Enam Bulan Tanpa Kekerasan di Akpol, Anggota Berprestasi Jadi Pengasuh

Senin, 29 Januari 2018 - 10:52:33 - Dibaca: 1316 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA - Akademi Kepolisian (Akpol) mulai mengalami perubahan wajah. Gubernur Akpol Irjen Rycko Amelza Dahniel memastikan selama enam bulan pasca kekerasan senior yang menewaskan Brigdatar M. Adam, sama sekali tidak ada indikasi kekerasan yang terjadi di kawah candradimuka-nya calon pimpinan Polri.

Mantan Kapolda Sumatera Utara (Sumut) tersebut mengatakan, tidak adanya indikasi kekerasan selama enam bulan terakhir ini karena berbagai perubahan telah dilakukan. Salah satunya, membangun hubungan antara senior dan yunior yang lebih terhormat dan humanis. ”Senior membina yunior boleh, tapi tanpa kekerasan,” tegasnya.

Langkah lainnya adalah memperbaiki kualitas dan kuantitas pengasuh. Dulu pengasuh taruna itu jumlahnya hanya 60 orang, yang setiap pengasuh bisa mengawasi lebih dari 60 taruna. Jumlah yang sangat tidak berimbang dan membuat pengasuh tidak bisa mendalami karakter taruna. ”Sekarang perbaikan dilakukan,” terangnya.

Jumlah pengasuh telah ditambah menjadi lebih dari 140 orang, yang tiap pengasuh mengawasi hanya 20 siswa. Kenaikan jumlah pengasuh ini sekitar 105 persen. Dengan begitu, pengasuh bisa mendalami karakter taruna, pendidikannya, latar belakang keluarganya dan aspek lainnya. ”Tentunya, untuk memberikan pengasuhan yang tepat,” jelasnya.

          Pengasuh juga bukan orang buangan, melainkan polisi yang berprestasi. Misalnya, Komandan Mentornya merupakan anggota Brimob terbaik. ”Dia ini sekarang berpangkat Kombespol dan setelah selesai menjadi Komandan Mentor Akpol akan pecah bintang,” terangnya pada Jawa Pos (Induk Jambi Ekspres) kemarin.

          Untuk pengasuh diambil dari Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah (Sespimen) Polri dengan peringkat satu hingga empat. Ada pula pengasuh dari Sekolah Inspektur Perwira (SIP) yang diambil dari peringkat satu hingga 60. ”Ibarat menyapu itu tidak bisa dengan sapu yang kotor,” jelas peraih Adhi Makayasa 1988 tersebut.

          Dia menuturkan, pengasuh taruna Akpol ini tidak hanya berprestasi, namun memiliki motivasi dan siap promosi. Untuk menjaga semua itu dilakukan kontrak kerja terhadap pengasuh selama dua tahun. ”Dua tahun menjadi pengasuh, mereka lalu promosi,” terang jenderal berbintang dua.

          Kontrak kerja ini menjadi jaminan untuk pada pengasuh mendapatkan penghargaan atas perbaikan yang dilakukan. ”Kan terkadang bisa tidak jelas sampai kapan menjadi pengasuh, ini bentuk kepastiannya dan yang berprestasi layak untuk promosi,” tegasnya.

          Sebagai Gubernur Akpol, Rycko saat ini sedang menunggu apakah perbaikan yang dilakukan juga memiliki dampak yang signifikan pada prestasi akademik taruna. ”Februari ini ada laporan prestasi akademik, saya berharap ada kenaikan prestasi,” terang mantan ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) tersebut.

(idr)