Aceh, Rumah Besar Berpintu Kecil

Rabu, 19 September 2012 - 10:26:47 - Dibaca: 2769 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Oleh Hermawan Kartajaya

Aceh itu sering diumpamakan sebuah rumah besar dengan pintunya yang kecil. Kenapa" Karena masuknya susah. Tapi, kalau sudah sekali masuk, akan legaaaa....

Ketika berkunjung ke Aceh, saya merasakan itu. Datang dengan perasaan waswas, apalagi ketika Aceh belum jadi daerah otonomi khusus seperti sekarang.

Orang Aceh sangat hangat dan lembut hati. Konon, Aceh itu singkatan Arab, China, Eropa, dan Hindustan. Jadi, itu menunjukkan bahwa sejak dulu Aceh yang terlihat homogen dari luar tersebut sebenarnya sangat plural ketika kita di dalamnya. Aceh ternyata juga sudah biasa terbuka kepada orang luar.

Cakrawala terbuka makin lebar ketika berkunjung ke Sabang dan mampir di Lagoy Beach yang sering disebut Blue Lagoon. Pantainya indah dan banyak bule yang stay di tree house. Saat hendak balik dan meninggalkan tempat itu, saya sangat terharu dengan farewell-nya.

Itu juga perlambang yang baik ketika kita berniat masuk ke sebuah komunitas. Susah masuknya karena pasti ada anggotanya yang curiga. Begitu juga Anda yang harus waspada ketika mulai masuk. Tapi, begitu berhasil, segala sesuatunya akan jadi beda."

Cerita tentang seorang teman pada artikel seri kemarin, sebelum dia masuk ke Komunitas Taichi, dia agak waswas karena merupakan orang Minang asli. Dia harus mengerti dulu VIP (value, identity, personality) dari Komunitas Taichi itu yang bukan budaya Padang. Tapi, setelah berada di dalam, dia merasa sangat nyaman. Semua ternyata menyambut dia sebagai teman.?

Nah, kalau sudah jadi teman, klarifikasi tentang siapa dia sebenarnya jadi gampang. Ketika dia menjelaskan bahwa tiap tiga bulan sekali kulakan branded bag ke Paris dan Milan, malah mereka semua mau titip. Jadi, nggak perlu lagi berjualan! Hanya perlu menunjukkan foto-foto barang terbaru yang dibawa. Barang, apalagi yang harganya mahal, lebih meyakinkan kalau dibeli dari seorang teman. Sebab, ada trust di antara sesama anggota komunitas.

Trust itu menjadi syarat utama dari sebuah komunitas. Kalau Anda tidak bisa dipercaya di sebuah komunitas,  Anda akan "tamat".  Bahkan, lebih baik keluar dari komunitas."

Tapi, kalau kepercayaan sudah benar-benar didapat, harga tak lagi menjadi masalah. Sebab, ketika orang sudah dipercaya, kualitas atau orisinalitas dari produk yang dijual akan mendapat kepercayaan secara berbarengan. Bagaimana pendapat Anda" (*)