Jalan Pulau Kalimantan.

Didatangi di kediamannya, kemarin, Liang Yu disebut sedang di luar kota. Putranya, Yani, menegaskan bahwa ayahnya tidak tahu-menahu pembangunan gedung yang menderita kegagalan struktur dan membuat belasan orang tertimpa puing-puing.

Yani yang mengenakan kaca mata ini menuturkan, ayahnya hanya membayar kontraktor untuk membangun rukan.

“Cuma terima kunci. Pengadaan material sampai tenaga kerja, itu urusan mereka (kontraktor). Dalam perjanjian, sudah ada spesifikasinya,” jelas Yani. Dia menambahkan, ayahnya tertekan dengan peristiwa ini. Lagi pula, usia Liang Yu sudah memasuki 80 tahun.

“Kami sudah meminta pengacara untuk menyiapkan pembelaan bila kami dibawa-bawa dalam masalah ini,” tegasnya. Namun begitu, dia mengaku tidak mengetahui nama badan usaha yang ditunjuk sebagai kontraktor.

Informasi yang diperoleh media ini, kontraktor yang ditunjuk Liang Yu berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Kontraktor ini kemudian menyerahkan pekerjaan kepada perusahaan lokal Samarinda yaitu PT Varia Dwi Tunggal yang dipimpin Nanang Ismail. 

Dalam catatan Dinas Cipta Karya dan Tata Kota (Disciptakot) Samarinda, badan usaha ini belum pernah mengikuti lelang proyek di instansinya. Herwan Rifai, sekretaris Disciptakot, mengungkapkan bahwa belum pernah mendengar nama perusahaan itu dalam lelang. Begitupun nama Nanang Ismail sebagai pemilik perusahaan.

Kemarin, Nanang enggan menemui Kaltim Post. Wahyu, anak Nanang, mengatakan bahwa ayahnya sedang istirahat karena sedang sakit.

Namun begitu, ihwal “pindah tangan” pekerjaan dari kontraktor Surabaya ke PT Varia Dwi Tunggal, dijelaskan kuasa hukum Nanang, Idrus Arsuni. Menurut pengacara senior di Kota Tepian ini, Nanang adalah kepanjangan tangan dari kontraktor asal Surabaya. Idrus juga mengaku belum mengetahui kontraktor yang dimaksud tadi.

Hubungan antara kontraktor Surabaya dengan Nanang juga sebatas persoalan kerja. Bahkan, gambar dan desain pembangunan hanya dikirimkan dari Surabaya.

“Ketemu saja (dengan kontraktor) belum pernah,” ucapnya. Nanang disebut hanya berperan membayar gaji pekerja dan membeli material yang diperintahkan kontraktor. Pihak yang menentukan campuran dan spesifikasi material adalah konsultan.

Idrus menegaskan, tidak ada unsur kesengajaan ataupun faktor kelalaian. “Buktinya di sebelah (bangunan rukan kembar) tidak roboh padahal spesifikasinya sama,” ulasnya. Dia menjelaskan, saat ini kliennya fokus penanganan korban. Idrus menyebutkan, Nanang tertimpa musibah sehingga perhatian kepada korban harus diutamakan.

Dari keterangan di lapangan, diketahui bahwa nama Siswanto berperan seperti pemimpin proyek. Dia diduga diberi kepercayaan oleh PT Varia Dwi Tunggal memimpin para pekerja. Sejumlah kuli mengaku, Siswanto yang membawa mereka dari Jawa Timur.

Pekerjaan pun dimulai Desember 2013 setelah IMB terbit. Struktur organisasi manajemen proyek, Siswanto yang disebut sejumlah pekerja adalah seorang “tukang senior”, berperan sebagai kepala dari empat mandor. Pembangunan dua gedung rukan kembar diawasi empat mandor. Suyaji dan Toni menjadi mandor di gedung yang ambruk.

Dari Mapolresta Samarinda, hingga pukul 20.15 Wita tadi malam, sudah 12 orang diperiksa. Namun nama 12 orang itu masih belum diketahui.

Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Antonius Wisnu Sutirta mengatakan, mereka yang diminta keterangan termasuk para mandor. “Kami sudah memanggil pemilik rukan namun yang bersangkutan masih di luar kota,” ucap perwira melati tiga ini.

Antonius mengatakan, kepolisian terus mengumpulkan bukti untuk mengetahui penyebab musibah sekaligus menyimpulkan pihak yang bertanggung jawab.  “Kami tak mau menduga-duga,” terangnya. Bantuan tenaga dari  tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur, lanjutnya, akan membantu penuntasan penyelidikan. Kemarin, Tim Labfor masih mengumpulkan sampel luar dan belum memeriksa forensik.

Wakil Gubernur Kaltim Mukmin Faisyal yang mendatangi lokasi kejadian mengatakan, akan ada tim dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) yang akan meneliti kejadian ini. “Jika hasilnya tidak memenuhi standar, harus diperintahkan membongkar (bangunan di sebelah) demi keselamatan orang sekitar,” tambah Mukmin.

Dia menegaskan, perlu diinvestigasi penerbitan IMB agar semua jelas. Mukmin menambahkan, pemerintah kota memiliki tanggung jawab penuh penanganan korban. 

(fel/*/fch/*/dra/*/riz/che/k8)