Fokus Bina Olahraga

Rabu, 26 September 2012 - 11:21:35 - Dibaca: 1971 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Pengurus KONI Harus Profesional

JAMBI-KONI Jambi harus fokus dalam pembinaan olahraga. Tidak perlu banyak cabor untuk dibina guna menuju prestasi maksimal. Selain membuang waktu, juga membuang dana yang tidak sedikit.

                Hal itu dikemukakan pengamat olahraga Jambi, Asnawi Nasution. Ditemui kemarin, komisaris Bank 9 ini mengatakan yang paling penting sekarang adalah fokus membina olahraga.

                "Beban KONI sudah berat. Ada puluhan cabang olahraga yang dinaungi plus organisasi fungsional lainnya. Itu membutuhkan pikiran lebih untuk mengelolanya,"beber mantan ketua harian pengurus pusat persatuan senam seluruh Indonesia ini.

                Asnawi lebih jauh mengatakan sudah saatnya para pengurus adalah orang-orang profesional. Jangan lagi kepengurusan di KONI menjadi sambilan pekerjaan lain. "Kalau sudah seperti itu, prestasinya juga akan jadi sambilan, tidak fokus. Wartawan saja harus ada yang spesialis,"tuturnya.

                Saat ini, sebagian pengurus KONI Jambi memang diisi orang-orang yang berasal dari berbagai disiplin. Namun akibatnya, tidak ada yang fokus mengurus olahraga. Hasil akhirnya bisa dilihat. Untuk bisa minimal menyamai raihan di PON XVII/2008 di Kaltim saja, kontingen Jambi kedodoran.

                Memang, akunya, PON XVIII/2012 di Riau ini persiapannya tidak matang. Sebab ini adalah tinggalan kepengurusan lama yang berhenti di tengah jalan sehingga program tidak bisa berjalan. "Tapi itu tadi, sebagai seorang manajer, pimpinan KONI harus mengidentifikasi masalah apa yang sedang terjadi. Harus ada sesuatu di luar kebiasaan yang diambil  untuk mengatasi krisis yang terjadi,"ulasnya.

                Untuk itulah ia memberikan flash back terhadap keikutsertaan Jambi di PON. Total sudah 9 PON telah diikuti Jambi sejak tahun 1981. "Pimpinan daerah waktu itu memang diisi orang yang paham betul olahraga,"ungkapnya.

                Maka ditentukanlah skala prioritas. "Waktu itu, hanya atlet yang berhasil menduduki maksimal ranking 6 nasional yang akan dikirim ke PON,"urainya. Batasan inilah yang membuat atlet peserta PON benar-benar selektif.

                Standarisasi ini berlaku hingga keikutsertaan PON XIII di Jakarta tahun 1993. Standar yang ketat ini membuat kontingen ramping dan efektif serta produktif. Di PON XI tahun 1985, Jambi menempati peringkat 8 nasional dari 27 provinsi dengan raihan 12 emas, 10 perak dan 11 perunggu. Demikian juga saat turun di PON XII tahun 1989 di Jakarta. Kembali nama Jambi makin dikenal di tingkat nasional dengan raihan 19 emas, 17 perak dan 19 perunggu dan duduk di peringkat 7 nasional. Hanya turun satu peringkat ke ranking 8, Jambi mendulang 14 emas, 15 perak dan 24 perunggu.

                Bukannya melonggarkan standar keikutsertaan atlet PON, KONI waktu itu justru memperketat atlet yang bisa mewakili Jambi di PON. Maksimal hanya atlet yang menduduki peringkat 5 nasional yang bisa membela Jambi. "Memang banyak menuai protes dan kekecewaan. Banyak atlet yang menangis karena tidak berangkat hanya karena ada di rangking 6 ke bawah,"jelas mantan ketua Pengda ISSI Jambi ini.

                Namun justru itu yang membuat prestasi Jambi terus terjaga. Sebab kucuran dana yang tidak banyak bisa fokus ke cabang-cabang olahraga yang berpotensi mendapat medali. Puncaknya adalah ketika Jambi turun di PON XVI/2004 di Palembang. Saat itu Jambi menempati peringkat keenam nasional dengan raihan 27 emas, 27 perak dan 12 keping medali perunggu. Hasil ini mempertahankan peringkat Jambi di PON XV/2000 di Surabaya di undakan keenam dengan raihan 19 emas, 9 perak dan 13 perunggu.

                Blunder kemudian terjadi saat turun di PON XVII/2008 di Kaltim. Kebijakan ketua harian untuk memberangkatkan semua atlet yang lolos ke PON membuat biaya membengkak. Di PON XVI/2004 di Palembang, pemerintah hanya keluar dana Rp 14 milyar selama 4 tahun persiapan hingga keberangkatan dengan hasil memuaskan. Bandingkan dengan saat di PON XVII/2008.

                Pemerintah total mengeluarkan dana hingga Rp 45 milyar selama 4 tahun persiapan dan pemberangkatan. Namun hasilnya, Jambi hanya menempati peringkat 15. "Itu belum terhitung dana bantuan dari kalangan pengusaha yang sempat dikumpulkan gubernur Jambi untuk menghimpunnya,"bebernya.

                Meski sudah ada pelajaran itu, kontingen KONI XVIII/2012 di Riau terulang. Hampir semua atlet yang lolos PON melalui berbagai jalur diberangkatkan. Akibatnya, jumlah kontingen membengkak. Dan hasilnya juga mengecewakan. Bahkan jauh di bawah raihan PON XVII.

                Asnawi pun menegaskan bahwa sudah saatnya pengurus KONI lebih profesional dengan aparat-aparatnya. Tidak perlu banyak pengurus asal bisa memberi hasil maksimal tentu dana yang lain bisa dialokasikan ke kebutuhan atlet lainnya.

(tya)