Nurhasan, Perajin Sandal Ukir (reibii_art), Termotivasi Karena Sandal Kerap Tertukar di Masjid

Kamis, 15 Maret 2018 - 12:08:16 - Dibaca: 4915 kali

Google Plus Stumbleupon


MENGUKIR : Tangannya kerap tergores karter saat tengah asyik mengukir sandal jepit. Tapi itu bukanlah menjadi rintangan bagi Nurhasan.
MENGUKIR : Tangannya kerap tergores karter saat tengah asyik mengukir sandal jepit. Tapi itu bukanlah menjadi rintangan bagi Nurhasan. / Jambi Ekspres Online

Ide kreatif Nurhasan patut di apresiasi. Ia menjadikan sandal jepit suatu hal yang menarik dan mampu menjadi daya tarik bagi mata masyarakat. Melalui tangan dinginnya sandal jepit mampu diolah menjadi ragam kerajinan.

MUHAMMAD HAFIZH ALATAS

DUA tahun belakangan ini sandal jepit menjadi teman akrab Nurhasan. Disela waktu senggangnya ia menyempatkan diri mengukir sandal jepit swallow menjadi kerajinan yang menarik.

Awalnya warga RT 31 Kelurahan Payo Selincah, Kecamatan Paal Merah Kota Jambi itu memiliki inisiatif mengukir sandal jepit karena sendalnya kerap tertukar saat di masjid.

“Keseharian saya memang pakai sandal jepit. Saat kerumah teman dan ke Masjid sering ketukar. Jadi iseng-iseng buat tanda dengan ukiran. Tujuannya biar tidak tertukar lagi,” katanya.

Setelah mengukir sandal jepitnya, Hasan memposting karyanya di media sosial. Ia mendapat respon positif dari pengguna medsos lainnya. “Banyak yang merespon baik, ada juga yang minta dibuati. Akhirnya saya teruskan,” imbuhnya.

Demi mengembangkan hasil ukirnya di sandal jepit, ia berupaya mencari informasi dan belajar dari google. Untuk menjadikan satu ukiran yang menarik ia membutuhkan media sandal jepit, alat ukir (karter) dan lem.

“Kini keterusan. Setip hari rata-rata ada 5 pesanan,” ujarnya.

Kerajinan yang dihasilkannya dari sandal jepit beragam, mulai dari ukiran nama hingga jam dinding. Peminat hasil karyanya rata-rata anak muda. “Banyak yang pesan untuk kado ulang tahun,” sebutnya.

Dalam sehari Ayah dua anak tersebut bisa mengerjakan 6 ukiran sandal. Tergantung tingkat kesulitan. “Sandal ukir suka-suka,” kata  pemilik Reibii Art tersebut.

Keseharian pria kelahiran 6 Mei 1990 tersebut merupakan seorang buruh harian bangunan. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga ia kerap kekurangan. Sehari sebagai buruh ia dibayar Rp110 ribu. Itupun tidak setiap hari ia bisa bekerja, tergantung job yang ada. “Saat malam saya nyambi mengukir sandal jepit, Alhamdulillah bisa bantu. Kadang jam istrahat ditempat kerja saya sempatkan mengerjakan ukiran sandal,” sebutnya.

Harga sandal ukirnya beragam. Mulai dari Rp30 ribu hingga 90 ribu per unit. “Belum berani masukan ke totko-toko, takut harga kita ketinggian. Kini yang mesan melalui media social. Instagram @reibii_art,” sebutnya.

“Omzet paling besar dari ukiran sandal jepit ini sebulan Rp2 juta,” pungkasnya. (***)