Pilpres 2024, Jimly Asshiddiqie Takar Peluang Prabowo, Ahok, Anies, dan Puan

Selasa, 11 Agustus 2020 - 08:18:38 - Dibaca: 2763 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA - Anggota DPD RI Prof Jimly Asshiddiqie blak-blakan saat ditanya penilaiannya terhadap sejumlah tokoh yang disebut-sebut punya peluang maju sebagai capres di Pilpres 2024.

Para tokoh politik itu mulai Prabowo Subianto yang kini menjadi Menteri Pertahanan RI sekaligus ketum Partai Gerindra, Puan Maharani, Anies Baswedan, hingga Basuki T Purnama alias Ahok.

 


"Ya sudah berapa kali dia nyalon, empat kali? Ya kan. Kalau dia nyalon lagi, lima kali, bisa saja kan. Allah punya ketentuan. Bisa saja," ucap Prof Jimly saat disodorkan nama Prabowo.

Berikutnya, ada nama Puan Maharani, elite PDI Perjuangan yang kini menjadi ketua DPR RI. Sebelumnya dia juga menduduki posisi menteri koordinator di periode pertama pemerintahan Presiden Jokowi.

"Puan Maharani, lah kurang apa dia. Sudah jadi menko, sudah jadi ketua DPR. Kalau empat tahun lagi sudah lebih dari matang," kata Prof Jimly. Apalagi, lanjut mantan ketua DKPP ini, Puan memiliki partai terbesar dan punya trah. Namun Prof Jimly menyebut ada tantangan lain yang harus dihadapi cucu Bung Karno itu, yakni soal pemilih.

"Cuma enggak tahu, pemilih kita ini terlalu maskulin. Memang susahnya lagi, perempuan cenderung tidak memilih perempuan. Sukanya laki-laki, susah gitu lho," lanjutnya.

Bagaimana dengan Anies Baswedan yang kini menjadi gubernur DKI Jakarta? "Dia juga orang bagus. Mudah-mudahan nanti, selesai gubernur kapan? 2022, apakah dia mau nyalon lagi apa ndak? Itu dilema buat dia. Kalau tidak nyalon lagi, nanti dia tidak punya panggung," jelas tokoh asal Palembang ini.

Terakhir, ada Ahok, mantan gubernur DKI Jakarta yang kini jadi komisaris utama di PT Pertamina (Persero). Dalam pandangan Jimly, sosok mantan bupati Belitung Timur itu diperlukan.


"Nah. Ahok, cara bekerjanya memang bagus. Orang butuh orang kerja kayak dia itu. Cuma kan, kecenderungan politik itu di samping melihat kinerja, akseptabilitas itu penting. Jadi, kapabilitas oke, tapi akseptabilitas, itu jadi problem bagi dia," tandas mantan ketua pertama MK itu.

Sekadar catatan, Prabowo ikut konvensi capres dari Partai Golkar, jelang Pilpres 2004. Namun gagal, yang terpilih sebagai capres Golkar saat itu adalah Wiranto. Pada Pilpres 2009, Prabowo menjadi cawapres, berpasangan dengan capres Megawati Soekarnoputri.

 

Prabowo menjadi capres di Pilpres 2014, berpasangan dengan Hatta Radjasa. Pada Pilpres 2019, Prabowo maju lagi sebagai capres, menggandeng Sandiaga Uno sebagai cawapres. (jpnn/fajar)

Sumber: www.jpnn.com