Kerabat Korban Ngaku Puas

Rabu, 19 September 2012 - 10:24:39 - Dibaca: 2633 kali

Google Plus Stumbleupon


DIWAWANCARA : H M Siri (tengah) saat diwawancara oleh wartawan sesaat akan menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jambi.( M KHAIDIR/JAMBI EKSPRES)
DIWAWANCARA : H M Siri (tengah) saat diwawancara oleh wartawan sesaat akan menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jambi.( M KHAIDIR/JAMBI EKSPRES) / Jambi Ekspres Online

SEMENTARA ITU,  dalam persidangan kemarin, beberapa kerabat Ambo Alang tampak puas atas putusan hakim.

“Kita memang mengawal kasus ini sejak awal, kami melihat hakim sudah tepat,”ujar salah satu kerabat korban, Ismail yang juga sempat menjadi advokat keluarga Korban sebelum kasus ini masuk pengadilan.

Menurut Ismail, sejak awal kematian Ambo Alang, keluarga korban sudah curiga, bahwa Ambo Alang meninggal bukan karena perampokan, tapi dibunuh. Namun saat itu, perlu ada bukti-bukti sehingga memerlukan waktu lama untuk mengusutnya.

“Baru akhirnya kepolisian menangkap Indo Ase dan M Siri, karena ada dugaan, Ambo Alang memang dibunuh keluarganya sendiri,” tukas Ismail.

Ada enam orang tersangka dalam kasus pembunuhan sadis ini, selain H M Siri dan Indo Ase, ada M Jamal, dan Jamaludin sebagai eksekutor. Lalu ada Azwar yang membantu kedua eksekutor melarikan diri. M Jalam, Jamaludin dan Azwar baru akan menjalani sidang vonis hari ini, Rabu (18/9).

Ada juga Ambo Alak, namun dia sudah lebih dulu divonis oleh hakim dengan hukuman 4 tahun penjara. Sidang Ambo Alak tertutup, karena terdakwa masih dibawah umur.

Dalam fakta persidangan diketahui, kasus ini bermula dari ribut – ribut yang terjadi antara Indo Ase dan Suaminya Ambo Alang (korban). Ambo Alang disebut-sebut menuduh Indo Ase mengambil uang senilai Rp 20 juta. Lalu Ambo Alang meminta Indo Ase mengaku, namun Indo Ase menolaknya.

Indo Ase mengaku sering dipukuli oleh Ambo Alang, sehingga ia mengadu kepada orang tuanya, H M Siri.

Saat mengadu pertama, Indo Ase meminta agar Ambo Alang dibunuh, namun H M Siri menyarankan agar mereka bercerai saja. Namun saat itu Indo Ase tidak mau mendengarkan saran dari H M Siri. Indo Ase mengatakan, dirinya baru bisa puas jika Ambo Alang dibunuh.

Selanjutnya H M Siri tidak bisa berbuat banyak, ia akhirnya menuruti permintaan anak perempuannya tersebut.

Selanjutnya, Indo Ase meminta kepada adik-adik nya untuk menghabisi nyawa suaminya itu.

Pertemuan untuk merencanakan pembunuhan terhadap Ambo Alang digelar dirumah H M Siri. Saat itu dihadiri oleh M Jamal, dan Jamaludin.

Dalam perencanaan Ambo Alang harus dibunuh dengan benda yang sudah dijampi-jambi, karena menurut mereka, Ambo Alang adalah orang yang kebal senjata tajam.

H M Siri akhirnya mengambil kayu dan parang ke Riau. Kayu dan parang tersebut akan digunakan untuk mebunuh Ambo Alang. Yang ditunjuk sebagai eksekutor adalah M Jamal dan Jamaludin. Kednyanya di iming-imingi uang Rp 30 juta dan kebun oleh Indo Ase.

Rencana awal, pembunuhan akan dilakukan pada 18 Maret 2011, namun saat ini batal. Karena menurut H M Siri, waktunya tidak tepat.Proses pembunuhan sendiri baru dilakukan pada 19 Maret 2011.

Sebelum membunuh, kayu dan parang yang akan digunakan terlebih dahulu dilumuri minyak dan dijampi-jambi.

Selanjutnya. Sesuai rencana Indo Ase, pembunuhan akan dilakukan setelah Ambo Alang tidur.

Sore harinya, H M Siri sudah berkoordinasi dengan Indo Ase, bahwa nanti M Jamal dan Jamaludin akan datang kerumah.

Pada malam tanggal 19 Maret 2011 tersebut, seperti biasanya, Ambo Alang tidur bersama Indo Ase dikamarnya. Maklum, mereka sudah menikah 16 tahun dan punya 2 anak.Saat Ambo Alang masuk kamar, Indo ase memberitahu M Jamal dan Jamaludin bahwa Ambo Alang sudah ada di kamar. Lalu menyuruh M Jamal dan Jamaludin masuk rumah dan bersembunyi dikamar adiknya, Ambo Alak.

Saat Ambo Alang mulai tidur, Indo Ase lalu keluar kamar. Dari pintu kamar, ia memberi kode kepada M Jamal dan Jamaludin bahwa Ambo Alang sudah tidur.

Selanjutnya, Indo Ase masuk kamar mandi. Dan M Jamal bersama Jamaludin masuk kamar menghabisi nyawa kakak iparnya itu.

Untuk membunuh Ambo Alang, pertama Jamaludin memukulkan kayu yang sudah dijampi-jampi keperut Ambo Alang. Lalu Ambo Alang sempat terbangun karena kaget.

Saat terbangun, M Jamal lalu menebaskan parang ke leher Ambo Alang. Tidak sampai disitu, M Jamal juga menebaskan parang ke perut, tangan, dan kaki hingga Ambo Alang terkapar bersimbah darah.

Setelah Ambo Alang terkapar, M Jamal melaporkan kepada Indo Ase, dan Indo Ase sempat melihat suaminyayang bersimbah darah.

Sesaat kemudian, Indo Ase memerintahkan Jamaludin untuk mengikatnya dikamar mandi. Indo Ase juga memerintahkan M Jamal untuk mengacak-acak lemari pakaiannya dengan maksud agar kejadian tersebut dikira perampokan. Setelah mengikat Indo ase dan mengacak-acak kamar,  M Jamal dan Jamaludin langsung meninggalkan rumah dengan membawa motor bersama Azwar.

Dibawanya motor tersebut juga dengan tujuan agar masyarakat sekitar tidak curiga bahwa itu adalah pembunuhan, melainkan perampokan.

Sayangnya, motor tersebut ditinggalkan ketiganya di darah Tehok, sehingga motor tersebut ditemukan polisi.

Sayangnya, saat itu, polisi tidak bisa memastikan bahwa itu adalah pembunuhan berencana. Polisi masih percaya bahwa itu perampokan. Namun dengan kejadian-kejadian yang terjadi, polisi mulai curiga, sehingga melakukan penyelidikan.

M Jamal dan Jamaludin sempat melarikan diri ke luar negeri. Sementara Indo Ase sempat bersuami lagi.

Pelarian Jamal berakhir setelah ditangkap di sebuah terminal di daerah Palu, Sulawesi Rabu 22 Februari 2012 pukul 03.30 dini hari WITA.  Selanjutnya, M Jamal atau biasa disebut Jamal Muda, langsung digiring oleh anggota reskrim yang dipimpin Kanit Reskrim Ipda Hardianto SE pulang ke Jambi. Jumat (24/2) pelaku dengan tangan diborgol ke depan, sampai di Bandara Sultan Thaha pukul 12.40 WIB.

 (wne)