Negative Pressure

Selasa, 25 Agustus 2020 - 06:40:27 - Dibaca: 388 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Selasa 25 Agustus 2020

Oleh: Dahlan Iskan

INI untuk pertama kali saya ke rumah sakit di masa pandemi Covid-19. Bukan untuk berobat tapi hanya ingin tahu: seperti apa rumah sakit lapangan itu.

Itulah rumah sakit lapangan yang didedikasikan untuk membantu penanganan Covid-19 di Jakarta.

Kebetulan kemarin itu saya ada acara di dekat-dekat Ancol, Jakarta. Saya juga ingin tahu sudah seperti apa Menara Jakarta. Yakni sebuah proyek baru di Kemayoran. Yang awalnya diinginkan menjadi Menara Doa tertinggi di dunia. Yang idenya datang dari pendeta Abraham Alex Tanuseputra yang meninggal belum lama ini.

Ternyata rumah sakit lapangan itu letaknya di depan rumah pengusaha Tomy Winata. Yakni di sebuah tanah lapang di Ancol –yang juga milik bos Artha Graha itu.

Saya pun mampir ke rumah TW –sarapan di situ. Ini bukan untuk kali pertama saya ke rumahnya. Tapi baru kali ini kami makan berjauhan: di sebuah meja bundar yang besar. Meja itu bisa untuk 15 orang tapi hanya diisi empat orang. Kami memang harus menjaga jarak.

“Jangan dekat-dekat saya,” ujar TW. “Saya ini ODP,” guraunya.

Sebenarnya TW tidak bergurau. Ia hampir tiap hari dekat dengan penderita Covid-19. Ia harus sering ke rumah sakit lapangan itu.

RS itu sudah dikelola dengan prosedur Covid yang ketat. Tapi semua yang ke RSLap itu adalah orang yang positif Covid-19.

Kami pun bicara banyak soal rumah sakit itu. Ada ketela rebus, jagung rebus, pisang rebus dan cakue di atas meja bundar itu. Lalu ada bubur dengan irisan abalon.

“Sebetulnya rumah sakit itu awalnya tidak untuk Covid-19,” ujar TW sambil makan. “Kami membelinya untuk persiapan kalau ada bencana alam,” tambahnya. “Gak disangka ternyata ada bencana Covid-19,” tambahnya.

Lewat Artha Graha Peduli, TW memang selalu aktif di setiap terjadi bencana di mana pun di negeri ini. Hidup di negara yang begitu sering terkena bencana, AGP harus punya rumah sakit lapangan. Saya sendiri pernah ikut Presiden SBY meninjau rumah sakit seperti itu di Australia. Maka saya sedikit ada rasa ingin membandingkannya.

Dari rumah TW kami pun tinggal jalan kaki ke RSLap itu. Benar-benar hanya sepelemparan batu.

Sebelum masuk tanah lapang itu kami ‘ditembak’ termometer. Ok. 36,4. Lalu harus melewati bilik disinfektan. Tidak boleh hanya lewat. Kami harus memutar badan di dalamnya.

Terdapat tanah lapang lebar di antara bilik disinfektan itu dengan rumah sakit tenda itu. Di tanah lapang itulah pasien antre. Cara antrenya tidak berdiri. Mereka harus duduk di kursi plastik tanpa sandaran. Jarang kursi plastik itu sekitar 3 meter.

Di pintu masuk RSLap kami harus melewati bak air. Alas sepatu kami harus terkena cairan disinfektan di bak itu.

Setelah itu barulah kami masuk ke dalam tenda. Wow. Besar dan tinggi. Mirip aula sebuah ballroom. Di dalam tenda itulah terlihat banyak tenda-tenda yang lebih kecil.

Jumlah tenda kecil di dalam tenda besar itu 12 buah. Masing-masing menjadi ruang-ruang pemeriksaan atau perawatan.

Di setiap tenda kecil itu bisa diisi 10 tempat tidur pasien. Tapi tidak semua tenda untuk tempat tidur.


Tenda pertama untuk pemeriksaan swab. Delapan pasien bisa dikerjakan sekaligus. Peralatannya lengkap. Hanya lab-nya yang tidak ada di situ. Sampai saat ini sudah hampir 3.000 orang yang diswab di sini.

Tenda sebelahnya untuk pemeriksaan paru-paru. Lengkap dengan peralatan rontgen-nya. Lalu ada tenda yang fungsinya untuk ruang operasi. Benar-benar ruang operasi dengan segala perlengkapannya.

Empat tenda lainnya adalah untuk ICU. Benar-benar ICU untuk Covid-19. Lengkap dengan ventilator invasif. Dan dengan ruang negative pressure pula.

Itu untuk kali pertama saya melihat ruang negative pressure di sebuah rumah sakit tenda. Jumlah ruang seperti itu ada empat buah pula. Ruang-ruang itu ber-AC yang dingin.

Sambil makan kami pun berbincang soal vaksin Covid-19 merk Sinovac. Yang mulai November nanti sudah masuk Indonesia. Yang tiap bulan 10 juta unit. Yang akan mencapai 50 juta di bulan Maret tahun depan.

“Harus segera dijelaskan untuk siapa yang 10 juta pertama itu. Agar tidak terjadi spekulasi di masyarakat,” ujar TW.

Saya punya pendapat sendiri. Seperti yang sudah saya tulis di DI’s Way dua hari lalu. Tapi saya ingin tahu pendapat TW itu. Sekaligus bisa untuk bahan pembicaraan sambil sarapan.

“Baiknya 10 juta pertama itu untuk seluruh dokter, perawat, dan tenaga medis. Termasuk untuk cleaning service yang bekerja di rumah sakit,” ujar TW. “Lalu untuk relawan, polisi dan tentara yang terkait dengan Covid,” tambahnya.

Ia pun menghitung-hitung berapa jumlah kelompok prioritas ini. “Cukup dengan 10 juta unit pertama itu,” katanya.

Baru tahap berikutnya adalah kelompok umur 20 sampai 50 tahun. Itu pun untuk mereka yang bekerja di sektor-sektor ekonomi yang produktif. “Yang umur-umur seperti saya harus mengalah,” ujarnya.

Tentu orang seperti TW tidak perlu mengalah. Ia bisa membeli sendiri –mahal sekali pun.

Lewat tulisan ini saya harus minta maaf kepada dokter dan perawat. Saya tidak sepeka itu. Saya langsung mengarah ke sektor ekonomi. Saya terlalu terperanjat oleh target pemerintah. Yakni bahwa pertumbuhan ekonomi harus 5,5 persen tahun depan.

Lewat DI’s Way hari ini saya harus meralat tulisan saya dua hari lalu itu. Saya merasa tertegur oleh pendapat TW itu.

Pembicaraan di meja bundar itu pun meluas ke Tambling, proyek pelestarian alam yang ditanganinya di Lampung. Yang sekarang sudah menjadi habitat harimau terpadat di dunia. Juga ke pulau miliknya yang di lepas pantai Jakarta. Yang dulu untuk pusat rehabilitasi narkoba. Juga ke soal kesehatan bank-bank nasional. Ke soal apa saja. Termasuk membicarakan masa lalu. Yakni ketika suatu saat tiba-tiba ia mengajak saya ke Bangkok: ia ingin sembahyang di ‘Buddha Empat Wajah’ di sana.

Saya hanya satu hari di Jakarta. Harus balik lagi ke Surabaya –dengan mobil yang sama. Kini jalur Jakarta-Surabaya pp sangat populer. Bagi saya juga ringan-ringan saja. Toh setiap kali ke Amerika saya lebih sering naik mobil. Ke kota mana pun. Berjarak 6.000 km sekali pun. Sedang Surabaya-Jakarta ini hanya kurang dari 700 Km.

Ternyata saya sudah enam bulan tidak ke Jakarta. Bisa Anda bayangkan betapa berdebunya rumah saya di Jakarta.(*)