Minyak Naik, Masyarakat Mengeluh

Selasa, 27 Maret 2018 - 10:20:36 - Dibaca: 741 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAMBI - Sebulan yang lalu tepat pada 24 Februari 2018, PT Pertamina (Persero) menaikan harga BBM non subsidi yakni Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex . Kali ini giliran Pertalite yang  harganya kembali dinaikan sebesar Rp 200 menjadi Rp 8.000 per liter. 

Kenaikan itu berlaku mulai Sabtu (24/3) kemarin merata di seluruh wilayah pemasaran di Indonesia.

Tentu saja kenaikan ini menimbulkan prokontra di masyarakat. Banyak masyarakat yang mengatakan, Pemerintah saat ini  selalu diam-diam saat menaikan harga BBM .

Dikonfirmasi kemarin,  PT Pertamina (Persero) Hermansyah Y Nasroen, selaku Region Manager Communication and CSR Pertamina Sumbagsel mengatakan kenaikan penyesuaian harga BBM jenis Pertalite merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik dan pada saat bersamaan nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dollar Amerika.

Ia menuturkan, Pertamina juga sudah berupaya untuk bertahan dengan harga saat ini, namun harga bahan baku yang meningkat tajam, mengharuskan kenaikan harga BBM pada konsumen akhir.

"Keputusan untuk menyesuaikan harga merupakan tindakan yang juga dilakukan oleh badan usaha sejenis, namun kami tetap berupaya memberikan harga terbaik bagi konsumen setia produk BBM Pertamina," jelasnya.

Penyesuaian harga BBM Research Octane Number (RON) 90 tersebut, kata Hermansyah, secara periodik dilakukan Pertamina sebagai badan usaha, dan Pertamina mengapresiasi konsumen yang tetap memilih Pertalite maupun bahan bakar berkualitas produk Pertamina lainnya sebagai bahan bakar bagi kendaraannya karena dengan menggunakan bahan bakar berkualitas tentunya juga turut serta menciptakan kualitas udara yg lebih baik. Ia menambahkan

penyesuaian harga ini juga dalam rangka Pertamina tetap bisa bertahan untuk menyediakan BBM dengan  pasokan yang cukup sesuai kebutuhan konsumen secara terus menerus sehingga tidak mengganggu konsumen dalam beraktifitas sehari-hari dimanapun.

Untuk wilayah Provinsi Jambi sendiri, kenaikan BBM Pertalite Rp 200 tersebut menjadikan BBM Pertalite seharga Rp 8.000 perliter dari awalnya Rp 7.800 perliter.

Kenaikan harga Pertalite ini tentu saja mengundang banyak pertanyaan di masyarakat. Seperti, Amalia(26) karyawan Swasta ini yang mengakui bahkan Ia belum tahu kalau ada kenaikan. Namun setelah tahu ada kenaikan ini Ia langsung berkomentar jika saat ini kenaikan BBM sudah dilakukan diam-diam saja.

“Diam-diam sudah naik, nggak ada pemberitahuan dulu ya, aduh, kok naik semua sih kan pengeluaran juga berkurang meski Rp 200  juga terasa,” katanya. 

Tak hanya itu, Nining seorang pegawai swasta (29) pun mengeluhkan hal yang sama. Pasalnya ia tak menyadari ada kenaikan. Iapun menyangkan kenaikan ini, namun Ia pun tidka ada pilihan sebab saat ini  jika tidak  menggunakan BBM subsidi sulit ditemyuian di SPBU.

“Mau pakai premium lagi, secara nggak semuanya sekarang nyediain premium.  Kita masyarakat diminta pakai non subsidi, tapi harga naik terus. Gimana lah sudah nggak ada pilihan,” keluhnya.

 

Lancar di SPBU

Sementara itu, pantauan koran ini di beberapa SPBU di Kota Jambi (26/3), kebanyakan pembeli BBM kaget saat petugas menerangkan harga satuan liter untuk pertalite ini adalah Rp8000.

Atau lebih mahal Rp200 dari sebelumnya. Tak hanya dikagetkan dengan harga, stok pertalite pun sempat lenyap di SPBU Nusa Indah, Kota Jambi pada (26/3).       Hingga BBM ini kembali tersedia pada pukul 15.00 WIB.

“Pertalite kosong dari pagi tadi, baru masuk sore ini," ujar petugas pengisian SPBU kemarin (26/3).

Namun dia mengatakan ini bukan efek dari kenaikan pertalite secara nasional, tetapi mobil pengangkut BBM memang terlambat masuk ke SPBU tengah kota ini.

Alhasil calon pembeli terpaksa membeli BBM berjenis Pertamax. Ataupun jika tidak sesuai tampak pengemudi beralih kepada SPBU sekitar daerah Telanai ini. "Rencana mau beli Pertalite namun kosong, jadi terpaksa ke Telanai saja," ujar Riko salah seorang pengemudi yang kecewa.

Namun demikian Riko mengaku tetap akan mengejar Pertalite yang telah dia gunakan selama dua tahun belakangan ini. "Sebenarnya cukup kaget harga pertalite naik Rp200, tapi kalau beralih ke Premium takutnya besok dihapus pemerintah," tambah Riko.

Untuk kondisi di SPBU ini tampak lancar seperti hari biasa. Tanpa ada antrian yang mengular ataupun sepi pembeli. Tampak pembeli sepeda motor memadati jalur kios BBM Pertamax, karena di SPBU ini memang tidak ada minyak berjenis Premium. Namun untuk kendaraan roda empat khusus bermesin Diesel kegiatan pengisian BBM masih terlihat ramai lancar. Karena lebih variatif dengan ketersediaan Solar dan Dexlite.

Sementara pada pemantauan kedua tepatnya di SPBU Telanai Simpang Karya terlihat antrian pengisian BBM berjalan lancar. Tampak antrian pertalite sama dengan antrian bahan bakar Premium. Walaupun harga Pertalite di SPBU ini telah naik dua hari lalu (24/3). "Untuk Pertalite menjadi Rp8000 naik Rp200 dari sebelumnya, dua hari lalu  ditetapkan disini,’’ jelas petugas.

Di SPBU Simpang III Sipin juga terlihat lancar. Pengisian BBM juga tampak normal. Jalur sepeda motor  khusus pengisian pertalite tampak dipenuhi barisan yang mengular. Sementara untuk pengisian Premium juga tetap melayani sepeda motor, namun pada pompa BBM dengan nama lain bensin ini lebih banyak dipenuhi oleh mobil pribadi dibandingkan roda dua.

(yni/aba)