Oleh: Ria Mayang Sari, S.H., M.H (Anggota DPD-RI Dapil Provinsi Jambi)

NEW NORMAL (SEBUAH IKHTIAR SULIT DI TENGAH KONDISI YANG SULIT)

Jumat, 29 Mei 2020 - 15:36:10 - Dibaca: 706 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Sudah hampir 4 (empat) bulan masyarakat Indonesia berjuang menghadapi Covid-19.
Berbagai strategi telah dilakukan oleh Pemerintah, salah satunya penetapan status keadaan
tertentu darurat bencana wabah penyakit akibat Virus Corona (Covid-19) di Indonesia dan
diikuti dengan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah
yang telah memenuhi kriteria sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan
serta kebijakan pembatasan kegiatan lainnya dalam rangka penanganan Covid-19.
PSBB intinya adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah
yang diduga terinfeksi Covid-19 sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran
Covid-19. Kegiatan apa yang dibatasi? dilihat dari bentuknya, cukup banyak kegiatan yang
dibatasi, mulai dari kegiatan belajar mengajar, kegiatan keagamaan, kegiatan sosial budaya,
pembatasan moda transportasi, pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, bahkan
aktivitas bekerja dan perekonomian ikut dibatasi dengan batasan tertentu.
Pemberlakukan PSBB dan berbagai kebijakan dalam rangka penanganan Covid-19
berdampak sangat besar terhadap kehidupan masyarakat. Tentu saja, pemberlakukan
berbagai kebijakan tersebut menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Tak sedikit
masyarakat yang sangat mendukung kebijakan tersebut, umumnya kelompok masyarakat ini
memiliki sumber pendapatan yang tidak terlalu dipengaruh signifikan oleh dampak Covid-19
atau memiliki kemampuan ekonomi yang kuat atau paling tidak memadai. Namun, tak kalah
banyak pula yang mengeluhkan atau ingin segera PSBB diakhiri, masyarakat yang demikian
pada umumnya karena keterbatasan ekonomi atau masyarakat bekerja harian, bekerja hari ini
untuk memenuhi kebutuhan hari ini. Beraktivitas hingga bekerja di rumah ternyata berimplikasi
negatif terhadap sektor-sektor penggerak roda perekonomian. Perekonomian mulai
terguncang, sehingga membuat sejumlah negara mulai melonggarkan kebijakan terkait
mobilitas warganya, kendati virus Covid-19 masih terus mengancam.
Akhir-akhir ini, pro kontra di atas sudah mulai melunak, mungkin kita semua mulai
berpikir sampai berapa lama “terus berdiam di rumah” seperti saat ini. 2 bulan, 4 bulan atau
mungkin 6 bulan. wallahu a'lam tak ada yang tau pasti kapan kondisi ini dapat diatasi. Sebagian
ahli menyampaikan kemungkinan vaksin ditemukan pada tahun 2021. 3 bulan ini saja rasanya
sudah sangat berat berdiam di rumah bagaimana satu tahun ke depan. Kira-kira seperti itulah
pemikiran yang terus mondar-mandir benak kita saat ini. Akumulasinya, tanpa disadari kita
ingin pemerintah memikirkan strategi lain yang dianggap paling tepat dan realistis untuk
menghadapi Covid-19 dengan mempertimbangkan dampak ekonomi bagi kehidupan
masyarakat dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan kesehatan masyarakat.
Pada akhir Mei 2020, Pemerintah memperkenalkan istilah atau konsep “new normal”
yang dianggap sebagai strategi terbaik di tengah kondisi yang semakin sulit menghadapi
Covid-19. Pilihan new normal bisa jadi pilihan terbaik di tengah dilema untuk melanjutkan atau
menghentikan PSBB. Pertanyaannya apakah penerapan new normal adalah yang terbaik?
Saya sendiri berpandangan sangat tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Waktulah
yang akan membuktikan tepat tidaknya pilihan itu. Tetapi secara pribadi, saya mendukung
kebijakan new normal ini dengan beberapa pertimbangan dan catatan.
Pertimbangannya antara lain: pertama, hingga saat ini belum ada prediksi atau
perkiraan yang dapat meyakinkan kita sampai kapan Covid-19 berakhir, sementara
pembatasan aktivitas berskala besar yang telah kita lalui selama kurang lebih 3 bulan ini sudah
sangat dirasakan dampak negatifnya terutama pada perekonomian. Bahkan, diprediksi akan
berdampak munculnya gelombang PHK besar-besaran. Jika tetap pada kondisi yang demikian,
maka ancaman yang akan datang tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga di bidang sosial dan
ekonomi bahkan berpotensi mengancam keamanan masyarakat, bangsa dan negara. Kedua,
negara, seperti halnya masyarakat yang memiliki batas kemampuan ekonomi, tentu juga

menghadapi kondisi yang serupa. Hal ini menyadarkan kita sampai berapa lama negara
memiliki kemampuan untuk membiayai kebutuhan masyarakatnya? terlebih serangan covid-
19 juga berpengaruh besar terhadap pendapatan negara dan daerah, yang pasti setiap negara,
begitu pula Indonesia pasti memiliki batas kemampuan tersebut. Itu berarti, kita tidak
selamanya dapat mengandalkan bantuan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Jadi persoalannya, bukan soal mau atau tidak mau membiayai atau memberikan bantuan,
tetapi masalahnya adalah keterbatasan kemampuan yang kita miliki. Ketiga, di banyak negara,
pilihan new normal dianggap yang paling tepat dan realistis untuk mencapai titik
keseimbangan antara menjaga kesehatan dan mempertahankan kemampuan perekonomian.
Bagaimana dengan catatannya? Catatan yang saya maksud adalah hal-hal yang harus
dilakukan sebagai ikhtiar yang dilakukan untuk mengupayakan new normal berhasil sesuai
yang diharapkan. Pertama, pemberlakukan new normal dilakukan dengan didasarkan pada
data dan pertimbangan yang rasional. Kebijakan new normal tidak boleh diambil secara asal
suka tetapi harus didasarkan data dan pertimbangan ilmiah yang memadai, terutama pada
aspek penurunan reproduction rate (RO) atau daya tular virus yang aman. Kedua, harus
dilakukan sosialisasi new normal secara efektif. Sengaja yang garis bawahi kata “secara
efektif”, mengapa? Karena dalam praktik, hampir setiap kebijakan yang akan atau telah diambil
selalu disosialisasikan, tetapi selalu saja kita mendengar banyak yang melanggar karena
ketidaktahuan atau ketidakpahaman. Jangan sampai kebijakan New normal dilanggar karena
persoalan ketidaktahuan atau ketidakpahaman masyarakat. Oleh karenanya, Saya sangat
berharap pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota bahkan pemerintah desa hingga rukun
warga atau rukun tetangga harus mengambil langkah sosialisasi yang efektif. Sosialisasi yang
memastikan masyarakat mengetahui apa, kapan dan bagaimana kebijakan new normal
dijalankan. Ketiga, membangun sistem pengawasan yang terencana dan ketat untuk
memastikan seluruh pihak yang bertanggungjawab atas suatu kegiatan menerapkan protokol
kesehatan. Pusat aktivitas kerja (perusahaan dan kantor), pusat aktivitas ekonomi (pasar dan
mall) dan semua kegiatan pada sektor yang sudah diperbolehkan beroperasi, jika tidak
menerapkan protokol sebagaimana mestinya diberikan sanksi yang tegas dan tak pandang
bulu. Efektivitas pelaksanaan new normal tidak boleh hanya digantungkan kepada kesadaran
semata, tetapi harus diikuti dengan tindakan tegas bagi pelanggarannya. Siapapun yang
melanggar harus dihukum. Keempat, penerapan new normal sebaiknya tidak diperlakukan
pukul rata untuk setiap sektor kegiatan, terutama pendidikan, khususnya pendidikan untuk
anak-anak kita. New normal pada sektor ini sebaiknya memperhatikan karakteristik anak-anak
yang masih suka bermain bersama teman-temannya, sehingga sulit untuk menerapkan social
distancing, terlebih lagi tingkat kesadaran dan pemahamannya yang belum begitu matang.
Sekiranya, pendidikan daring dengan memaksimalkan dukungan orang tua adalah solusi yang
terbaik yang dapat dipertimbangkan untuk sektor pendidikan bagi anak-anak kita di tengah
kondisi saat ini. Konsep atau pengertian new normal pada sektor pendidikan sebaiknya
dimaknai secara berbeda dari sektor lainnya. Kelima, kebijakan new normal harus diikuti
dengan sistem evaluasi yang berkesinambungan untuk terus menjaga agar kebijakan new
normal dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan, menghindari kegagalan atau dampak
yang lebih berbahaya jika tidak diberlakukan new normal.
Sebagai penutup, secara sadar kita harus meyakini bahwa pilihan kebijakan new
normal adalah ikhtiar yang dilakukan di tengah kondisi yang semakin sulit dan himpitan
keterbatasan yang kita miliki bersama, baik sebagai individu, masyarakat maupun bangsa.
Sebagai sebuah ikhtiar, kita semua sudah seharusnya kita menjalani kehidupan new normal
dengan sungguh-sungguh, disiplin dan bertanggungjawab. Jika enggan mematuhi new
normal karena merasa tidak takut terhadap ancaman Covid-19, lakukanlah demi orang-orang
anda sayangi. Ingatlah mereka ingin sehat dan berbahagia bersama anda. Orang yang kita
sayangi juga punya hak atas kehidupan anda. Kepada pemerintah, kami berharap ambillah langkah terbaik, kebijakan yang dihasilkan akan berdampak pada ratusan juta hidup masyarakat.(*)