2 Pakar Prediksi Ekonomi Indonesia Pasti Bangkit di Kuartal III, Ini Alasannya

Jumat, 07 Agustus 2020 - 06:44:38 - Dibaca: 630 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia anjlok minus 5,32 persen pada kuartal II 2020.


Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi Indonesia diyakini akan membaik dan bangkit usai resesi ekonomi saat ini.

Demikian disampaikan pengamat ekonomi Universitas Airlangga Surabaya Gigih Prihantono dalam keterangan tertulisnya, Kamis (6/8/2020).


Kuncinya adalah, penyerapan stimulus yang cepat sehingga bisa membuat Indonesia keluar dari ekonomi yang berat ini.


Dengan penyerapan stimulus tersebut, kata Gigih, sekaligus memicu pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional yang minus 5,32 persen adalah hal yang wajar dan bukan sesuatu yang buruk.

“Kalau kita bicara pertumbuhan ekonomi nasional minus 5,32 persen itu masih baik,” ujarnya.

Hal ini sudah bisa diprediksi sebelumnya karena keadaan pandemik Covid-19 yang menyebabkan perekonomian menurun.

“Kenapa saya bilang baik, karena nilai ekspor Indonesia masih baik di angka 12,3 miliar dolar AS,” sambungnya.


Gigih juga menjelaskan, meski pertumbuhan Indonesia minus, tapi tidak ada inflasi.

Sebab, pemerintah langsung bergerak cepat memberikan berbagai bantuan sosial yang membuat daya beli masyarakat tetap terjaga.

Gigih pun optimis di kuartal selanjutnya, pertumbuhan ekonomi akan tumbuh positif sekitar satu sampai dua persen.


Akan tetapi, sambungnya, hal itu tergantung dari pergerakan pemerintah dalam penyerapan stimulus ekonomi kepada pengusaha.

Utamanya stimulus kepada pengusaha mikro (UMKM) yang akan menghidupkan perekonomian masyarakat.


“Oleh karena itu, pemberian kredit harus dilakukan dengan cepat dan tidak boleh dipersulit,” jelasnya.


Pendapat senada dengan Gigih, juga diungkap pakar ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU) Syafrizal Helmy.

Helmy menilai, ketepatan dan kecepatan bansos dan stimulus ekonomi menjadi kunci pemulihan ekonomi nasional.

Akan tetapi, ingat dia, pemerintah tidak boleh berpikir ke sektor ekonominya saja.

“tapi bagaimana bisa memproduksi vaksin agar masyarakat terbebas dari ancaman Covid-19,” katanya.

Perekonomian nasional yang tumbuh minus di tengah pandemik bukan sesuatu yang buruk.


Menurutnya, ada yang menjadi indikator bahwa perekonomian Indonesia masih dipercaya pasar.

Salah satu indikasinya adalah masih stabilnya IHSG.

“Artinya pasar masih percaya kepada perekonomian kita dan mereka juga percaya akan bangkit ekonomi Indonesia secara keseluruhan,” paparnya.

Ditambahkan peneliti INDEF Berli Martawardaya, dia menyarankan pemerintah tidak berpikir untuk sesegera mungkin mengembalikan pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, yang perlu dilakukan saat ini adalah memberikan perlindungan sosial bagi masyarakat dan menjamin kesehatan mereka.


Artinya, memberikan bantuan yang tepat sasaran dan menjamin kesehatan masyarakat yang paling penting.

“Karena jangan sampai perekonomian naik tapi jumlah orang yang terpapar Covid-19 makin tinggi,”


“Kalau begitu nantinya akan turun lagi perekonomian kita,” pungkasnya.


(rmol/ruh/pojoksatu)

sumber: www.pojoksatu.id