Banjir Kota Sungai Penuh, Salahnya Dimana?

Sabtu, 06 Juni 2020 - 10:03:31 - Dibaca: 3256 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Oleh : MUSDIYANTO MUKHTI, ST. MT

Banjir lagi, lagi banjir, Kota Sungai Penuh dan beberapa wilayah lainnya di Kabupaten kerinci, belakangan mulai sering mendapat kiriman berita banjir, maksudnya kiriman luapan air. Jika intensitas hujan tinggi, bisa dipastikan beberapa area langganan akan tergenang. Bicara soal sumber banjir, kita perlu melihat dulu dua sungai yang membelah Kota Sungai Penuh, yaitu Sungai Batang Merao dan Sungai Bungkal. Dua sungai utama ini alirannya bermuara ke Danau Kerinci. Tentu banjir tak serta merta menjadi kesalahan dua sungai ini, buruknya kondisi drainase kota yang tidak mampu menampung aliran permukaan, menjadi penyebab mengapa banyak air yang "terjebak" di permukiman penduduk dan jalan raya.

Lantas, bisakah musibah ini berakhir? Jika melihat secara teknis, tentu saja bisa. Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Pertama, melakukan kolaborasi dengan Pemprov Jambi, didukung oleh pemerintah pusat. Ini penting mengingat Sungai Batang Merao adalah sungai yang melintasi dua kab/kota dan merupakan anak sungai yang tergabung pada WS Batanghari.

Langkah kedua, pemerintah setempat harus segera melakukan pengelolaan Sumber Daya Air yang komprehensif dan terintegrasi (terpadu) dari hulu sampai ke hilir. Pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan dengan memperhatikan konsep dasar yaitu Konservasi Sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, partispasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dan pengolaan dengan berbasis sistem informasi. Dalam implementasi nya, dapat diambil langkah-langkah strategis agar pengelolaan SDA bisa tepat sasaran dan menjadi solusi untuk mengatasi dampak, salah satu nya dampak banjir yang sering terjadi ini.

Langkah ketiga, penyusunan program-program kegiatan yang tersistem (sistemik) dengan baik dan fokus, mulai dari Survey, Investigation, Design, Land Acquisition, Construction, Operation and Maintenance (SIDLACOM), dan juga memastikan agar semua infrastruktur yang dibangun bisa berfungsi dengan baik dan memberikan outcome yang diharapkan. Sebagai contoh bisa dilihat dari sistem pengendalian banjir. Pengendalian tidak hanya ditekankan di bagian badan sungai, namun juga harus menyangkut pengendalian air limpasan dan laju erosi di Daerah Aliran Sungai, pengendalian debit di masing-masing anak sungai dan sungai utama, serta pengendalian di bagian hilir sungai, hingga muara.

Untuk mencegah resiko banjir di Kota Sungai Penuh, maka perlu dilakukan Langkah Keempat selanjutnya untuk mengurangi atau mereduksi debit yang masuk ke Sungai Bungkal dan Sungai Batang Merao, yaitu : upaya fisik dan upaya non fisik. Upaya fisik untuk bagian hulu dapat dibangun konstruksi yang mendukung upaya konservasi dan menahan dan mereduksi debit banjir, antara lain dengan membangun Bendungan, embung, checkdam, dll. Pada bagian tengah dapat dilakukan upaya membangun kolam-kolam retensi untuk menangkap sementara limpasan air sungai. Semakin banyak kolam retensi maka akan semakin banyak pula debit banjir yang tertahan. Sedangkan pada bagian hilir sungai dapat dilakukan upaya fisik normalisasi sungai, perbaikan alur sungai, memperbaiki daerah2 sungai yang menghambat aliran.

Sedangkan untuk upaya non fisik nya dapat dilakukan memperkecil aliran permukaan air hujan (run off) dan memperbesar air hujan yang masuk ke tanah (infiltrasi) dengan menata kawasan hulu dan daerah tangkapan hujan (Catchment area), al: penghijauan dan mencegah penebangan hutan, menetapkan kawasan hutan konservasi atau hutan lindung mengatur RTRW kota dengan berbasis sumber daya air.

Tentu saja, semua langkah tersebut tidak akan berjalan sesuai rencana, jika tidak ada partisipasi masyarakat. Masyarakat perlu berpartisipasi dalam mencegah banjir ini, seperti tidak membuang sampah ke sungai/drainase, membuat biopori pada halaman rumah, budaya membangun rumah menghadap ke sungai walaupun biasanya kita membangun rumah membelakangi sungai, menghijaukan sempadan sungai.

Perlu adanya mitigasi dengan bantuan masyarakat setempat, ketika banjir tidak sepenuhnya dapat dihindari, masyarakat dapat melakukan upaya untuk mengurangi kemungkinan terjadinya banjir dan dampaknya dengan cara-cara berikut: (1) Membersihkan sungai dan atau selokan dari sampah dan endapan lumpur untuk memperlancar aliran sungai.(2) Tidak membuang sampah sembarangan. Cara yang efektif untuk memudahkan membuang sampah adalah menyediakan tempat sampah dengan pengelolaan yang baik. Disini peran pemerintah desa dan kecamatan sangatlah penting.(3) Membuat drainase yang baik dengan membuat tanggul penampung air, sistem sumur resapan yang terhubung dengan sistem drainase. (4) Memindahkan bangunan atau konstruksi yang berada pada jalur banjir sehingga tidak menghambat aliran air agar tidak mampet atau tergenang. (5) Melakukan penghijauan pada area kosong yang dapat berfungsi sebagai hutan buatan. (6) Membuat tempat penyerapan air. Tampat penyerapan air ini dapat berupa sumur-sumur resapan atau area dengan lubang biopori. (7) Melakukan koordinasi dengan wilayah sekitar untuk merencanakan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam menanggulangi banjir.

Jika semua telah menjalankan peran, siapa yang akan bisa mengelak berprosesnya sebuah solusi?

(Penulis adalah Putra Asli Sungai Penuh. Saat ini bekerja sebagai Kepala SNVT PJPA, Balai Wilayah Sungai Sulawesi II)