MENGAGAS MODEL PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM PADA PENDIDIKAN JARAK JAUH (PJJ) KURIKULUM DARURAT MADRASAH DI ERA TATANAN NORMAL BARU

Jumat, 14 Agustus 2020 - 11:21:19 - Dibaca: 2396 kali

Google Plus Stumbleupon


S.Ratih Uswatun Khasanah,S.Si
S.Ratih Uswatun Khasanah,S.Si / Jambi Ekspres Online

 Oleh : S.Ratih Uswatun Khasanah,S.Si

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 menyatakan bahwa:

“Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.”

Pasal 31 ayat (1):

“Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.”

Pasal 31 ayat (2):

“Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler.”

Pasal 31 ayat (3):

“Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.”

 

 

Tahun ajaran baru 2020/2021 telah dimulai sejak 13 Juli 2020, namun kegiatan belajar-mengajar (KBM) di hampir seluruh sekolah/madrasah dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) belum juga dimulai secara tatap muka. Setelah putra/i kita melaksanakan pendidikan jarak jauh (PJJ) melalui program belajar dari rumah (BDR) tahap ke-1 sejak Maret-Mei 2020, PJJ kembali diterapkan untuk tahap ke-2 pada awal tahun ajaran baru. Hal ini dikarenakan penularan Corona Virus Disease (Covid-19) dalam data dan angka belum juga mencapai nol persen.

Hasil evaluasi penyelenggaraan PJJ tahap ke-1 oleh Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama mengenai kesiapan dan kendala madrasah dalam PJJ  yang dilaksanakan bulan April 2020 menunjukkan bahwa sebesar 48,5 % guru madrasah memberikan materi melalui chat, 31 % melalui google clasroom, dan sisanya memberikan tugas menggunakan google form, dan aplikasi lain (Pendis, 2020). Dari hasil survei ini tergambar bahwa di awal PJJ masing-masing satuan pendidikan masih meraba-mencari formula terbaiknya untuk diterapkan.

Memasuki tahun ajaran baru 2020/2021, sebagai bentuk layanan pendidikan,  pemerintah telah mengumumkan Keputusan Bersama 4 menteri (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Luar Negeri) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) pertanggal 15 Juni 2020. Kementerian agama melalui Keputusan Dirjen Pendis No.2791 tahun 2020 pun telah mengatur tentang Panduan Kurikulum Darurat pada Madrasah.

 

MENGENAL LEBIH DEKAT KURIKULUM DARURAT

Kurikulum darurat adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan yang disusun dan dilaksanakan oleh satuan pendidikan pada masa darurat dengan memperhatikan rambu-rambu ketentuan yang berlaku serta kondisi keterbatasan masing-masing satuan pendidikan di masa darurat.

Dalam Panduan Kurikulum Darurat Madrasah halaman 17 dinyatakan bahwa “meski dalam kondisi darurat seluruh peserta didik tetap harus mendapatkan layanan pendidikan dan pembelajaran. Pola pembelajaran dalam kurikulum darurat boleh dengan belajar dari rumah (BDR) jika tatap muka tidak memungkinkan untuk dilasanakan. BDR tidak harus memenuhi tuntutan kompetensi (KI-KD) pada kurikulum, tetapi lebih ditekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia, ubudiyah, kemandirian dan kesalehan sosial lainnya.”

Pada kurikulum darurat materi-materi yang diajarkan merupakan materi esensial, dan jumlah mata pelajaran yang diajarkan dalam satu hari boleh 2 atau 3 mata pelajaran saja.

 

PEMBELAJARAN DALAM JARINGAN

Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dalam kondisi pandemi ini dilaksanakan dalam jaringan (daring). Dunia teknologi pendidikan kita mengenal dua jenis pembelajaran daring, yaitu synchronous learning dan asynchronous learning.

Menurut pakar pembelajaran digital Stefan Hrastinski (2008), synchronous learning adalah pembelajaran reguler tatap muka secara daring real-time. Praktiknya dapat dilakukan menggunakan aplikasi teleconference seperti microsoft teams meet, google meet, webex, streamyard, zoom, jitsi, live chat, dll.

Sedangkan asynchronous learning merupakan pembelajaran daring yang tidak memerlukan interaksi langsung antara guru-peserta didik. Guru membagikan materi, tugas, serta evaluasi di suatu kelas digital (seperti e-learning madrasah, microsoft teams, google classroom, moodle, edmodo, sekolah.mu, quipper school, schoology, dll) dalam format buku elektronik, PPT, video, dll. Peserta didik belajar dengan cara membaca atau menonton secara mandiri dan tidak real-time.

PJJ yang diterapkan untuk para peserta didik kita hendaknya dapat mengadopsi kedua jenis pembelajaran daring di atas. Dalam teori belajar, hal tersebut dikenal sebagai model pembelajaran flipped classroom.

 

MODEL PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM

Flipped classroom dalam bahasa Indonesia berarti ruang kelas/pembelajaran terbalik. Model pembelajaran flipped classroom adalah pembelajaran yang mengkombinasikan antara pembelajaran di dalam kelas dengan pembelajaran di luar kelas dengan tujuan untuk memaksimalkan kegiatan pembelajaran. Aktivitas belajar yang biasanya dilakukan di kelas menjadi dilakukan di rumah. Sebaliknya, aktivitas belajar yang biasanya dilakukan di rumah menjadi dilakukan di kelas. (www.kajianpustaka.com)

Dalam konteks PJJ, guru sebagai fasilitator mengemas materi pembelajaran dalam bentuk digital berupa buku elektronik, PPT, maupun video untuk dipelajari siswa di rumah sehingga siswa sudah lebih siap belajar di kelas (baik digital maupun klasikal). Saat memasuki kelas, para peserta didik didampingi oleh guru siap memulai diskusi, bertukar pengetahuan, bahkan menyelesaikan tugas serta memecahkan masalah bersama-sama.

Model ini pertama kali dikenalkan oleh J. Wesley Baker pada tahun 2000, dalam tulisannya berjudul The classroom flip: using web course management tools to become the guide by the side. Pada tahun yang sama, Lage, Platt dan Treglia juga melakukan penelitian dengan menggunakan istilah yang hampir sama yaitu inverted classroom. (www.kajianpustaka.com)

Hasil kajian tentang Digitalisasi Pembelajaran yang Berkualitas dan Inklusif dari Pusat Penelitian Kebijakan Balitbang Kemendikbud (2019) menunjukkan 67,5% guru menyepakati bahwa model flipped classroom dalam pembelajaran dinilai lebih efektif dibandingkan dengan metode belajar tatap muka satu arah yang biasa terjadi di dalam kelas. Aktivitas belajar di luar madrasah mendorong pembelajaran dapat dilakukan dengan didasarkan pada pemahaman tentang kondisi dan kebutuhan para peserta didik yang sesungguhnya (Rakhmah,2020).

Penggunaan model flipped classroom pada PJJ daring kita selama diberlakukannya kurikulum darurat diharapkan mampu mengoptimalkan pencapaian target pemerataan pengajaran dan pendidikan di madrasah pada masa pandemi Covid-19 ini. insyaAllah. Aamiin. (Pendidik di MAN 1 Siak)