70 Ha Sawah di Desa Kunangan Terancam Gagal Panen, Irigasi Ditimbun Pembangunan Stockpile Batubara

Selasa, 14 Juli 2020 - 18:42:38 - Dibaca: 491 kali

Google Plus Stumbleupon


TOLAK JUAL TANAH : Petani Desa Kunangan menolak tindakan penimbunan irigasi yang dilakukan perusahaan batu bara di desa mereka dan menolak menjual sawah mereka ke perusahaan demi ketahanan pangan desa.
TOLAK JUAL TANAH : Petani Desa Kunangan menolak tindakan penimbunan irigasi yang dilakukan perusahaan batu bara di desa mereka dan menolak menjual sawah mereka ke perusahaan demi ketahanan pangan desa. / Jambi Ekspres Online

JAMBI – Sekitar 70 Hektar sawah di Desa Kunangan Kecamatan Taman Rajo Kabupaten Muaro Jambi kini sedang menghadapi masalah yang sangat serius. Sejak bulan lalu, irigasi yang menjadi sumber pengairan di desa ini telah ditimbun. Petani setempat mengatakan, penimbunan dilakukan oleh salah satu perusahaan batubara yang akan membangun stockpile batubara di atas lahan sawah seluas 4 Hektar yang telah dibeli oleh perusahaan tersebut.

Ketua Gapoktan, Uun Suheli mengatakan, jika dibiarkan stockpile terbangun, bisa dipastikan tanaman petani akan terganggu, belum lagi polusi yang ditumbulkan yang berdampak pada udara, tanah dan air di sekitar desa. Paling ditakutkan jika akhirnya nanti, saat lahan petani tak lagi produktif, lahan bisa dengan leluasa dibeli pengusaha dengan harga murah.

Saat ini di Desa Kunangan terdapat 70 Ha sawah yang ditanam satu kali setiap tahun, ada 219 petani yang menggantungkan nasib, mengelola sawah, baik sebagai pemilik sawah ataupun hanya sebagai petani penggarap. Pengembangan produk Beras local cap ‘Kunangan’ dan kerupuk ‘Kemplang Sengarat’juga telah dikembangkan. “Kami juga memiliki Gapoktan Bina Tani yang seluruh anggotanya aktif bersawah, Telah terbentuk pula Kelompok Wanita Tani yang anggotanya juga aktif bersawah juga memanfaatkan areal lain untuk menanam holtikultura,” tambah Uun.

Sementara itu Kades Kunangan, M. Fauzi mengatakan, kehadiran sawah di desa mereka sangat menopang pangan warganya, terbukti saat gagal panen tahun lalu, stok beras masih cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai dengan sekarang. “Rata-rata produksi gabah mencapai 5 ton/Ha/tahun. Hasil beras dari 1 Hektar sawah dapat memenuhi kebutuhan konsumsi 4-6 keluarga warga Desa Kunangan untuk 1 bahkan 2 tahun,” jelas M Fauzi.

Saat ini sebagian besar sawah ataupun lahan kebun yang ada di Desa Kunangan memang telah beralih kepemilikan kepada pengusaha. Sebelumnya luas sawah di Desa Kunangan mencapai 120 Hektar, akan tetapi 50 Hektar sawah telah beralih fungsi dan berpindah tangan ke pengusaha. Banyak warga yang telah menjual tanahnya karena tidak ada pilihan ketika mereka membutuhkan dana ataupun karena termakan bujuk rayu. “Oleh karena itu, kami berharap jangan ada lagi warga yang menjual sawahnyo ke pengusaha. Kito harus samo-samo menjaga kelestarian sawah kito, coba lihat Sakean, Talang Duku dan Desa-desa lainnyo semuo sawah lah berganti kelapo sawit, jangan sampai karena stockpile batubara ini, sawah kito jugo bernasib samo” harapannya.
Melalui hasil musyawarah yang digelar kemarin di Desa Kunangan, para petani berharap agar Perusahaan membatalkan izin pembangunan stockpile batubara di areal sawah Desa Kunangan. Mengembalikan fungsi irigasi yang telah ditimbun oleh pihak perusahaan dan melakukan normalisasi irigasi untuk manfaat yang lebih optimal bagi kegiatan pertanian sawah. Segera bentuk Peraturan Daerah Perlindungan Lahan Pangan Berkelanjutan. Dukung pemerintah desa untuk membentuk Peraturan Desa tentang perlindungan sawah. Hasil musyawarah akan dikirimkan ke pemerintah terkait seperti : Dinas Pertanian Tanaman Pangan, BLHD, Dinas PU, PTSP, Dinas ESDM, DPRD baik kabupaten Muaro Jambi ataupun Provinsi Jambi. “Jangan lah sampai ado bangun tempat batubara, pasir atau lainnyo, kareno itu nanti pasti akan mengangu saluran irigasi, sementaro sawah kito ini sangat bergantung samo irigasi, macam sekarang ini, kemaren kito belum selesai naman air lah kering, tibo sekarang hujan beberapa hari padi teggelam ”. tambah Shahril, salah satu petanu yang ikut dalam musyawarah kemarin.

Sementara itu, Baya, Direktur Yayasan Setara Jambi menambahkan, sawah seluas 70 Ha di Desa Kunangan ini sebenarnya juga telah dipetakan melalui program Redistribusi oleh BPN bersama Setara Jambi beberapa waktu lalu. “Yang mensyaratkan bahwa sawah yang telah dipetakan tidak dapat diperjual belikan ataupun dialihfungsikan,” ujar Baya. Di lahan ini juga telah banyak sarana dan prasarana yang telah dibangun untuk mendukung kegiatan pertanian sawah baik dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Pekerjaan Umum, baik menggunakan dana APBN, APBD dan Dana Desa. “Desa Kunangan juga telah ditetapkan sebagai Kampung Reforma Agraria oleh BPN Muaro Jambi. Ada 1.267 penduduk desa yang merasakan dampak kehadiran sawah ini,” lanjut Baya. (dpc/*)