Garam Bakal Masuk Resi Gudang

Jumat, 21 September 2012 - 10:31:48 - Dibaca: 3526 kali


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

SURABAYA-Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah mengkaji peluang komoditas garam masuk dalam kebijakan sistem resi gudang (SRG). Diyakini, dengan mekanisme pembiayaan dalam resi gudang bisa mengatasi persoalan yang dialami petani garam. Selama ini sistem resi gudang hanya terbatas pada komoditas gabah atau beras, jagung, kopi, kakao, lada, rumput laut dan rotan.

                Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi melihat adanya kemungkinan menerapkan SRG untuk komoditas garam. Itu berdasar karakteristik produksi garam. "Selama satu tahun, produk garam berlangsung empat bulan saja atau 120-150 hari dengan masa panen tiap 10-15 hari. Nah, dalam periode yang sempit itu garam harus dibeli, kalau tidak harganya akan jatuh," katanya saat membuka Seminar Nasional Sistem Resi Gudang di Surabaya, kemarin (20/9).

                Di satu sisi, perajin atau petani garam membutuhkan pendapatan. Tidak mungkin petani menyimpan garam miliknya untuk dijual di luar masa panen. Karena itu, perlu ada lembaga yang bisa menjamin garam milik rakyat terserap. Tapi, sampai sekarang belum ada perusahaan yang bisa melaksanakan hal itu.

                "Tantangannya, bagaimana ada perusahaan yang bisa membeli semua garam rakyat dalam periode singkat, lalu dijual untuk kebutuhan sepanjang tahun. Padahal, tidak semua perusahaan memiliki cash flow yang kuat. Karena itu, adanya sistem resi gudang ini akan membantu dari sisi pembiayaan," ungkapnya. Dalam hal ini, lembaga yang memiliki peluang menjadi penjamin garam rakyat adalah PT Garam.

                Dia meyakini, sistem resi gudang dapat mendukung kebijakan Kemendag terkait harga penjualan garam. Seperti diketahui, Kemendag melalui Peraturan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Nomor 2/2011 menetapkan harga penjualan garam kualitas 1 di tingkat petani garam minimal Rp 750/kg (dari sebelumnya Rp 325/kg) dan untuk garam kualitas 2 minimal Rp 550/kg (dari sebelumnya Rp 250/kg).

                Dalam kesempatan yang sama, Dirut PT Garam Yulian Lintang mengatakan kalau ke depan pemerintah sudah menetapkan kewenangan PT Garam atas perniagaan garam, pihaknya siap menindaklanjuti. "Apalagi, kalau nanti diikuti dengan kebijakan resi gudang, kami siap mengambil dan menyerap garam rakyat," katanya. 

                Dia menjelaskan, kesiapan tersebut salah satunya menyangkut keberadaan gudang yang memadai. "Kami siap membeli berapa pun yang diminta pemerintah. Sebab, dari sisi fasilitas gudang sudah tersedia, sehingga tidak menjadi masalah. Gudang kami tersebar di Madura, Sampang, Pamekasan dan Sumenep dengan kapasitas bisa mencapai 200 ribu ton," urai Lintang.

                Selain itu, pihaknya mengklaim membeli garam rakyat dengan harga lebih tinggi. Yakni, untuk saat ini saja sudah mencapai Rp 675 per kg. Ke depan, lanjut dia, stabilitas harga garam akan terus meningkat seiring dengan habisnya stok garam impor. "Selama ini, harga garam sangat dipengaruhi oleh suplai dan demand. Namun kalau nanti ada mekanisme sistem resi gudang, tentu peluang petani garam lebih terbuka dalam menawar harga," ucapnya.

                PT Garam mencatat penyerapan garam rakyat hingga Agustus lalu sebanyak 67 ribu ton. Ditargetkan sampai Desember nanti bisa mencapai 200 ribu ton.

(res)