33.398 Siswa SMA/MA Ikuti UNBK

Senin, 01 April 2019 - 20:17:00 - Dibaca: 2156 kali

Google Plus Stumbleupon


Siswa SMA sederajat saat mengikuti UNBK.
Siswa SMA sederajat saat mengikuti UNBK. / Jambi Ekspres Online

JAMBI - Setelah diawali dengan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) untuk SMK, minggu ini tiba giliran pelaksanaan untuk SMA/MA. Tepatnya akan dilangsungkan dari 1 hingga 8 April mendatang.

Pelaksanaan ini lebih panjang karena terdapat hari libur pada pelaksanaan UNBK ini. Setidaknya sebanyak 33.398 Siswa SMA/MA bakal melaksanakan ujian yang tak lagi jadi penentu kelulusan ini.

Sugiyono, Ketua UN Provinsi Jambi menyampaikan untuk kesiapan UNBK SMA/MA sudah optimal. Dia menyebut tidak ada perbaikan signifikan dari pelaksanaan UNBK pada SMK sebelumnya. "Semua sudah siap tinggal ujian saja, palingan antisipasi nya tim kita akan berada di Kerinci dan Sungai Penuh pada Senin," sebutnya. Ini dikarenakan pada UNBK SMK sempat terjadi tegangan listrik rendah sehingga listrik padam sementara dan kendala teknis pada server UNBK. "Untuk itu kami juga sudah koordinasi dengan PLN, bahkan sekolah juga sudah siapkan genset walaupun tidak seluruhnya," sampainya.

Setidaknya ada 221 SMA dan 203 MA yang akan mengadakan UNBK. Ujian akan diawali dengan ujian bahasa Indonesia pada hari Senin dengan per harinya terdiri dari tiga sesi. Kemudian pada Selasa Matematika, lalu hari Kamis akan ujian Bahasa Inggris , dan Senin selanjutnya akan satu mata pelajaran jurusan yang diujikan. "Nantinya jika ada kendala yang mengharuskan ujian susulan, tetap ada pada 15 dan 16 April mendatang," jelasnya.

Untuk pemantauan sendiri pihaknya menyebut satuan tugas akan menyebar didaerah kabupaten/kota. Selain itu jika ada pelaporan terkait UNBK dia juga menyebut masyarakat bisa melapor di Posko yang terletak di Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

Kemudian ditanya terkait pelaksanaan ujian di MAN 2 Kota Jambi yang beberapa Minggu lalu terjadi kebakaran gedung TIK sekolah, Sugiyono menyebut UNBK tetap dilaksanakan dengan kebijakan awal sekolah yang meminjam ruangan MTS Model, karena bersebelahan gedung. "Jadi disana tetap akan diadakan UNBK, dengan kesepakatan kemarin saya rasa tidak ada masalah," katanya.

Untuk komputer sendiri dia menyebut umumnya di Provinsi Jambi memang telah diusahakan oleh pihak Dinas Pendidikan untuk dicukupi. Baik itu dengan peminjaman orang tua siswa, sumbangan alumni ataupun cara lain yang ditempuh sekolah. "Jadi untuk itu kita adakan tiga sesi karena sebenarnya jumlah siswa belum sebanding dengan Komputernya," ujarnya.

Dari penelusuran koran ini setidaknya untuk siswa SMA Negeri dan swasta yang akan mengikuti UNBK berjumlah 24.629 dengan Client (Komputer) sebanyak 10.507, yang dilengkapi dengan 326 server. Untuk SMA sendiri terdapat 190 sekolah yang akan mengadakan UNBK secara mandiri selebihnya 31 sekolah memilih menumpang di sekolah lain.

Kemudian pula untuk MA ada 8.769 siswa dengan komputer yang ada 4.645 dan dilengkapi 165 server. Lalu diantara total 203 MA terdapat 141 yang mengadakan UNBK di sekolahnya sendiri (mandiri) sementara 62 lebihnya mengadakan di sekolah lain.

Pengamat pendidikan Provinsi Jambi Prof. Damris M,M.Sc, Ph,D menyampaikan sekolah harus mempersiapkan diri untuk melihat bagaimana proses keberhasilan pengajaran yang telah dilakukan selama ini. Ini karena nilai UN menjadi pedoman keberhasilan setelah bukan lagi merupakan penentu terakhir kelulusan siswa. "Inilah gambaran pendidikan yang bisa dilihat, skor yang diperoleh siswa itulah cerminan terhadap pendidikan kita, kalau kita lihat di tahun terakhir tidak ada lagi pengawasan independen dan tidak dihubungkan dengan kelulusan siswa ada tren UN nilainya menurun," sampainya.

Hal ini dikarenakan  tidak ada kepentingan sekolah sehingga nilai UN menjadi hasil yang objektif pada kualitas pendidikan yang apa adanya. Bahkan untuk kualitas pendidikan dihubungkan dengan UN atau tidak tergantung pada sekolah yang harus menjamin kualitas pendidikan bukan sekedar lolos tapi harus punya nilai yang bagus juga harus sejujur mungkin karena kita tidak ada kepentingan untuk membantu. "Tapi dengan nilai rendah ini merupakan tanggung jawab dari sekolah untuk memberikan pendidikan yang berkualitas, harus ada perbaikan artinya,’’ jelasnya. (aba)