Pentagon Simulasikan Perang AS Vs Tiongkok, Sudah Jelas Siapa Bakal Keok

Minggu, 17 Mei 2020 - 13:40:10 - Dibaca: 1035 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) telah membuat simulasi jika akhirnya berperang dengan Tiongkok. Hasil perhitungan Departemen Pertahanan AS atau Pentagon menyimpulkan Negeri Paman Sam itu akan menanggung banyak kehilangan jika berperang melawan Tiongkok pada 2030.

AS bakal keok jika harus berperang melawan Tiongkok di Pasifik. Pentagon memprediksi Negeri Adidaya itu tak akan mampu mempertahankan Taiwan dan pangkalan militer AS di Guam dari serbuan Tiongkok.


Analisis itu tertuang dalam laporan Pentagon tentang kekuatan militer Tiongkok pada 2020. Laporan itu akan dirilis pada musim panas tahun ini.
Sumber The Times di internal Pentagon mengungkapkan, saat ini berkembang kekhawatiran bahwa AS dalam posisi rentan terhadap ancaman Tiongkok. “Serangan apa pun akan membuat AS ‘menderita kerugian modal’,” ujar sumber itu.

Peringatan itu mengemuka seiring meningkatnya ketegangan antara kedua negara setelah Presiden AS Donald Trump mengecam cara Tiongkok menangani pandemi virus corona. Trump juga berulang kali menuding negeri komunis itu berbohong tentang sejauh mana penanganan virus pemicu pandemi global tersebut.

Sumber-sumber The Times mengatakan bahwa Pentagon mendasarkan simulasinya pada perkiraan tentang kekuatan militer Tiongkok sepuluh tahun mendatang. Pada 2030, Tiongkok akan memiliki kapal selam serang baru, kapal induk pembawa pesawat tempur, serta kapal perusak yang bakal menyebabkan AS kewalahan.
Namun, ancaman itu bisa datang lebih cepat ketimbang 2030, karena setiap pangkalan militer AS di wilayah Komando Indo-Pasifik riskan terhadap serangan Tiongkok. Kini Tiongkok telah meningkatkan persediaan rudal balistik jarak menengah.

AS memiliki tiga pangkalan militer di Pulau Guam. Pertama adalah Pangkalan Angkatan Laut (Naval Base).

Kedua adalah Pangkalan Angkatan Udara di Yigo. Satu lagi adalah pangkalan gabungan bernama Naval Forces Marianas.
Ketiga pangkalan AS di pulau yang terletak di Micronesia itu pun masuk dalam jangkauan rudal Tiongkok. “Tiongkok memiliki misil balistik jarak jauh anti-kapal dan rudal hipersonik,” ujar salah satu sumber The Times di Pentagon.

Salah satu sumber The Times mengungkapkan bahwa Komandan Wilayah Indo-Pasifik Angkatan Laut AS Admiral Philip Davidson telah mewanti-wanti Pentagon soal ancaman Tiongkok. Pentagon pun telah mengubah pendekatan dalam melakukan persiapan.


Saat ini fokus Pentagon adalah mengembangkan lebih banyak senjata hipersonik, menambah rudal jarak jauh, dan mengirim ground-launched cruise missiles (GLCM) ke wilayah Asia Pasifik, serta mempersenjatai unit marinir di sepanjang Laut Tiongkok dengan misil anti-kapal.

“Mark Esper (Menteri Pertahanan AS, red) secara agresif membangun kapabilitas yang kami butuhkan untuk mencegah Tiongkok melakukan konfrontasi besar,” ujar sumber tersebut.

Sementara analis dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, Bonnie Glaser menyebut Taiwan merupakan isu paling volatil antara AS dan Tiongkok. Ketegangan antara kedua negara akibat isu Taiwan dikhawatirkan mengakibatkan perang nuklir.

Partai Komunis yang berkuasa di Tiongkok mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya. Presiden Tiongkok Xi Jinping juga menyatakan secara jelas bahwa dia menginginkan kembalinya Taiwan ke dalam prinsip Satu China pada 2050.

Tiongkok telah meningkatklan aktivitas militernya di Laut China Selatan dan Timur. Tak sekadar meningkatkan aktivitas militer, Tiongkok juga membangun pulau buatan dan mendirikan pos-pos di perairan yang masih disengketakan negara lain.
Sementara AS memperkuat kehadiran militernya di Laut China Selatan dan Timur, sekaligus memprovokasi Tiongkok. AS meningkatkan hubungannya dengan Taiwan melalui penjualan senjata ke negeri yang beribu kota di Taipei itu.

Taiwan pun makin terjebak ke dalam perseteruan antara dua negara dengan kekuatan militer kakap itu. “Setiap simulasi yang dilakukan untuk melihat ancaman Tiongkok pada 2030 berakhir dengan kekalahan AS,” ujar Glaser.

Menurut Glaser, pada masa lalu AS terlalu pasif menghadapi ancaman Tiongkok yang terus meningkat. “Di Pentagon, Kementerian Luar Negeri dan Gedung Putih, sekarang Tingkok dilihat sebagai ancaman terbesar,” katanya.(Mail/ara/jpnn)

sumber: www.jpnn.com