Madrasah Bentengi Perilaku Hedonis Remaja

Sabtu, 29 Agustus 2020 - 08:42:05 - Dibaca: 770 kali

Google Plus Stumbleupon


Jauhari, S.Pd.I MM
Jauhari, S.Pd.I MM / Jambi Ekspres Online

Oleh : Jauhari, S.Pd.I MM

DI masa pandemi Covid-19 ini, Indonesia dihadapkan dengan perubahan yang signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan. Aspek kehidupan meliputi informasi, teknologi, komunikasi, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pariwisata. Sejalan dengan hal itu, salah satu paham yang hingga kini semakin berkembang di kalangan generasi muda Indonesia adalah paham hedonisme. Secara historis, hedonisme menurut Ensiklopedia dalam Daniel (2012) sudah muncul sejak awal sejarah ilmu filsafat oleh seorang tokoh filsuf Yunani yang menyatakan bahwa semuanya hanya mencapai kesenangan. Paham hedonisme telah menjadikan generasi muda berperilaku hedonis, dimana perilaku tersebut menitikberatkan pada kebahagiaan dan kesenangan dunia sehingga mengesampingkan hingga melupakan perannya dalam keluarga, masyarakat maupun negara. Perilaku hedonis sama tingkatannya dengan perilaku hubbud dunya (cinta dunia) yang merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Hadid: 20 yaitu:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda-gurauan, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan diakhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”.
Ayat tersebut menyatakan jelas mengenai akibat yang akan didapat jika manusia hubbud dunya atau berperilaku hedonis.
Perilaku hedonis dikhawatirkan akan berdampak pada generasi bangsa khususnya remaja. Perilaku hedonis juga didukung dengan semakin tinggi laju perkembangan IPTEK hingga laju pembangunan infrastruktur di Indonesia yang semakin memfasilitasi remaja berperilaku hedonis. Perilaku hedonis ini tidak bisa dibiarkan terus berkembang. Perlu ada usaha yang dilakukan remaja untuk mencegah berkembangnya perilaku hedonis. Salah satu cara untuk mencegah perilaku hedonis diperlukan pendidikan karakter, keagamaan, dan intelektual serta usaha pengaplikasiannya oleh para remaja. Berdasarkan UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu pada Pasal 13 Ayat 1 tertulis bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, informal, dan nonformal. Dalam Pasal 14 dinyatakan bahwa jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Selanjutnya Pasal 26 dijelaskan bahwa pendidikan nonformal diselengggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Sedangkan pada Pasal 27 dijelaskan bahwa pendidikan informal merupakan kegiatan pendidikan yang dilakukan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar mandiri.
Pendidikan bagi remaja dalam pelaksanaannya seharusnya memperhatikan dan menyeimbangkan ketiga jalur pendidikan. Pendidikan formal dianggap secara bersamaan dapat mengembangkan potensi akademik, nonakademik, keagamaan, dan karakter. Jam pendidikan sekolah yaitu kurang lebih 8 jam perhari membuat remaja lebih banyak menghabiskan waktu pada pendidikan informal, yaitu di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam pendidikan informal peran orang tua sangat diperlukan untuk mendidik, mengarahkan, mengontrol, serta mengawasi semua kegiatan remaja. Namun kenyataanya, masih ada peran orang tua yang belum optimal dalam mendidik anak khususnya remaja. Kurang optimalnya pendidikan remaja dalam keluarga dan masyarakat bisa membuat remaja merasa lebih bebas mengerjakan apa yang mereka kehendaki, sehingga dikhawatirkan remaja bisa berperilaku hedonis.
Saat ini, salah satu cara untuk mencegah, mengendalikan, bahkan menghilangkan perilaku hedonis di kalangan remaja adalah dengan mengenyam pendidikan di madrasah. Madrasah atau sekolah berbasis agama bukan hanya mengharuskan remaja mengeyam pendidikan akademik, namun, sekolah berbasis agama bertujuan untuk mencapai pendidikan yang utuh dengan menerapkan program pendidikan yang komperensif holistik mencakup keagamaan, pengembangan akademik, life skills (soft skill dan hard skills), wawasan kebangsaan, dan global. Madrasah juga sebagai konsekuensi dari kenyataan bahwa umumnya sekolah umum lebih terkonsentrasi pada akademik sehingga mengesampingkan aspek pendidikan lain. Aturan-aturan dan kegiatan pada sekolah berbasis agama yang mendukung dalam meningkatkan akademik, nonakademik, keagamaan, serta karakter bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah perilaku hedonis remaja.”Madrasah Hebat Bermartabat”. (Pendidik MI. Jamiatul Jariyah Prt 8 Tembilahan Hulu)