Ikon Baru Bali Mulai Keren!

Selasa, 22 Mei 2018 - 11:14:07 - Dibaca: 1415 kali

Google Plus Stumbleupon


Patung Raksasa Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Ungasan, Kuta Selatan, Badung
Patung Raksasa Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Ungasan, Kuta Selatan, Badung / Jambi Ekspres Online

MANGUPURA - Ikon baru Pulau Dewata itu akhirnya bisa dinikmati juga. Meski belum selesai total sepenuhnya. Khusus untuk patung, sebentar lagi perwujudan karya raksasa Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Ungasan, Kuta Selatan, Badung, akan rampung.

Hari Minggu (20/5) kemarin telah dilakukan ritual pasupati, ngerestiti, pecaruan di pelataran patung  dan pemasangan mahkota patung Dewa Wisnu. Prosesi ritual tersebut dipimpin oleh empat pedanda (pendeta Hindu) yang bertujuan nantinya untuk memohon keselamatan dan kelancaran penyelesaian patung GWK ini.

Prosesi ritual tersebut dipimpin empat orang pedanda. Ini mewakili Pedanda Siwa dan Buddha adalah Ida Pedanda Putra Telabah dari Giriya Telabah Denpasar, Ida Pedanda Oka Mas dari Griya Satira Denpasar, Ida Pedanda Gede Ngurah Putra Keniten dari Griya Kediri Sangeh, dan Ida Pedanda Budha dari Griya Gunung Sari Peliatan Ubud , serta Ida Rsi Agung Dawan Pemecutan yang melangsungkan upacara Puja Brahma di Pura Desa. 

Ritual ini juga diisi Tarian Rejang Dewa dari Sanggar Paripurna Gianyar yang dipimpin I Made Sidia. Selain ritual keagamaan juga dilakukan pemasangan mahkota  Dewa Wisnu dengan menggunakan peranti crane.

Pemasangan mahkota Dewa Wisnu jadi pemasangan modul yang ke-529, dari total 754 modul. Ini kelak kalau sudah kelar akan membentuk seluruh sosok patung GWK.  Mahkota ini dilapisi mozaik emas  dengan berat mahkota mencapai 3,5 ton.

Patung ini memang masih butuh pemasangan modul lagi. Belum kelar sepenuhnya. Karena total GWK akan disusun dari kepingan modul yang keseluruhan mencapai 754 buah. 

Keberadaan patung ini setinggi 121 meter dari permukaan tanah atau 271 meter dari permukaan laut 9dpl). Karyawan yang dilibatkan dalam proses pembuatan patung dari awal hingga selesai sedikitnya 200 orang dari berbagai suku, agama dan ras. “Perjuangan patung ini menelan waktu 28 tahun sejak digagas. Saya harus menjaga kesehatan. Dulu saya sama Pak  Mangku Pastika (Gubernur Bali) pernah mengatakan.  Pak, kita kan seumur, ini harus cepat selesai, ” jelas penggagas GWK Nyoman Nuarta, saat mengenang awal perjuangan pembuatan patung ini, kemarin, mengenang, dengan nada canda.

GWK ini sejatinya bermula dari gagasan Nyoman Nuarta,  bersama Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi era Orde Baru, Joop Ave, Gubernur Bali IB Oka, serta melibatkan Menteri Pertambangan dan Energi IB Sudjana. 

Bahan patung dengan detail konstruksi rumit ini langsung  impor dari Jepang, Eropa dan bahkan Amerika Latin.  “Seniman dari Bali, pekerja dari Bandung, Jawa, Batak dan semuanya ini bersatu. Ini  semoga nanti yang menjadikan GWK ini. Ini betul-betul Indonesia, itu kebanggaan saya,” tuturnya.

“Tidak sekadar membuat karya selesai kita tinggalkan, tetapi bagaimana kita membangun karya ini bermanfaat kelak untuk bangsa kita. Dulu kita punya semboyan GWK for the world, tapi saya yakin bisa seperti itu, ” jelas. 

Kata dia, saat ini ada respons positif dan dia berusaha keras agar Patung GWK  Agustus 2018 bisa selesai. Ritual pasupati ini sejatinya untuk keselamatan dan penyelesaian nya diharapkan lancar, sesuai target jadwal.

“Kalau nggak punya niat positif tidak berjalan seperti ini. Anak-anak yang bekerja ini taruhannya nyawa. Kita semua seperti itu. Kalau kita tidak punya mimpi yang besar, apa bangsa ini yang bisa dibanggakan. Apalagi terakhir masih saja ada aksi teroris, anti negara. Tapi kita tetap bicara seni dan keindahan dan dampaknya nanti dunia pariwisata kita, ” terang seraya menambahkan bahwa ia sendiri tidak lagi memiliki saham dan semuanya sudah dimiliki investor.

Kata dia, kendati tidak punya saham tetapi patung tersebut harus jadi dan lokasi patung ini juga masih tetap Bali. Karena dampaknya sangat besar untuk pariwisata Bali. “Kebetulan umur saya 67 tahun. Harus dipercepat, siapa tahu nanti saya mati. Mumpung ada waktu dan sehat, harus kita kejar. Harapannya, Agustus selesaikan nanti. Ini hadiah untuk HUT RI, untuk negara kita,” jelas pematung kelahiran, Penebel, Tabanan,  ini.

Sementara Gubernur Bali Made Mangku Pastika sebelum memberi sambutan terlebih dulu mengajak para undangan dan yang ada dalam ritual tersebut untuk doa bersama.  “Mereka orang hebat yang memiliki gagasan ini, yang telah berani memulai ini dan melaksanakan. Mari kita hening sejenak, ” jelas seraya diikuti dengan suasana hening sejenak oleh para undangan.

Kemudian dia menjelaskan bahwa melalui perjuangan dan perjalanan yang sangat panjang, melalui persoalan-persoalan niskala dan sekala, material dan spiritual, persoalan hukum, politik, ekonomi, yang begitu panjang. Juga  menguji kesabaran, ketabahan, komitmen, hingga akhirnya bisa selesai juga.  “Hari ini kita menyaksikan semua  (Patung GWK) hampir selesai. Poin terpenting adalah upacara hari ini. Ini memberi makna yang luar biasa, ” terangnya.

Di kesempatan ini, Gubernur Pastika juga secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ida Pedanda Telabah, yang mencari solusi secara spiritual. Tapi, juga dia juga menyampaikan masukan tentang penilaian sisi lain GWK. Menurutnya, dalam kepercayaan Hindu, Wisnu tempatnya di utara dan  di selatan Dewa  Brahma. 

Akhirnya, pihaknya memohon kepada Ratu Pedanda Putra Telabah untuk mencarikan solusi secara spiritual. Pedanda Putra Telabah memberikan solusi. Yakni, lokasi ini dianggap daerah satu entitas, atau satu wilayah, sehingga didirikan Patung Brahma di selatan.

“Mudah-mudahan para pengelola ingat pada waktu itu. Sehingga ini (patung GWK sekarang) menjadi utara. Itulah solusi yang diberikan oleh beliau. Mudah-mudahan Tuhan memberkati. Ini bisa jadi dengan baik, ” pungkas Mangku Pastika.

(dwi/pit)