Para Ortu dan Guru, Simak nih Penjelasan Pakar Pendidikan Weilan Han

Minggu, 27 Oktober 2019 - 10:33:05 - Dibaca: 510 kali

Google Plus Stumbleupon


Weilin Han, praktisi pendidikan anak. Foto: Mesya/JPNN.com
Weilin Han, praktisi pendidikan anak. Foto: Mesya/JPNN.com / Jambi Ekspres Online

JAKARTA - Praktisi Pendidikan Anak Weilin Han menilai ada yang salah dalam proses pembelajaran di sekolah maupun di rumah. Siswa dipaksa untuk mendapatkan nilai akademis tinggi tanpa melihat kekuatan lain (non akademis) yang ada dalam anak.


"Saya melihat ada yang salah dalam proses pembelajaran anak-anak. Orang tua hanya mengeluhkan kekurangan anak misalnya kamu kok enggak pintar ya. Di sekolah, gurunya bilang, kamu kok enggak semangat belajar ya. Itu tandanya orang tua dan guru hanya fokus pada study. Padahal harusnya fokus pada learning. Artinya apa yang harus dilakukan ortu dan guru untuk bisa memecahkan masalah anak tersebut," tutur Weilin dalam bincang edukasi bertema “Nurturing Entrepreneurship Learning with Academic Excellence for 4.0 Generation” di Sekolah Citra Kasih Don Bosco, Jakarta Selatan, Sabtu (26/10).

Di era teknologi, lanjut Weilin, anak-anak makin menggandrungi teknologi salah satunya games. Anak-anak bisa menghabiskan waktu seharian bermain games hingga lupa belajar. Orang tua pun sewot dan mencoba menjauhkan anak dari teknologi.



"Ini salah. Teknologi itu bukan musuh. Kita tidak bisa lepas dari teknologi. Kita juga tidak bisa terus membuat anak memusuhi teknologi atau pun menjauhkan dari games. Buktinya di Asian Games ada e-sports. Itu jelas menggunakan teknologi," ujarnya.

Yang harusnya dilakukan, kata Weilin, bagaimana kita menggunakan teknologi apakah bentuk games atau lainnya menjadi sarana untuk learning.

Artinya guru-guru itu harus mengubah konsep pembelajarannya menjadi sesuatu yang menarik. Misalnya dalam bentuk games apakah berbasis teknologi (gawai) atau yang tanpa teknologi.


"Ingat yang ingin kita bentuk adalah learning-nya bukan study. Kalau anak-anak sudah suka games ya mereka bisa lupa waktu. Berarti tantangan guru adalah bagaimana menciptakan vlog, podcast atau apapun yang berbasis teknologi yang membuat orang-orang mau belajar. Jadi bukan teknologi yang disalahkan tapi learning-nya yang dibawa ke teknologi," tegasnya.

Dia menambahkan, anak-anak harus diberikan ruang, kesetaraan, banyak dialog daripada memberikan content. Ekosistem pembelajaran harus diubah. Orang tua dan guru harus ada petisi untuk mendorong anak tenang.
Misalnya ujian harian, ujian tengah semester, dan penilaian akhir semester itu lebih untuk melihat si anak berdaya lenting atau tidak. "Bukan nilai tinggi atau rendah yang dilihat. Katakan pada anak, itu tidak menentukan atau membunuh hidupmu, tetapi yang dilihat apa potensimu. Guru harus mengetahui kekuatan masing-masing anak dan mendorongnya," ucapnya.
Pada kesempatan sama Boedi Tjusila, Executive Director Sekolah Citra Kasih mengatakan, keterlibatan ortu sangat penting dalam pembelajaran (learning). Banyak ortu yang tidak peduli dengan hal-hal sederhana. Mereka menyerahkan semuanya ke sekolah.

"Misalnya kami berikan materi kepada siswa problem solving. Ini diambil alih ortu karena dinilai hasil kerja anaknya tidak bagus. Padahal ini tidak baik. Sekolah tidak menilai hasil anak bagus atau tidak. Yang dinilai adalah inovasi dari anak-anak. Ortu itu mentor dan pendidikan utama ada di keluarga, ini yang sering dilupakan," tandasnya. (esy/jpnn)

sumber: www.jpnn.com