Makanya Sri Mulyani Dicintai Dunia Internasional, karena Suka Utang

Senin, 28 Oktober 2019 - 12:03:40 - Dibaca: 454 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA – Rencana Menteri Keuangan Sri Mulyani yang akan mengutang mendapat respon keras dari berbagai pihak.

Utang itu dilakukan lantaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 mengalami defisit sementara kebutuhan negara membengkak.

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai apa yang dilakukan Sri Mulyani kali ini sama saja dengan periode sebelumnya.

“Enggak ada yang baru ya. Ya mau gimana lagi, lah enggak ada uangnya, ya ngutang paling gampang,” katanya kepada RMOL, Minggu (27/10/2019).

Founder Lembaga Survei Kedai Kopi ini juga melontarkan sindiran kepada Sri Mulyani yang memiliki ‘hobi’ utang.

“Sri Mulyani makin dicintai dunia internasional yang memberikan utang, sebab ikut memberi andil kepada pendapatan pemberi utang,” sindirnya

Sementara, Sekjen PPP Arsul Sani menyarankan agar pemerintah mencari solusi lain ketimbang bergantung pada utang luar negeri.

“PPP meminta Menkeu kembangkan konsep-konesep pembiayaan pembangunan yang tidak berbasis utang luar negeri (offshore loans),” saran Arsul.

Wakil Ketua MPR RI ini juga meminta Sri Mulyani memikirkan bagaimana mengoptimalkan potensi dalam negeri untuk menutup defisit.

“Yang perlu dibuka kajiannya adalah tentang potensi pembiayaan dari dalam negeri,” jelasnya.

Sebelumnya, Sri Mulyani memberi lampu hijau penerbitan surat utang berdenominasi valuta asing (valas) atau global bond yang ditawarkan ke investor asing.

Sri beralasan, penerbitan global bond karena mempertimbangkan kondisi tingkat bunga acuan dunia yang tengah menurun.

Kondisi ini memungkinkan pemerintah bisa menarik utang dengan tingkat bunga yang lebih rendah kepada pemberi utang.

“Secara internasional suku bunga sangat rendah. Jadi ini akan memberikan opportunity pada kita untuk mencari pembiayaan paling baik bagi kita,” ucap Sri Mulyani beberapa waktu yang lalu di Kompleks Istana Kepresidenan.

Rencana utang itu disebabkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Defisit anggaran sebesar Rp199,1 triliun atau 1,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Agustus 2019.

Defisit tersebut berasal dari belanja negara sebesar Rp 2.461,1 triliun, sementara pendapatan hanya sebesar Rp 1.189,3 triliun.

(rmol/ruh/pojoksatu)

Sumber: www.pojoksatu.id