Mengenal Sejarah Tanggo Rajo Jambi

Selasa, 25 November 2014 - 11:22:07 - Dibaca: 7461 kali

Google Plus Stumbleupon


 WISATA KULINER: Warga Jambi memadati kawasan Tanggo Rajo Jambi untuk menikmati wisata kuliner.(DEDI/JE)
WISATA KULINER: Warga Jambi memadati kawasan Tanggo Rajo Jambi untuk menikmati wisata kuliner.(DEDI/JE) / Jambi Ekspres Online

Dermaga Perahu untuk Penguasa, Selalu Berada di Dekat Istana

PROVINSI Jambi memiliki banyak tempat wisata memikat. Salah satunya kawasan Tanggo Rajo alias Ancol yang kini sudah menjadi tempat wisata kuliner  bagi warga Metropolis. Seperti apa sejarah Tanggo Rajo?

DEDI AGUSPRIADI

 

KAWASAN Tanggo Rajo memang cukup strategis dan gampang dicari. Berada persis di depan rumah dinas gubernur Jambi di bilangan pasar Jambi, kawasan ini sudah menjadi kawasan wisata kuliner untuk warga Kota Jambi.

            Tidak hanya pada akhir pekan saja, pada malam-malam biasa pun tempat ini selalu dikunjungi warga karena menawarkan berbagai varian makanan, dengan menu utama jagung bakar.

Posisi Tanggo Rajo sebenarnya cukup nyaman untuk sekedar melepas lelah. Pasalnya, pengunjung bisa langsung menikmati riak-riak Sungai Batanghari pada malam hari, karena posisinya yang berada persis di bantaran Sungai Batanghari.

Namun, siapa sangka, ternyata kawasan Tanggo Rajo dulung dijadikan sebagai tempat turun naiknya sang penguasa tertinggi pada zaman kerajaan, kesultanan, penjajah Belanda, dan terakhir adalah penguasa daerah sebagai kepala daerah yang disebut dengan Gunernur.

Dari dulu, letak Tanggo Rajo tetap didekat kawasan Istana, dan kebetulan Tanggo Rajo terletak di depan Rumah Dinas Gubernur Provinsi Jambi.

Tanggo Rajo itu sudah ada pada zaman kerajaan Hindu, yag dulunya terletak di ujung Jabung, pada saat Kerajaan Melayu Islam terletak di kawasan Damasraya, hingga Kerajaan Kesulthanan Melayu Jambi terletak di kawasan Tanah Pilih, jadi intinya Tanggo Rajo itu terletak dimana penguasa tersebut berada.

Sejarawan Jambi, Junaidi T Noor mengatakan,  bahwa Tanggo Rajo dahulunya merupakan sebuah bangunan kecil yang dibuat untuk turun naiknya seorang raja atau penguasa. Pada zaman kerajaan melayu Hindu sampailah dengan kerajaan melayu islam, yang namanya Tanggo Rajo pasti selalu ada. Karena Tanggo Rajo selalu terletak dikawasan Istana kerajaan, pada zaman terdahulu, alat transportasi yang digunakan oleh mayarakat adalah transportasi laut yaitu perahu yang disebut dengan nama jong, dan perahu yang digunakan oleh raja dikenal dengan sebutan Jong Kencana atau Perahu Kajang Lako.

Setelah itu kawasan kerajaan Melayu Jambi pada saat itu, ialah kawasan Tanggo Rajo saat ini, dan kerajaan melayu terdahulu dikenal dengan nama kawasan Tanah Pilih, yang tepatnya terletak di kawasan Mesjid Agung Al-Falah Jambi saat ini.

Junaidi T Noor Juga menjelaskan bahwa, Kawasan Tanggo Rajo yang saat ini dikenal Ancol itu merupakan kawasan tempat sang penguasa untuk turun naik keperahunya, dan pada saat zaman penjajahan Belanda, pada zaman itu penguasa itu dikenal dengan residen membuat sebuah bangunan, yang digunakan sebagai tempat tinggal sang penguasa, pada saat itu dikenal dengan sebutan demak, dan Tanggo Rajo itupun masih dikatakan sebagai Tanggo Rajo. Bangunan yang digunakan sebagai tempat itulah yang menjadi Rumah Dinas Gubernur Provinsi Jambi saat ini.

Kawasan  Tanggo Rajo terletak di tepi sungai Batang Hari, tepatnya di depan Rumah Dinas Gubernur Provinsi Jambi, yang setiap sorenya selalu dipadati dengan pengunjung,  selain itu aktifitas lalu lintas pun sering terhenti dikawasan Tanggo Rajo. Tahun ke tahun kawasan ini selalu dilakukan pembenahan oleh pemerintah Provinsi Jambi dan bekerja sama dengan pemerintah Kota Jambi. Dengan demikian pemerintah telah melakukan hal sesuai dengan kemampuanya, salah satu contoh pemerintah telah membuat merek atau gapura Taman Tanggo Rajo dan bukan Ancol.

Masyarakat Jambi banyak yang menyesalkan Tanggo Rajo disebut dengan Ancol Jambi, Sejarahwan dan Budayawan Jambi Junaidi T Noor sangat menyayangkan dengan sebutan Ancol Jambi.

“Penyebutan nama lain dari Kawasan Tanggo Rajo dengan sebutan Ancol  itu sesuatu hal yang salah oleh masyarakat Jambi. Tanggo Rajo lebih bagus dan asli milik Jambi, karena sebutan Tanggo Rajo memiliki sejarah tersendiri yang miliki oleh Jambi,’’ sebut Junaidi T Noor.

Sebutan Ancol tidak hanya disebutkan oleh masyarakat Jambi, akan tetapi masyarakat di luar daerah Provinsi Jambi  juga ikut mengenal, bahwa di Jambi juga memiliki Ancol. Selain di Ancol Kota Jambi, kawasan yang juga sering dikunjungi adalah Ancol Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Sebagai masyarakat tentunya berfikir bagaimana cara mengembangakan dan melestarikan kebudayaan Jambi bukan malah dihilangkan.

Dikatakannya sebutan Ancol pada awalnya terinspirasi dengan Ancol Jakarta, yang tempatnya juga ditepian Laut dengan kawasan yang cukup menarik, dan Tanggo Rajo juga terletak di Tepi sungai Batang Hari, ditambah banyaknya Kuliner yang posisinya tepat berada ditepi sungai Batang Hari dan tepat didepa Rumah Dinas Gubernur Provinsi Jambi,

“Kemungkinan terinspirasi dengan Ancol Jakarta, yang tepatnya pas ditepian laut, dan juga memiliki wahana hiburan yang banyak dan kuliner juga banyak, sehingga masyarakat Jambi mengharapkan Jambi bisa sama dengan Ancol,” katanya.

Budayawan Jambi ini juga mengatakan bahwa, masyarakat Jambi, dengan tidak sadar menghilangkan identitas kebudayaanya sendiri, dan ini perlu adanya peranan dari orang tua, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah daerah dalam memberikan sebuah pemahaman tentang tempat-tempat sejarah, budaya, dan adat istiadat Jambi. Jangan sampai kebudayaan yang dimiliki oleh Jambi itu hilang dengan perkembangan zaman dan teknologi seperti saat sekarang ini. (*)